Prolog - Bagian II
“Aaaaah!” aku menjerit, nyeri tajam di dada menghantam begitu keras sampai kakiku lemas. Aku jatuh ke tanah dan spontan menarik lutut ke dada. Sakitnya jauh lebih parah daripada semua luka lecet di lutut waktu aku main sama Josh dulu.
Aku mulai menangis, kedua telapak tanganku menekan dada yang berdetak tak karuan. Aku bisa merasakan beban kutukan itu menindihku, makin lama makin berat.
“IAN!!” Vi berjongkok di sampingku. Air matanya jatuh ke pipiku saat dia berusaha memelukku. “Ian! Aku minta maaf… aku minta maaf!”
Mataku mencari si penyihir jahat. Tidak seperti tadi—senyum puas dan kejam itu—kini dahinya berkerut, wajahnya terlihat bingung. “Tunggu… kamu itu seorang… Alpha—” Seolah baru sadar, matanya membelalak, dan untuk pertama kalinya dia tampak ketakutan setengah mati.
Aku tak sanggup membentaknya bahwa jelas aku Alpha, karena rasa sakit itu sudah terlanjur membesar, menggulung seperti ombak.
“Cabut mantranya! Tolong, Bu Penyihir!” Vi memohon, menoleh ke arah penyihir.
“Dan kenapa aku harus mempertimbangkan hal seperti itu?” jawabnya dengan senyum kejam.
“Tolong!” Vi terisak, air matanya tumpah deras. Aku belum pernah melihat dia sedesperate ini. Dia menoleh ke aku. “Kita pasti nemu cara, Ian. Kita bikin sakitnya hilang, kamu pasti baikan!”
“Derita yang dia rasakan itu baru permulaan. Begitu mantra itu dilempar, cuma aku yang punya kuasa untuk membalikkan,” kata penyihir itu. Suaranya terdengar jauh, entah karena rasa sakit di tubuhku makin menjadi.
Aku menggeliat di tanah. Gelombang demi gelombang nyeri menghantam, tanpa jeda. Rasanya seperti setengah jantungku dicungkil pakai pisau tumpul.
“Aku minta maaf, Ian!” Vi menangis, tetap memaksakan diri memelukku sementara aku meronta kesakitan. Tanah menempel di air mata di pipiku. “Aku nggak seharusnya ngambil botol itu! Maaf, Kak! Aku baru bakal dapet serigala aku tiga tahun lagi! Aku cuma… aku cuma pengin nyicipin ramuan cinta, pengin tahu rasanya punya pasangan,” katanya terputus-putus di tiap kata yang dia paksakan keluar. “Aku pengin tahu rasanya punya jodoh takdir kayak Josh, dan sekarang kamu yang kesakitan gara-gara aku! Tolong, Bu Penyihir, cabut kutukannya! Aku janji aku—” Dia menoleh lagi ke penyihir, lalu mendadak berhenti. “Tunggu… dia ke mana?”
Aku menoleh juga. Dengan susah payah aku membuka mata, tapi penyihir itu sudah tidak ada.
Vi berdiri, lalu berlari kencang masuk ke kabin, sementara aku cuma bisa merintih, kedua tangan menekan dadaku.
“Bu Penyihir!” teriak Vi dari dalam. Lalu dia keluar lagi dan berlari balik ke arahku, wajahnya lebih pucat dan ketakutan daripada saat masuk tadi. “Ian… dia hilang,” katanya putus asa, lalu berlutut lagi di sampingku.
Pas aku menekan keningku ke tanah, butiran tanah masuk ke mataku. Ya Dewi… kenapa sakitnya segila ini?
Saat aku memiringkan wajah ke langit, tetes hujan pertama jatuh ke pipiku, bercampur dengan air mata—air mataku dan air mata Vi.
Aku merasakan kehampaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, begitu pekat sampai seluruh tenaga di tubuhku seperti ditarik habis.
Dengan mata berat, pandanganku menggantung ke arah adikku yang menangis. Lalu, tiba-tiba wajah adikku yang putus asa itu menggelap—dan begitu juga semua yang ada di sekelilingku.
Hampir setahun sudah berlalu sejak penyihir jahat itu mengutukku.
Dan sekarang aku berdiri telanjang di bawah bulan purnama, sudah merasakan ada sesuatu yang berubah di dalam tubuhku. Ada yang bergeser, mengeras, memanas—seolah ada bagian diriku yang selama ini tidur, perlahan membuka mata.
Aku akan bertemu serigalaku. Aku bisa merasakannya.
Keluargaku menunggu di hutan di belakangku, kecuali Vi. Semua sudah berubah wujud jadi serigala mereka, dan mereka menanti-nanti kemunculan serigalaku dengan gelisah yang nyaris seperti anak kecil menunggu hadiah.
Bulan memancarkan cahaya terang di langit penuh bintang, dan semakin lama aku menatapnya, semakin kuat tarikan aneh itu—tak bisa dijelaskan, tapi nyata, seperti panggilan dari tempat yang lebih tua daripada darah.
Tolong, Dewi Bulan, jangan biarkan kutukan itu benar-benar mengakar. Berkatilah aku dengan pasangan takdirku!
Aku memohon pada Dewi Selena, dengan mantra yang sama yang sudah berbulan-bulan ini kupanjatkan tiap kali hendak memejamkan mata.
Aku tidak menyesal berdiri di depan Vi hari itu. Dia adik perempuanku. Anak paling kecil di keluarga kami. Aku akan melakukan apa pun untuknya.
Aku tak akan membiarkan dia dikutuk dengan sesuatu yang paling dia dambakan dalam hidupnya, meski itu juga sesuatu yang kuinginkan.
Tapi aku juga tidak menginginkan kutukan ini untuk diriku sendiri. Mama dan Papa sudah berusaha mematahkan kutukan itu sejak hari itu, tetapi mereka tidak menemukan petunjuk apa pun—baik cara memutuskannya maupun di mana penyihir tua itu bersembunyi.
Tiba-tiba, lututku ambruk menyentuh tanah. Tanganku refleks menekan dada, tepat di atas jantung. Aku berhenti menatap bulan purnama dan memejamkan mata, memusatkan diri pada suara yang tiba-tiba menggema di dalam kepalaku.
‘Halo?’ pikirku, mencoba menjangkau suara itu.
Biasanya serigala dalam diri kami tidak banyak bicara—hanya saat perlu. Tugas mereka membimbing kami dengan intuisi yang tajam dan kebijaksanaan yang terasa seperti naluri.
‘Kral.’ Sebuah suara liar, kasar, begitu kebinatangan, menyebut namanya di kepalaku. Mataku langsung terbuka lebar. Detak jantungku memburu.
‘Apa?’ tanyaku, tak paham.
‘Namaku Kral,’ katanya. Nada suaranya penuh amarah.
‘Senang… bertemu denganmu,’ ucapku ragu, padahal momen ini sudah kutunggu seumur hidup. ‘Aku Ethan.’ Lalu aku langsung ke inti, menanyakan satu hal yang benar-benar ingin kutahu. ‘Kral… bisa bilang nggak, apa—’
‘Ya,’ dia memotongku, tajam, marah. ‘Ada yang salah. Kutukan itu sudah bekerja.’
‘Kok kamu tahu?’
‘Aku bisa bicara sama kamu sekarang, tapi aku sudah melihat dan merasakan semua yang pernah kamu lihat dan rasakan,’ jelasnya. ‘Aku juga sempat mengira kutukan itu belum mengikat karena kamu belum bertemu aku—tapi ternyata sudah. Kita dikutuk untuk tidak pernah bertemu pasangan takdir kita! Penyihir sialan!’ gerutunya murka. Dan aku tahu, ini jelas bukan saat yang tepat untuk bilang kalau Mama dan Papa melarangku ngomong kasar. ‘Kupikir setelah kamu memohon Dewi Bulan begitu lama, dia akan mengisi kekosongan di dada kita.’
Kami terdiam beberapa saat, seperti sedang berkabung untuk seseorang yang bahkan belum pernah kami temui.
‘Ayo berubah untuk pertama kali, manusia! Jangan takut. Kita bakal cari cara buat menemukannya!’
Bibirku melengkung, senyum yang muncul begitu saja karena ketegasan dan keyakinan dalam janjinya. Harapan—yang sempat seperti bara hampir padam—tiba-tiba menyala lagi di dadaku.
Sayangnya, kutukan itu tidak terpecahkan tahun itu.
Bukan juga tahun berikutnya. Bukan juga tahun setelahnya.
Kutukan ini terus menghantui aku dan Kral sejak hari itu.
Itu mematahkan hatiku.
Dan sejak saat itu, aku tidak pernah meminta apa pun lagi pada Dewi Selena.
