Aku harus melupakan segalanya.

Aku duduk membisu, terkurung di antara empat dinding kamar mandi, tapi riuh di kepalaku lebih memekakkan daripada apa pun. Rasa cinta yang dulu kupeluk erat berubah jadi ngilu yang dalam—lebih kuat daripada sisa-sisa keinginanku untuk berpikir waras. Suara Mama menggema dari balik pintu, memohon-mohon aku mau bicara. Dari lorong, aku dengar Daisy, sahabatku, berteriak-teriak, mencoba menarikku keluar dari gelap yang menelanku. Tapi aku tidak mau dengar. Aku tidak mau ditemukan. Yang kuinginkan cuma satu: dunia membiarkanku sendirian.

Pintu itu akhirnya jebol setelah Mama dan Daisy berlari keluar, lalu memanggil petugas keamanan untuk mendobraknya. Mungkin mereka mengira aku melakukan hal nekat—mengira diamku berarti aku sedang memikirkan untuk mengakhiri semuanya. Tapi saat mereka menemukanku, yang mereka lihat hanya seorang perempuan basah oleh getir, sakit, dan air mata.

Mama langsung menerjang ke arahku, menarikku ke pelukannya. Pelukannya erat, seakan-akan kalau ia melepaskan aku sedetik saja aku akan hancur jadi serpihan. Matanya berkilat, air matanya nyaris jatuh, tapi ia menelannya mentah-mentah, memaksa dirinya kuat demi aku.

Aku bisa merasakan detak jantungnya lewat dadanya saat ia mengayun-ayunkan tubuhku seperti anak kecil. Tapi sesering apa pun ia mencoba menenangkanku, sakit itu tetap ada. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi.

“Terus aku harus gimana sekarang, Ma? Dia segalanya buat aku,” isakku. “Kenapa, sih, laki-laki yang aku cintai nggak pernah cinta balik sama aku?”

Aku butuh jawaban, tapi Mama tidak buru-buru bicara. Ia cuma duduk di sampingku, tangannya mengusap punggungku perlahan naik turun, menunggu badai air mataku agak reda. Setelah jeda panjang, ia akhirnya bersuara, lembut seperti selimut.

“Bukan salah kamu, Sadie, kalau Leo nggak membalas perasaan kamu…”

“Kalau bukan salah aku, salah siapa?” potongku, wajahku lengket oleh air mata.

“Kadang orang memang nggak akan mencintai kamu dengan cara yang sama seperti kamu mencintai mereka,” katanya, tetap tenang. “Dan kadang, orang memang nggak ditakdirkan tinggal di hidup kamu selamanya. Saat mereka pergi, itu bikin kamu lebih kuat, bikin kamu melihat hidup dengan cara yang—”

“Aku benci perubahan itu,” semburku, tidak membiarkannya selesai. Dalam kepalaku, Leo dan aku itu pasangan sempurna—cinta yang bakal selamanya. Dan dia tidak sekadar mematahkan hatiku pelan-pelan. Dia menghancurkannya di depan seluruh dunia.

Aku bertahan di kamar mandi itu, menolak menghadapi siapa pun. Tidak sampai lorong sudah sepi dan aku yakin aku tidak perlu menatap wajah-wajah kasihan orang. Mama dan Daisy menungguku ketika aku akhirnya keluar, memperlakukanku seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Dalam beberapa hal, memang begitu.

Mama malah bersikeras kami foto dulu sebelum pulang. Katanya supaya aku bisa mengingat momen ini—seolah-olah aku butuh bantuan untuk mengingat hari terburuk dalam hidupku. Jadi kami foto, bertiga: aku, Mama, dan Daisy.

Mereka mencoba membuatku tersenyum. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana aku bisa tersenyum saat rasanya jantungku baru saja dicabik-cabik?

Begitulah aku akhirnya—patah hati dan ditinggalkan—sementara Leo melangkah terus tanpa beban seolah tidak terjadi apa-apa. Rasanya seperti adegan film murahan, tapi itu kenyataanku sekarang.

Rintangan berikutnya adalah rasa kasihan semua orang. Di lingkungan kecilku, orang-orang kenal Leo—tampangnya enak dilihat, pembawaannya manis. Kalau dia datang berkunjung, dia selalu ramah dan senyum-senyum, dan orang-orang menganggap kami pasangan yang sempurna. Tapi besoknya, semua orang sudah dengar kabar putus itu. Beberapa bahkan melihatnya terjadi di siaran langsung televisi, saat Leo berdiri di panggung dan mempersembahkan pialanya untuk dia—Tasha. Dia mencium Tasha di depan semua orang, memastikan seluruh dunia tahu kalau aku sudah bukan bagian dari hidupnya lagi.

Saat orang-orang melihatku di hari-hari setelahnya, mereka mencoba menenangkanku, tapi kalimat mereka justru membuat semuanya makin parah.

“Kami lihat kemarin, Sadie. Kamu gimana? Kamu kuat, kan?”

Aku memaksa tersenyum, berbohong setajam gigi yang kugertakkan.

“Aku udah move on. Mencintai diri sendiri itu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Leo sama aku memang bukan jodoh. Nggak ada apa-apa kok. Namanya juga hidup. Aku juga bukan orang pertama yang ngalamin ini.”

Aku mengangguk seolah percaya pada omonganku sendiri, lalu cepat-cepat pergi. Tapi begitu aku sendirian—kembali ke kamar—aku ambruk lagi. Air mata datang, dan sakit itu mengalir balik, segar seperti baru saja terjadi. Rasanya seperti Leo baru saja meninggalkanku sekali lagi. Kata-katanya muncul di kepalaku:

“Aku nggak mau nyakitin kamu… Kamu kelemahanku, dan aku nggak bisa nerusin ini lagi.”

Aku berharap dia nggak pernah mengucapkan kalimat itu. Atau setidaknya, bisa menariknya kembali. Setiap malam, tanpa sadar aku selalu mengecek ponsel, berharap ada pesan darinya—tanda kecil apa pun kalau dia masih memikirkan aku. Tapi nggak ada. Dan setiap kali bayangan dia bersama Tasha lewat di kepalaku, aku cuma bisa bertanya-tanya,

“Apa yang dia punya sampai aku nggak punya? Apa yang bikin dia lebih baik dari aku?”

Mungkin sekarang mereka lagi berpelukan, menempel satu sama lain, di tempat yang seharusnya jadi tempatku—di malam yang sudah aku rencanakan buat dihabiskan bersama dia. Kami seharusnya merayakan penghargaan yang dia dapat bareng-bareng. Di kepalaku, aku sudah membayangkan kami ketawa, berciuman, saling memeluk seolah dunia cuma milik kami. Tapi kenyataannya dia bersama orang lain, dan aku di sini—sendirian, patah hati, nggak bisa makan, nggak bisa tidur.

Mum biasanya mengetuk pintu kamar, dan aku pura-pura nggak dengar. Lalu dia menelepon Daisy, dan suara percakapan mereka terdengar samar menembus dinding.

“Halo, Daisy. Sadie ngunci diri lagi. Dia nggak berhenti nangis.”

Beberapa menit kemudian, ponselku berdering. Daisy. Dia berusaha menarikku keluar dari lubang yang kubuat sendiri.

“Sadie, kamu harus berhenti nyakitin diri kamu sendiri gini. Udah berminggu-minggu. Kamu harus mulai maju.”

“Aku nggak apa-apa,” jawabku, padahal suaraku pecah. “Aku cuma butuh waktu sendiri.”

“Nggak, kamu nggak apa-apa. Kamu butuh orang di sekitar kamu. Ibumu khawatir setengah mati. Kenapa kamu terus menghukum diri kamu? Leo udah nggak peduli sama kamu, jadi kenapa kamu masih nahan? Kamu itu perempuan cantik, dan kamu pantas dapat yang lebih baik. Nanti juga kamu ketemu seseorang yang bakal sayang sama kamu dengan cara yang seharusnya.”

Dari semua yang Daisy bilang, satu kalimat menancap di kepalaku: Kamu perlu melakukan sesuatu yang nyata buat menolong diri sendiri.

Awalnya aku nggak paham maksudnya apa. Apa yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan patah hati begini? Kalau Daisy tinggal dekat, dia pasti sudah datang setiap hari, nyeret aku keluar dari kesedihan. Tapi dia nggak dekat, dan aku cuma tinggal sendirian dengan pikiranku sendiri.

Setelah berhari-hari merenung, aku mulai berpikir mungkin Leo memang terlalu muda—terlalu belum dewasa buat menjalani hubungan yang serius. Mungkin kalau dia lebih tua, dia akan bertahan, memperjuangkan kami. Pikiran itu menanamkan ide yang berbahaya di kepalaku: pelarian sebentar, sesuatu yang murni fisik, supaya rasa sakit ini berhenti, meski cuma sementara.

Aku menghabiskan beberapa hari memikirkan itu, sampai akhirnya aku memutuskan mengunduh aplikasi kencan. Bukan aplikasi biasa, tapi yang menghubungkan orang untuk pertemuan buta. Tanpa nama, tanpa wajah. Cuma seks, lalu selesai. Rasanya itu solusi yang sempurna.

Aku mengisi data—bukan dataku, tepatnya. Semuanya palsu, kecuali nomor ponsel. Aku menuliskan tipe pria yang kuinginkan: tinggi, berotot, suaranya berat. Seseorang yang bisa kurasakan, bukan kulihat. Dan saat aplikasi itu menanyakan usia pria, aku ragu. Aku nggak mau pria muda lagi. Aku mau yang lebih tua, yang nggak mengingatkanku pada Leo. Jadi, aku menggandakan usiaku di formulir.

Beberapa jam kemudian, ada pesan masuk. Aku dipasangkan dengan seseorang. Jadwalnya ditetapkan untuk Sabtu malam. Itu berarti aku punya dua hari untuk bersiap. Gugupku berantakan, tapi anehnya, memikirkan kencan buta ini membuat kepalaku berhenti memutar Leo. Aku tetap tegang, iya, tapi rasanya seperti aku sedang memulai sesuatu yang baru—seolah aku punya sesuatu untuk ditunggu lagi.

Sabtu pun tiba, dan aku mengenakan gaun merah pendek. Aku menyemprotkan parfum baru—yang mahal—yang kuharap akan dia ingat, meski kami bahkan tak akan melihat wajah satu sama lain. Saat aku merapikan riasan terakhir, Mum masuk ke kamarku.

“Mau ke mana?” tanyanya, alisnya terangkat.

“Ke pesta,” jawabku, sengaja kubuat samar. “Aku butuh lupa semuanya.”

Dia diam sebentar, lalu tersenyum kecil. “Semoga lancar,” katanya, kemudian menutup pintu di belakangnya.

Aku menarik napas dalam-dalam dan berangkat menuju hotel. Yang ada di pikiranku cuma seperti apa pria asing itu, dan apakah satu malam bersamanya akhirnya bisa membantuku benar-benar melangkah pergi.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya