Bab Enam
Sudut Pandang Gina
“Tapi itu nggak mungkin. Aku nggak mau ambil risiko kamu punya pasangan lagi.” Suaranya dingin. Tangannya mencengkeram pipiku kasar, matanya menggelap—lalu telapak tangannya menghantam rahangku.
Kepala dan rahangku berdenyut nyeri. Ada rasa darah menggenang di lidahku. Air mata langsung tumpah tanpa bisa kutahan.
“Aku pemilikmu. Dan aku nggak bisa mempertaruhkan orang lain jadi kesempatan keduamu, pasanganmu.”
Aku mendongak padanya dengan penglihatan kabur oleh air mata yang terus mengalir.
“Kamu ada yang mau kamu katakan? Kamu menolak pengaturan ini, atau perlu kupanggil algojo?”
Jantungku seperti berhenti. Kata algojo itu membuat jiwaku nyaris copot dari badan.
“Tidak, Alpha,” jawabku, suaraku nyaris tak terdengar. “Aku akan jadi budakmu.”
Ia menyeringai puas, seolah itu tanda dimulainya hidupku sebagai pelayannya.
Hidupku bukan milikku lagi—melainkan miliknya.
“Bagus. Seorang pelayan akan mengantarmu ke kamar tempat kamu harus tinggal.”
“Alpha?” Seorang perempuan mendekat, lalu menundukkan kepala hormat pada Dagen. Tatapan penasarannya jatuh padaku. Pertanyaan-pertanyaan jelas terpampang di matanya, tapi ia tak berani mengucapkannya.
“Diane, siapkan kamar pribadi untuk dia.” Lalu ia menoleh kepadaku. Tatapannya begitu mengintimidasi, begitu menekan, sampai aku refleks memalingkan mata. “Kalau aku bicara, kamu lihat aku.”
Tanpa sadar, mataku kembali terangkat padanya.
“Kamu akan dilayani para pembantu, dan aku akan memanggilmu kapan pun aku butuh. Aku punya beberapa aturan buat kamu. Kalau kamu patuh, tinggal di sini akan... bisa ditoleransi. Cukup nyaman. Cukup layak.”
Suara itu dalam, halus—nyaris terlalu mudah untuk didengarkan sepanjang hari. Bahkan saat kalimat-kalimatnya terdengar kejam dan membeku.
Aku tidak menyela. Aku hanya mendengarkan, seperti serigala kecil yang patuh.
“Pertama,” ia mulai, “kamu cuma bicara kalau kamu ditanya. Kedua, kamu dilarang keluar dari kamarmu tanpa izinku. Ketiga, kamu hanya boleh masuk ke ruang kerjaku kalau dipanggil, dan kamu tidak pernah boleh masuk ke kamarku—tidak pernah. Keempat, kamu juga dilarang keluar dari kastel tanpa izinku. Dan terakhir, jangan cari masalah dengan Nydia. Dia Ratu dan Luna-mu. Kamu melayani dia sama seperti kamu melayaniku. Itu peringatan, Gina.” Ia mendesis, kebenciannya begitu pekat sampai aku meringis.
“Melanggar aturan ini cuma akan memberimu hukuman yang menyiksa,” ia menutup tanpa setitik emosi.
Tanpa ragu, ia membalikkan badan dariku, satu lengannya melingkari pinggang Nydia. Mereka berdua melangkah menuju pintu.
Aku hanya bisa menatap dengan tak percaya saat mereka pergi begitu saja.
Perempuan itu—Diane—melangkah mendekat, bibirnya memaksakan senyum yang kaku. Ia mengantarku menuju sebuah ruangan yang tampaknya akan menjadi kamarku sendiri.
“Akan kusiapkan air hangat untuk mandimu, Nona, setelah itu aku suruh orang mengambilkan makanan. Sementara ini, kalau butuh apa pun, bilang saja, Nona.” Ia tersenyum kecil dan bergegas melewatiku, tapi aku menahannya, menggenggam kedua tangannya.
“Terima kasih. Dan tolong, panggil aku Gina.”
Ia tersenyum. “Baik, Gina.”
Ia masuk ke kamar mandi, dan beberapa menit kemudian keluar. Ia hendak mengatakan sesuatu ketika terdengar ketukan di pintu.
Seorang gadis muda melangkah masuk dengan percaya diri. Ia tampak lebih muda dariku, rambut pirangnya membingkai wajah berbentuk hati itu dengan pas.
“Ah, ini Ruth, dan dia yang akan melayanimu,” Diane memperkenalkan.
Gadis itu tersenyum, menundukkan kepala sebagai bentuk hormat.
Lalu Diane pergi untuk mengambilkan makanan buatku.
Aku ambruk ke kasur dengan kesal, menangkupkan wajah dengan kedua telapak tangan. Setelah itu aku menoleh pada Ruth yang sejak tadi memperhatikanku.
“Apa?” tanyaku. “Kenapa kamu menatapku begitu?”
Ia mengangkat bahu dan tidak menjawab. Lalu ia mengeluarkan buku catatan kecil dan mulai menulis. Setelah selesai, ia membalikkan catatannya ke arahku.
Kamu harus mandi dan ganti baju.
“Kenapa?” tanyaku, kepalaku terasa agak ringan. Meski aku tahu badan ini bau dan bajuku kotor, aku cuma ingin berbaring dan istirahat.
Ia mengangkat bahu lagi, lalu membuka lemari. Ia mengulurkan sebuah gaun, mengangguk ke arahku, kemudian menunjuk kamar mandi, menyuruhku pergi mandi.
“Aku tidak mau ganti baju dan mandi sekarang. Aku butuh istirahat sebentar; bisa biarkan aku begitu dulu, tolong?”
Dengan wajah keras, ia menulis cepat di buku catatannya, lalu memperlihatkannya.
Aku akan melapor pada Alpha. Jangan bikin susah kita berdua.
Aku memutar mata, lalu menerima kain itu. Kenapa dia ketus padaku? Diane baik sekali, dan Ruth juga kelihatan seperti orang baik. Tapi aku tidak mengerti sikapnya.
Ia menulis lagi dan menunjukkan padaku.
Aku akan memberimu privasi. Kalau butuh apa pun, ketuk pintunya.
“Kamu nggak bisa bicara?” tanyaku.
Ia tersenyum sedih dan membuka mulutnya. Aku terpekik begitu melihat lidahnya—terpotong.
“Aku minta maaf,” kataku tulus. Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya, apa Alpha Dagen juga yang melakukan itu padanya.
Ia hanya tersenyum.
Aku mengangguk dan menatapnya pergi. Begitu pintu tertutup, aku buru-buru ke kamar mandi untuk mandi air hangat.
Sudut Pandang Dagen
“Alpha Dagen,” Edvin, Betaku, menyerbu masuk ke kamarku dengan penampilan berantakan, keringat mengalir di kulitnya yang sudah menipu begitu banyak gadis di klanku.
“Apa yang membuatmu datang menghadapku sekacau ini?” Bahkan aku bisa merasakannya—ada sesuatu yang tak bersahabat mengendap di dasar hatiku.
“Para tetua serigala Dewan. Mereka ada di sini,” jawab Edvin tergesa.
“Apa? Untuk apa mereka datang?” tanyaku, menunggu serigalaku, Kane, memberi petunjuk. Namun dia memilih diam, masih kesal dengan cara aku memperlakukan pasangan kami.
