Bab 3 Pil KB

Rangga maju dan menarik lengan Alya dengan kasar, melemparnya ke atas ranjang seolah tubuh perempuan itu tak ada bobotnya sama sekali.

Alya merasakan nyeri yang tajam di perutnya. Ia segera membalikkan badan, panik menjalari seluruh tubuhnya.

Jari-jari Rangga yang panjang dan kokoh mencengkeram dagu Alya. Sepasang mata yang biasanya teduh itu kini menyala-nyala karena amarah.

"Apa yang kamu sangkal?" Tatapan tajam Rangga seolah menusuk menembus dirinya. "Setelah semua kelakuanmu, kamu pikir aku masih akan percaya padamu?"

Mata Rangga turun ke paha Alya yang terekspos. Seringai keji terbit di wajahnya saat ia membuka ikat pinggang dan melangkah mendekat.

"Berpakaian seperti ini, kamu pasti sedang mengemis, kan? Baiklah, akan kuberikan apa yang kamu mau!"

Ia merobek gaun tidur Alya, menampakkan payudaranya yang montok. Tanpa penyangga, kedua buah dada indahnya mencuat kencang, dengan puting mungil laksana buah beri.

Alya menjerit saat tangan Rangga mencengkeram payudaranya yang sensitif, meremasnya dengan kasar.

"Hentikan! Sakit, kumohon!" teriak Alya.

"Hentikan?" Tangan Rangga meninggalkan payudaranya, lalu turun ke pangkal pahanya, meraba-raba celana dalam Alya yang sudah basah. "Sudah basah begini. Dasar jalang!"

Ia merobek celana dalam Alya, membiarkannya telanjang di atas ranjang. Kedua kakinya merapat rapat, namun rambut kemaluannya yang gelap terpampang jelas.

Rangga menekan ujung kejantanannya yang membengkak ke bibir kewanitaan Alya, lalu menghunjamnya dengan keras.

Alya merasakan sakit yang tajam seperti robek. "Jangan! Tolong, hentikan! Sakit!"

Bagaikan binatang buas yang dirasuki birahi, Rangga menindih tubuhnya dan menggagahinya tanpa ampun. Setelah waktu yang terasa begitu lama, ia akhirnya melepaskan pelepasannya, cairan hangat membanjiri rahim Alya.

Setelah selesai, Rangga membersihkan diri dan langsung tertidur pulas, mengabaikan Alya yang terkulai lemas. Dengan sisa tenaga, Alya menyeret dirinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Keesokan paginya, Rangga sudah berpakaian rapi, duduk di sofa dengan pil kontrasepsi di tangan. Wajahnya kelam, matanya sedingin es.

"Minum ini," perintahnya.

Alya hanya berdiri mematung, jantungnya berdebar kencang.

Ia tidak mungkin meminum pil itu. Ia sudah hamil, dan pil itu akan membahayakan janinnya.

Matanya menatap Rangga dengan tatapan memohon, tapi suara Rangga justru semakin keras. "Alya, jangan pernah berpikir untuk mengandung anakku. Perempuan tak tahu malu sepertimu tidak pantas mendapatkannya!"

Alya mencengkeram dadanya, merasakan gelombang rasa sakit yang menyiksanya.

Ia pikir, kehadiran bayi ini mungkin bisa mendekatkan mereka kembali. Tapi kini ia sadar, betapa naifnya dirinya.

Ia bahkan tak punya keberanian untuk memberitahu Rangga bahwa ia sudah mengandung.

"Baik, aku akan meminumnya," ucapnya sambil menundukkan kepala, merasa begitu rendah sekaligus bertekad. Ia memutuskan untuk berpura-pura, menyembunyikan pil itu di bawah lidahnya sebelum menenggak air.

Rangga mengawasinya dengan cermat, curiga Alya akan mencoba berbuat macam-macam.

Alya merasa bersalah, takut Rangga akan menyadarinya. Tiba-tiba, ponsel Rangga berdering. Ia menjawab dengan cemas, dan suara panik Olivia terdengar dari seberang. "Mas Rangga, aku... aku bingung harus bilang bagaimana, tapi Anna... dia bunuh diri!"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya