Bab 2 Paparan Media
Saat itu juga, keributan pecah di luar pintu. Para wartawan yang sudah lama mengintai di sekitar hotel, tak sabar untuk menyebarkan gosip panas.
Pintu terbuka paksa, dan para reporter menyerbu masuk. Kilatan kamera menyambar-nyambar seperti badai, semuanya menyorot tajam ke arah Rangga dan Alya.
"Pak Rangga, kami dengar Anda sedang bersama putri dari keluarga Wijoyo. Boleh kami minta komentarnya?"
"Pergi kalian!" Wajah Rangga mengeras karena murka. Kepercayaannya pada Alya hancur berkeping-keping dalam sekejap.
"Rangga, aku tidak tahu bagaimana mereka bisa menemukan kita," Alya menutupi wajahnya, kepanikan tergambar jelas di raut mukanya.
"Ini gila! Semua kekacauan ini membuktikan kalau kamu memang menjebakku!" bentak Rangga tanpa sedikit pun menoleh pada Alya, mati-matian berusaha kabur dari situasi itu.
Dan itulah yang ia lakukan.
"Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku." Rangga merapikan kemejanya dan melenggang pergi, mengabaikan rentetan pertanyaan wartawan.
Para reporter mengerubunginya, kilatan lampu kamera mereka menerangi seluruh ruangan. Alya hanya bisa berdiri di sana, tak berdaya, hatinya terasa mencelos. "Rangga..."
Di bawah sorotan lampu kilat, siluet Rangga tampak semakin dingin dan menjauh, meninggalkan Alya sendirian dalam tangis yang membasahi pipi.
Keluarga Adiwangsa adalah keluarga paling terpandang di kota pesisir Permata Senja, terkenal dengan latar belakang mereka sebagai kaum terpelajar. Sang kepala keluarga, Tuan Suryo Adiwangsa, adalah seorang yang sangat kolot. Begitu mendengar insiden tersebut, beliau langsung mengumumkan pertunangan antara Rangga dan Alya.
Sejak pertama kali bertemu Rangga di usia sepuluh tahun, Alya sudah menaruh hati padanya.
Selama dua belas tahun, ia berjuang mati-matian, hanya demi bisa melihat sosoknya walau hanya sekilas.
Kini, menikah dengannya terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Alya, tetapi mimpi itu lebih terasa seperti mimpi buruk.
Rangga tidak mencintainya. Ia membencinya. Ia membenci Alya karena telah membuatnya mengkhianati wanita yang benar-benar ia cintai, kakak Alya sendiri, Anjani Wijoyo.
Tiga bulan setelah pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Rangga bersikap baik padanya, tetapi Alya menerima semuanya. Ia terus berharap Rangga akan kembali bersikap manis seperti saat mereka kecil dulu, berharap pria itu akan berubah pikiran dan jatuh cinta padanya.
Namun, mimpi hanyalah mimpi.
Alya tidak pernah mendapatkan cinta Rangga. Mungkin karena suasana hatinya yang terus-menerus buruk, belakangan ini ia sering merasa tidak enak badan.
Maka, Alya pun pergi ke rumah sakit sendirian.
"Ibu Alya, Anda hamil." Kata-kata dokter itu terus terngiang di telinganya.
Duduk termenung di koridor rumah sakit, Alya terpaku mendengar kabar itu. "Aku... aku benar-benar akan menjadi seorang ibu," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang, entah itu air mata bahagia atau sedih.
Ia menelepon Rangga, tetapi seperti yang sudah diduga, panggilannya langsung ditutup. Ia hanya bisa mengirim pesan singkat, mengatakan ada hal penting yang ingin ia sampaikan dan berharap Rangga mau pulang malam ini.
"Mungkin dia hanya sibuk," gumam Alya, mencoba menghibur dirinya sendiri, ditinggal sendirian bersama rasa bahagia dan penantiannya.
Saat malam tiba, kegembiraan Alya perlahan memudar. Ia sadar, kemungkinan besar Rangga tidak akan pulang.
Selama tiga bulan pernikahan mereka, Rangga tidak pernah sekalipun bermalam di rumah. Alya selalu sendirian, dan ia tahu persis di mana suaminya menghabiskan malam-malamnya.
Alya membersihkan diri dan mengenakan gaun tidur sutra hitam favoritnya, berpegang pada sebersit harapan terakhir. Tepat saat ia hendak berbaring, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ia mendongak, jantungnya berdebar kencang melihat wajah tampan yang dingin itu.
Rangga melangkah masuk, matanya menyipit tajam menatap lekuk tubuh Alya.
"Mencoba merayuku lagi?" ucapnya dingin, tak ada kehangatan sedikit pun di matanya.
Alya membeku. Harapannya seketika sirna.
"Rangga, aku tidak..." ucapnya terbata-bata, pipinya memerah menahan malu.
