3 - Rahasia

Aku pernah kepikiran, ada dua jenis rahasia: yang ingin kamu simpan rapat-rapat, dan yang bahkan kamu sendiri nggak berani melepaskannya. – Ally Carter

Akhirnya mereka semua bergerak ke meja dan mencari tempat duduk. Helen memperhatikan, tanpa sadar semuanya seperti otomatis berpasang-pasangan. Dean mengambil tempat di antara JD dan Cooper. Pria yang lebih tua itu menatapnya dengan campuran rindu dan sedih; Dean menoleh dan memberinya senyum kecil, senyum yang seperti bilang, aku paham.

Helen meraih ponselnya dan cepat-cepat mengirim pesan ke JD.

Semua baik-baik aja antara kamu sama Dean?

Tak ada bunyi notifikasi. Helen mengira ponsel JD disenyapkan. JD sempat menunduk menatap pangkuannya, lalu ia tersenyum ke ibunya. Tak lama, pesan balasan masuk.

Dean ngingetin Coop sama seseorang yang pernah dia sayang dan udah pergi.

Helen mengangkat pandang dari layar, mengusap satu air mata yang keburu menggenang, lalu memberi putranya anggukan kecil disertai senyum.

Pelayan datang mengambil pesanan minuman. Setelah diskusi singkat, mereka juga memesan beberapa makanan pembuka.

“Gimana caranya kalian bisa balik lagi ke sini kira-kira seminggu setengah buat upacara pengesahan itu?” tanya Jaxon pada JD dan Cooper.

Cooper tertawa. “Orang-orang pada mikir militer itu kerja dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu. Padahal ya sama aja kayak kerja biasa. Ada shift, ada libur, bahkan bisa tukeran jadwal.”

“Hanya aja urusannya lebih banyak berkas,” JD nyengir, membuat Cooper mendesah.

“Banyak banget berkas,” Cooper mengiyakan. “Tiga rangkap.”

Dua sahabat itu tertawa, Reese ikut nyengir.

“Masih tiga rangkap?” tanya Reese, veteran Angkatan Laut itu.

“Minimal,” jawab Coop. “Cuma sekarang semuanya komputer. Isi sekali, habis itu tinggal kirim ke orang-orang dan bagian yang tepat.”

“Aku dulu masih zaman harus pakai tinta hitam, pakai kertas karbon, tebelnya tiga sampai empat lembar. Dan jangan pernah kepikiran nulis apa pun di atas karbon,” Reese terkekeh. “Nggak kehitung berapa kali kita kena semprot gara-gara ada yang nggak ngecek, ternyata ada apa di bawah kertasnya.”

Dua anggota Angkatan Laut yang lebih muda itu ikut cekikikan.

“Chief sempat cerita soal waktu kalian ditempatkan di Jerman,” celetuk salah satu.

Reese tertawa, dan mata Dean langsung membesar.

“Sst.” Pamannya memperingatkan. Dean buru-buru menoleh lalu menenggelamkan wajah ke dada suaminya. Neo memeluknya, dan mereka berdua terguncang menahan tawa.

“Ini kayaknya sesuatu yang nggak perlu aku tahu,” gumam Helen, dan keempat orang itu serempak mengangguk setuju.

Pelayan mendekat, mulai meletakkan makanan pembuka di meja. Jamur isi termasuk favorit Bunny dan Bunny yang ngotot minta dipesan. Tapi begitu piring itu ada di depannya, Bunny langsung mendorongnya menjauh.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Jaxon sambil mengambil piring itu dari depan Bunny.

“Ada yang salah sama jamurnya?” tanya pelayan itu, sambil menurunkan mozzarella stick di sisi meja.

Wajah Bunny perlahan berubah pucat kehijauan, jelas berusaha keras menahan makan siangnya agar tetap di tempat. Jaxon meneruskan piring jamur itu ke bawah meja, lalu mengusap punggung Bunny dengan gerakan kecil melingkar, lembut.

“Baunya…” akhirnya Bunny berhasil mengucapkannya, sebelum berdiri cepat dan bergegas ke kamar mandi.

“Itu nggak butuh waktu lama,” kata Helen pada putra sulungnya. “Sana, susul.”

Jaxon mengangguk dan mengikuti pasangannya ke kamar mandi yang berada dekat bagian tengah bangunan terapung itu.

“Nggak butuh waktu lama buat apa?” tanya JD.

Dean menyikut rusuknya. JD menggosok sisi tubuhnya, menatap istrinya dengan bingung. “Apaan?”

“Cowok memang nggak pernah peka,” Cheryl geleng-geleng kepala tak percaya sambil menatap sepupunya yang lebih muda.

“Jelas,” Dean menimpali datar.

“Aku paham,” kata Neo. “Dan aku juga paham, kalau mereka belum bilang apa-apa, berarti mereka belum yakin, atau memang belum mau kita tahu.”

“Yang mana pun, kita nggak perlu ngomongin mereka,” Reese menegaskan.

Helen menggigil pelan, merasakan merinding turun sepanjang punggungnya. “Siap, Pak.”

Reese mengumpat lirih, lalu mengangkat dagu Helen pelan dan mengecupnya ringan. “Nanti ya, Kitten.”

“Kalau mau godain ibu gue, bisa nggak jangan di depan gue?” JD menggoda.

“Itu bukan godain kalau dia setuju,” Cooper menunjuk, dan mendapat tatapan tajam mematikan dari JD. Cooper mengangkat bahu sambil tersenyum. “Maaf ya—nggak, deng.”

Dean menahan tawanya, lalu meremas pelan paha mereka berdua di bawah meja. “Yang tertib, kalian berdua.”

Menggenggam tangan Dean di tangannya, Cooper menatap perempuan yang berdiri di antara dirinya dan sahabatnya. Pandangannya sempat mengabur sesaat, lalu ia mengangkat tangan yang gemetar, menyentuh pipi Dean, kemudian rambutnya.

Dean tidak mirip Tabby-nya sama sekali; tak ada satu pun ciri fisik yang bisa dibilang serupa di antara keduanya.

Tapi bukan itu yang membuat Cooper teringat pada mendiang istrinya. Yang menariknya adalah jiwa dan sikapnya—sesuatu yang dulu selalu dimiliki Tabby, dan kini ia lihat lagi di Dean.

Tabby berambut merah menyala dengan gelombang kecil, kulit zaitun muda, dan mata hijau zamrud. Menjelang akhir hidupnya, Tabby suka memakai wig warna-warni yang liar—sanggul sarang lebah biru ala Marge Simpson, rambut ungu Ursula, hijau-hitam ala Billie Eilish, sampai wig-wig dramatis seperti ratu drag. Tabby dimakamkan dengan wig Merida, karena Cooper pernah bilang Tabby itu pemberani.

Sekarang, memandangi perempuan di depannya—rambut pirang gelap kusam, kulit pucat, mata biru terang—Cooper melihat semangat yang sama. Kreativitas yang sama. Keinginan berpetualang yang sama.

Ia tak sanggup menahan diri. Telapak tangannya menangkup pipi Dean. Dean tersenyum padanya, seolah mengerti.

Gerakan di belakang Dean menarik perhatian Cooper. Ia menoleh pada sahabatnya—suami Dean.

“Maaf.” Cooper berkata pelan, lalu berdiri dan menjauh, melangkah menuju pintu yang mengarah ke teras.

“Aku—”

“Jangan.” Dean menggeleng pada suaminya, memotong ucapan itu. “Biar aku yang ngomong sama dia.” Ia memberi senyum sedih. “Aku ngerti beratnya tanggal-tanggal kayak gini.”

Helen membalasnya dengan senyum dan anggukan kecil. Dean berdiri, meletakkan serbet di atas meja, lalu meraih dua gelas minuman mereka untuk dibawa keluar mengejar pria yang lebih tua itu. Baru dua langkah, Dean menoleh kembali dan mencium suaminya.

“Mau yang biasa?” tanya JD, sambil menggesekkan buku jarinya pelan di paha Dean, tepat di bawah ujung celana pendeknya.

“Mau. Kalau dia…?” Dean melirik ke arah luar.

JD terkekeh. “Selama bukan keluar dari pouch plastik yang masih tersegel, dia pasti senang apa pun yang kupesanin buat dia.”

Dean mengangguk, lalu mencium JD lagi. “One, four, three.”

“Aku juga cinta kamu.”

JD menatap Dean berjalan pergi, menikmati ayunan pinggulnya, lekuk bokongnya di denim ketat, dan pantulan dadanya tiap kali melangkah. Saat Dean menoleh dan menyenggol pintu dengan pinggulnya, pandangan mereka bertemu. Dean tersenyum tepat sebelum tubuhnya menghilang di balik pilar luar. JD berbalik ke meja dan berusaha merapikan diri diam-diam.

Reese memandangnya dengan alis terangkat. JD mengangkat bahu sambil menyeringai nakal pada ayah tirinya.

“Gimana anak kucingmu?”

“Ibumu baik-baik aja, dasar brengsek kecil.” Reese menyeringai balik pada anak tiri bungsunya. “Temenmu nggak apa-apa?”

Wajah JD mengeras. Ia mengangguk. “Iya. Dia cuma… kehilangan.” JD mengembuskan napas panjang. “Itu bukan ceritaku. Maaf…”

Cheryl mengulurkan tangan melintasi meja dan menggenggam tangan JD. “Jangan pernah minta maaf karena jaga kepercayaan orang. Itu nunjukin banyak soal kamu dan karakter kamu.”

JD membalas genggamannya, menekan pelan. “Makasih, Kak…”

Cheryl tersenyum dan mengangguk. “Kapan aja, bubs.”

“Apa yang barusan kita lewatkan?” Jaxon bertanya begitu ia dan Bunny kembali ke meja.

“Jaxon,” Helen menegur lembut.

“Maaf, Bu. Tapi kalau aku balik dan lihat istri kakakku di luar bareng temennya, satu-satunya pertanyaan yang pantas ya: apa yang barusan kita lewatkan?”

Meja itu hampir serempak menoleh ke jendela besar. Di luar, Dean berdiri dalam pelukan Cooper. Wajah Cooper tertanam di leher Dean, sementara Dean mengusap punggungnya naik-turun dengan gerakan lembut. Tubuh Cooper bergetar menahan berat duka, dan JD menelan keras saat melihatnya.

“Sayangnya,” JD akhirnya berkata lirih, “dia paham apa yang lagi dia rasain. Dean juga pernah nguburin keluarganya. Bedanya… dia punya kita waktu itu.”

Bunny meletakkan tangan di bahu JD dan meremasnya pelan. “Cuma… kaget aja lihatnya.”

Cheryl meremas tangan JD sekali lagi sebelum melepaskannya dan bersandar di kursinya, mengabaikan ayahnya. “Nggak lebih kaget dari kenyataan kalau kalian bertiga udah nungguin satu lagi.”

Jaxon dan Bunny sama-sama merona saat duduk. Bunny paham apa yang sedang Cheryl lakukan—mengalihkan perhatian—dan ia menerimanya tanpa protes, demi menjauhkan sorotan dari JD dan pasangan di luar sana.

“Kita juga nggak nyangka bakal secepat ini,” aku Jaxon.

“Kalian sudah siap pesan?” tanya pelayan dari ujung meja. “Atau perlu tunggu dulu?”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya