Tergoda dan disesali

Aku membetulkan gaunku dan melangkah keluar dari lift. Baru satu langkah, lututku mendadak lemas—masih gemetar—dan aku hampir jatuh. Sebelum benar-benar terjerembap, pria tampan di dalam lift itu sigap menangkapku.

“Oke, biar aku permudah,” katanya, lalu mengangkatku begitu saja.

Panas menjalar ke wajahku. Aku pasti kelihatan berantakan—keringat, rambut awut-awutan—sementara dia masih saja terlihat keterlaluan tampannya, hanya rambutnya tampak lebih acak, santai, seolah baru saja dirusak jemari.

“Berlebihan!” protesku lirih, cemas orang-orang bakal menatap aneh dan mulai curiga apa yang sebenarnya terjadi di lift.

Dia tertawa kecil sambil menatap mataku. Detik itu mendadak terasa padat, intens, seperti dunia menyempit hanya untuk kami berdua. Jantungku berdebar keras saat dia menggendongku, lengan kuatnya melingkari tubuhku dengan mantap, aman—dan sialnya, tubuhku malah semakin panas, terutama di bagian yang seharusnya tidak bereaksi seperti ini.

“Kalau sekarang aja kamu begini,” dia berujar, nada suaranya penuh percaya diri, nyaris pongah, “nanti setelah kita selesai, kayaknya aku harus anter kamu pulang pakai kursi roda.”

Ucapan itu membuat tenggorokanku tercekat. Pipi aku langsung memerah karena sindiran yang terlalu jelas.

Aku berusaha menyembunyikan reaksiku, memaksakan senyum yang terdengar gugup bahkan di telingaku sendiri.

“Oh ya?” balasku, mencoba mengimbangi. “Berarti kamu harus kerja keras, dong.”

Tawanya kali ini lebih berat, serak, dan entah kenapa terdengar berwibawa.

“Kita lihat aja,” katanya menantang, dan kalimat sederhana itu mengirimkan getar aneh di tulang punggungku. Di kepalaku, bayangan tubuhnya di balik setelan rapi itu terus menyusup, membuat pikiranku kacau.

Saat dia membawaku menuju kamar tidur, hatiku penuh campuran rasa yang saling berbenturan. Aku tertarik pada kepercayaan dirinya, pada caranya yang kasar tapi tegas. Aku tahu aku seharusnya menolak. Aku seharusnya bersama Mr. R—bukan bersama orang asing yang barusan membuatku kehilangan kendali di lift. Tapi bersamaan dengan rasa bersalah itu, ada sisi dalam diriku yang menikmati ritme aneh di antara kami. Apa Mr. R masih menungguku?

Sampai di kamar, dia menurunkanku perlahan ke atas ranjang, seolah aku benda rapuh yang harus dijaga. Tatapannya mengunci mataku, intens sampai aku kesulitan bernapas. Gelombang hasrat menghantamku, bercampur cemas karena sebentar lagi tubuhnya akan menempel lagi padaku—kali ini benar-benar, sampai selesai. Aku merasa rentan, meski dia sudah menyentuhku, sudah menjelajahi tubuhku. Tapi sekarang… sekarang giliranku menjelajahi dia.

“Kamu siap, Sayang?” suaranya rendah, serak, membuat bulu kudukku meremang.

Aku menelan ludah, mencoba menyusun jawaban yang terdengar masuk akal.

“Iya,” bisikku, nyaris tak terdengar. Namun bahkan saat kata itu keluar, ada bagian dari diriku yang masih bertanya: apa aku benar-benar siap?

Aku melepas gaunku. Dia menatapku seolah sedang meleleh, seolah pemandangan itu meruntuhkan pertahanannya sendiri.

Dia menunduk, bibirnya menyapu bibirku dengan lembut, lalu berubah panas—penuh gairah—hingga dadaku terasa sesak oleh keinginan yang terlalu kuat. Sambil terus mendekat, dia mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu: dasi, jas, lalu kemeja.

Begitu kemejanya terbuka dan tubuhnya tersingkap, aku menyadari dia jauh lebih kuat dan lebih indah daripada yang kubayangkan. Aku mengangkat tangan, menyentuh dadanya. Kulitnya hangat di bawah telapak tanganku, dan sentuhan itu membuat napasku tersangkut di tenggorokan.

Bibir hangatmu menempel di bibirku, tanganmu mantap di kulitku—semuanya terasa begitu sulit ditolak.

Dia melepas celananya dan jantungku seakan berhenti. Aku pernah melihat tubuh laki-laki sebelumnya, tapi tidak ada yang seperti laki-laki ini—tegap, kulitnya sawo matang, dan besar… benar-benar besar. Kelakiannya begitu besar sampai-sampai vaginaku berdenyut hanya dengan membayangkan menerimanya; apa aku sanggup menampung semuanya? Aku teringat saat dia menjelajahi tubuhku—gila, ukurannya sampai bergoyang saat dia berjalan; jenis yang bikin aku tersedak kalau kupaksa masuk seluruhnya ke mulut… dan aku justru menantikannya. Dan kalau Tuhan yang menciptakan, pasti ada tempatnya.

Dia sudah keras dan siap. Tatapannya gelap, seperti bayangan yang siap memiliki aku dan mengubahku jadi budaknya. Dia begitu dekat sampai vaginaku seperti bernyanyi, seperti burung yang menunggu menelan dia sepenuhnya.

Tapi kemudian, seperti penyusup yang tak diundang, rasa bersalah merayap masuk ke kepalaku. Bayangan Tuan R—yang mungkin sedang menunggu di kamarnya—muncul di depan mataku, seperti bayang-bayang yang menggantung di atas gairah yang sebentar lagi meledak.

Saat lelaki lift itu mulai menjilat leherku sambil mengusap klitorisku agar aku siap menerima miliknya, pusaran pikiran menyerbu. Aku ingin—lebih dari apa pun—menyerahkan diriku sepenuhnya padanya, menghabiskan sepanjang malam dalam pelukannya yang kuat, tenggelam dalam dunia nikmat dan ekstasi.

Namun rasa bersalah menempel seperti teman yang kejam, memberatkan dadaku seperti jangkar. Bagaimana mungkin aku membiarkan laki-laki lain menunggu, sementara aku menyerahkan diri pada orang asing? Bagaimana mungkin aku sebegitu ceroboh, sebegitu egois? Tuan R sudah menyuruh sopir menjemputku sejak lama—apa dia khawatir?

Sebelum lelaki lift itu sempat menembusku atau mengatakan apa pun,

“NGGAK!!!” teriakku, memotong momen itu. Tanganku gemetar saat aku menjauh. Dia tampak bingung, kaget dengan perubahan mendadakku, tapi sebelum dia sempat bereaksi, aku sudah berlari keluar dari ruangan, kakiku lemas oleh cemas dan penyesalan.

Air mata menggenang di sudut mataku saat aku menjauh, kecewa pada diri sendiri terasa seperti beban yang tak tertanggungkan. Aku ingin menghabiskan malam itu bersama Tuan R, menyerahkan diriku padanya tanpa ragu. Tapi orang asing dari lift ini membuat kewarasanku berantakan.

Aku merasa bodoh, pengecut, karena membiarkan kesempatan itu lepas begitu saja. Tapi di saat yang sama, aku tahu aku tak bisa mengabaikan apa yang kurasakan untuk Tuan R. Dialah yang kuinginkan—meski aku sudah keburu menyesal karena tak menyelesaikan apa yang sempat kumulai di ruangan itu.

Dengan helaan napas berat, aku melangkah semakin jauh, semakin jauh dari kamar itu. Aku rasa dia tidak akan mengerti kenapa aku kabur.

Aku juga tak yakin akan pernah melihat pria tampan itu lagi, jadi seharusnya tak penting. Tapi tetap saja itu tidak mengubah fakta bahwa aku mengecewakan dua laki-laki—dan diriku sendiri.

Tubuhku terasa lemah karena rangsangan yang terlanjur membara tapi tak tuntas. Kakiku masih gemetar, penuh antisipasi akan penetrasi. Aku harus membereskannya nanti saat sampai di rumah.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya