Bab 6 Melanggar Semua Kepura-puraan

Tak ada yang menyangka Alya ada di kamar mandi—apalagi sampai mendengar semua ucapan mereka.

Lorong rumah sakit seolah menjadi beku. Alya menatap Siska dengan tatapan setajam belati, amarahnya siap meledak kapan saja. Ketegangan di antara mereka terasa begitu menyesakkan. Setelah pertengkaran hebat mereka sebelumnya, kebencian Alya pada Siska sudah tak terkendali lagi.

"Perempuan murahan!" desis Alya, suaranya sedingin es. "Kamu manfaatin Bima cuma buat kepentinganmu sendiri, dasar ular tak tahu malu!"

"Kurang ajar kamu, berani-beraninya ngomong gitu ke Siska? Cari gara-gara, ya?!" bentak Rina dengan geram, tangannya kembali terayun ke arah Alya.

Siska hanya menyeringai, matanya menyiratkan kelicikan, sama sekali tidak terpengaruh. "Lucu sekali. Cuma anak yatim piatu yang nggak punya siapa-siapa, sok mau menghinaku? Kamu pikir dengan merasa paling benar, kamu jadi lebih baik?"

"Sifat tak tahu malumu itu yang bikin aku muak!" balas Alya, amarahnya berkobar. "Kamu akan melakukan apa saja demi mendapatkan keinginanmu. Menjijikkan!"

Alya sudah membuang jauh-jauh ikatan keluarga yang dulu pernah ia hargai. Hubungan persaudaraan yang mereka sebut-sebut itu hanyalah kebohongan besar.

"Menjijikkan?" suara Siska penuh dengan sarkasme. "Aku cuma berjuang untuk kebahagiaanku. Kamu pikir kamu bisa merebut sesuatu yang dari awal bukan milikmu?"

"Kamu selalu punya alasan untuk membenarkan keegoisanmu!" Alya begitu murka hingga nyaris kehilangan kendali. "Pernikahan kami diatur oleh Pak Suryo, bukan sesuatu yang bisa kamu hancurkan dengan semua akal bulusmu!"

"Kalau kamu memang seyakin itu, kamu nggak akan ada di sini." Siska melangkah mendekat, matanya menyala-nyala. "Kamu harus ceraikan dia!"

Melihat Siska dan Rina, Alya justru tertawa terbahak-bahak. "Mimpi saja sana. Aku nggak akan pernah menceraikan Bima. Aku akan menjadi istrinya seumur hidup!"

"Alya, jangan keterlaluan!" teriak Siska, wajahnya memerah karena marah. "Aku nggak akan biarkan kamu menang!"

"Aku sudah menang. Semua orang di Puri Kencana tahu istri Bima itu aku—bukan kamu."

Setelah mengatakan itu, Alya berbalik dan melangkah pergi, mengabaikan sumpah serapah Siska yang terdengar di belakangnya.

Alya meninggalkan RS Medika Utama dan menuju RS Bunda Sehat.

Ia khawatir pertengkarannya dengan Bima semalam—dan pukulan yang ia terima—akan berdampak pada janinnya.

Di ruang tunggu, ia memandangi para ibu hamil yang ditemani suami mereka yang penuh perhatian. Hatinya terasa begitu perih. Tidak seperti mereka, ia sendirian. Bima sedang bersama Siska, bukan dirinya.

Tak jauh darinya, seorang suami tersenyum pada istrinya dan berkata, "Aku tahu hamil itu berat, Sayang. Karena aku nggak bisa gantiin kamu, setidaknya aku temani kamu di sini terus."

Perasaan Alya semakin nelangsa, rasa irinya terpancar jelas di wajahnya.

Tiba-tiba, suasana menjadi riuh. Beberapa perawat bergegas mendekat. "Cepat! Ada ibu yang mau melahirkan, tolong beri jalan!"

Jantung Alya berdebar kencang. Ia melihat seorang ibu hamil muda berwajah pucat, mencengkeram tangan suaminya dengan erat, matanya penuh ketakutan. Sang suami menggenggam tangannya tak kalah erat, suaranya terdengar tenang dan menenangkan, "Jangan takut, Sayang, aku di sini. Semua akan baik-baik saja."

Alya terpaku, merasakan tusukan iri dan cemburu yang dalam. Ia memandangi pasangan itu, merindukan seseorang yang bisa ada untuknya seperti itu. Bima memang menikahinya, tapi itu adalah pernikahan paksa, bukan yang lahir dari cinta.

Ruangan itu menjadi sibuk saat para dokter berusaha menolong wanita yang akan melahirkan itu. Alya tetap terpaku pada pemandangan di depannya, dalam hati ia berdoa, "Semoga persalinannya lancar."

Bahkan sebelum penanganan wanita itu selesai, hasil pemeriksaan Alya sudah keluar.

Syukurlah, janinnya baik-baik saja.

Alya berjalan-jalan tanpa tujuan di luar rumah sakit sejenak sebelum pulang. Dulu, ia sangat mencintai rumah ini—senang sekali rasanya menunggu Bima pulang kerja.

Tapi sekarang, rumah ini terasa seperti penjara.

Saat melangkah masuk, ia melihat Bima sedang duduk di sofa. Wajahnya yang tegas tampak keruh oleh amarah.

"Kamu habis menemui Siska lagi?" Suara Bima terdengar menusuk dan dingin.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya