03: Pengkhianatan Bagian 03

Aroma kopi yang baru diseduh menyambut kami seperti gelombang hangat saat kami melangkah masuk ke dalam kafe kecil yang nyaman di seberang jalan. Bel di atas pintu berdenting riang saat kami masuk, aroma biji kopi panggang bercampur dengan gumaman percakapan yang lembut.

"Yang biasa?" tanya Adam, matanya menelusuri menu.

"Ya, tolong," jawabku, pandanganku tertuju pada meja kecil di sudut, diterangi oleh cahaya lampu yang hangat. "Aku akan cari tempat duduk."

Aku menemukan sudut nyaman di dekat jendela, di mana sinar matahari menyusup melalui tirai renda dan memancarkan cahaya hangat di atas meja kayu yang sudah aus. Sambil menyeruput kopi kami, dunia di luar terbentang di depan kami—pemandangan jalan yang sibuk dengan pejalan kaki yang bergegas, mobil yang membunyikan klakson, dan sesekali pengamen jalanan.

"Jadi, bagaimana kabar dengan Gabriel?" tanya Adam santai, matanya berkilat.

Hatiku berdebar. Menyebut namanya saja sudah membuatku merasakan sakit yang mendalam. Aku menggelengkan kepala, memaksakan senyum. "Tidak begitu baik, sebenarnya."

Ekspresi Adam melunak. "Aku pikir kalian berdua pasti sedang ada masalah."

"Seperti itu," aku mengakui, kata-kata itu meninggalkan rasa sakit yang menganga di dadaku.

"Yah," katanya, meraih tanganku di atas meja untuk memberikan pegangan yang menenangkan, "kamu tahu bagaimana rasanya. Kadang-kadang pasangan hanya butuh sedikit ruang."

Senyum tipis muncul di bibirku, rapuh di tengah reruntuhan emosiku. Aku tahu dia bermaksud baik, tapi rasa sakit dari beberapa jam terakhir masih terasa mentah dan segar. Dia tidak tahu betapa dalamnya pengkhianatan Gabriel melukai.

Adam, dengan segala kebaikannya, menghabiskan satu jam berikutnya menceritakan petualangan akhir pekannya, antusiasmenya yang menular sesaat mengalihkan perhatianku dari kekacauan dalam diriku. Aku mendengarkan, memberikan tanggapan sopan, tetapi pikiranku terus melayang kembali ke Gabriel, ke pengkhianatan, ke kepingan hatiku yang hancur.

Kemudian, ponselku berbunyi, suara tiba-tiba itu mengagetkanku kembali ke masa kini. Hatiku tenggelam saat melihat nama Gabriel muncul di layar. Sebuah simpul ketakutan mengencang di perutku saat aku perlahan meraih ponselku.

Napas tersendat saat aku membaca pesan itu, setiap kata seperti belati kecil yang menusuk dadaku.

"Maaf telah pulang larut malam. Ada rapat darurat pagi ini setelah aku membantu bos menghitung angka."

Pesan itu terasa hampa, alasan tipis yang menutupi kebohongan yang jelas. Aku memutar mata, menghela napas frustrasi.

"Semuanya baik-baik saja?" tanya Adam, alisnya berkerut dengan kekhawatiran.

"Ya..." gumamku. Kata-kata itu terasa seperti logam, seperti darah.

Ponselku berbunyi lagi, notifikasi itu mengganggu keheningan yang mencekam yang telah jatuh di antara kami.

"Aku janji, aku akan menebusnya. Tapi aku harus keluar lagi malam ini. Maaf. Aku cinta kamu."

Pesan itu membuat gelombang mual menyergapku. 'Sayang kamu'? Bagaimana dia bisa mengatakannya dengan wajah datar? Kata-kata itu terasa seperti ejekan kejam, gema hampa dari cinta yang kukira kami bagi.

Adam menatapku, kekhawatirannya semakin dalam.

"Maaf," aku meminta maaf, suaraku nyaris berbisik. "Aku perlu pulang."

"Tentu saja..." jawabnya, dengan pengertian yang jelas di matanya. "Aku akan beri tahu Evan dan Caroline kalau kamu sedang tidak enak badan."

Aku memberinya senyum lemah, gerakan itu terasa sangat tidak tulus.

Perjalanan pulang dengan bus adalah kabur oleh pikiran-pikiran menyakitkan. Aku menahan air mata, suasana publik menjadi pengingat kejam tentang rapuhnya privasiku. Akhirnya, aku turun dari bus, pemandangan apartemenku yang akrab tidak memberikan banyak kenyamanan.

Begitu aku masuk, bendungan itu pecah. Aku terjatuh di sofa, isak tangis mengguncang tubuhku. Kekosongan di dalam diriku terasa mendalam, lubang menganga di mana dulu kepercayaanku padanya berada.

Isak tangis akhirnya mereda, meninggalkan kekosongan yang menyakitkan di belakangnya. Aku berbaring meringkuk di sofa, keheningan terasa memekakkan setelah ledakan emosiku. Kebas, teman yang dingin dan tidak diinginkan, telah menyelimuti diriku, perisai rapuh melawan rasa sakit yang mengancam untuk melahapku.

Hari-hari berikutnya adalah kabur oleh senyum paksa dan tawa hampa. Gabriel akan pulang larut malam, alasannya semakin tipis setiap malam. Kebas awal berubah menjadi kemarahan yang mendidih, amarah dingin dan penuh perhitungan yang mengisi setiap pikiranku. Aku tidak hanya ingin putus dengannya; aku ingin dia membayar. Dia perlu memahami kedalaman rasa sakit yang dia timbulkan, merasakan sengatan pengkhianatan yang menusuk hatiku.

Ide konfrontasi sederhana, menuduhnya berdasarkan bukti yang kutemukan di ponselnya, tidak lagi memuaskanku. Aku menginginkan sesuatu yang lebih. Aku ingin dia tahu sejauh mana pengkhianatannya, mengalami ketidakpastian yang menyiksa, beban keraguan yang menghancurkan yang telah melahapku. Aku ingin dia merasakan sakit hatinya direnggut dari dadanya, seperti yang telah dia lakukan dengan begitu kejam padaku.

Putus dengannya terasa terlalu mudah, hanya catatan kaki dari pengkhianatan yang telah dia lakukan. Dia perlu membayar untuk sakit yang dia sebabkan, untuk kepingan-kepingan kepercayaanku yang tidak pernah bisa sepenuhnya diperbaiki. Tapi bagaimana? Pertanyaan itu menggerogoti diriku, seperti ular berbisa yang melingkar di dalam pikiranku. Haruskah aku memberinya rasa dari obatnya sendiri? Haruskah aku memainkan permainannya, membuatnya percaya bahwa dia telah menang, hanya untuk menghancurkan dunianya di saat terakhir?

Pikiran itu sekaligus menakutkan dan menggetarkan. Itu adalah permainan berbahaya, jalan yang penuh dengan bahaya. Tapi daya tarik balas dendam, untuk akhirnya membalikkan keadaan padanya, terbukti menjadi godaan yang tak tertahankan.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya