Bab [5] Protokol
Suara itu berasal dari anak kecil di sebelahnya.
Terdengar begitu pilu dan tertekan.
Luna Santosa sontak menoleh dan buru-buru menyalakan lampu meja kecil.
Di bawah sorotan cahaya, wajah Gilang Kusuma tampak memerah karena menahan sesuatu. Alisnya berkerut menahan sakit.
Dia bahkan bergumam dalam tidurnya, "Jangan! Jangan pergi!"
"Pergi sana!"
Suaranya terdengar sangat putus asa, seolah-olah dia pernah mengalami trauma yang sangat berat.
Sesekali tubuhnya menggeliat, seperti sedang mencoba menghindari sesuatu, dan isakan pilu terus keluar dari bibirnya.
Sepertinya dia sedang mimpi buruk.
Sesaat kemudian, matanya sontak terbuka. Pandangannya kosong menatap langit-langit, dan air mata langsung mengalir dari sudut matanya.
Alis Luna Santosa berkerut dalam. Dia mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk pelan anak itu, mencoba mengalihkan perhatiannya dan membantunya keluar dari mimpi buruk.
"Ssst... jangan menangis, jangan menangis. Yang di dalam mimpi itu tidak nyata."
Melihat anak itu kembali memejamkan mata sambil terus terisak, Luna Santosa merasakan hatinya pedih. Tampaknya Gilang merasakan kehangatan. Dia merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Luna Santosa, tangannya memeluk erat lengan wanita itu dan tak mau melepaskannya.
Luna Santosa tak tega melihatnya. Dia langsung merengkuh anak itu ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, sambil menyenandungkan lagu nina bobo yang dulu sering dinyanyikan neneknya.
"Angin sepoi-sepoi..."
Setelah menepuknya cukup lama, anak itu sepertinya mendengar suara lembut itu. Emosinya akhirnya stabil, dan tubuhnya yang kaku perlahan-lahan menjadi rileks.
Napasnya kembali teratur dan dia pun tertidur lelap.
Luna Santosa mengulurkan tangan untuk menyeka air mata di sudut mata Gilang. Dia mencoba untuk tidur, tetapi matanya tak bisa terpejam.
Setiap kali memejamkan mata, suara pilu anak itu kembali terngiang di benaknya.
Merasakan suhu tubuh yang hangat dalam dekapannya, matanya menatap lekat ke langit-langit.
Mimpi terbentuk dari alam bawah sadar. Dulu, dia pernah meneliti hal ini secara mendalam.
Anak ini adalah satu-satunya cicit di keluarga Kusuma. Logikanya, dia seharusnya sangat dimanja dan disayangi oleh semua orang.
Sehari-hari, dia juga tidak mungkin terpapar hal-hal buruk. Seharusnya tidak ada apa pun yang bisa membuatnya bermimpi buruk seperti ini!
Begitu menyakitkan, sampai dia tidak bisa melepaskan diri.
Seolah-olah dia mengalami penderitaan yang tak bisa ditanggung oleh anak seusianya.
Luna Santosa berdeham untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Dia mengenakan sandalnya dan berjalan pelan menuruni tangga untuk minum air.
Langit sudah mulai terang. Lampu dapur menyala, para asisten rumah tangga sudah mulai menyiapkan sarapan.
Luna Santosa mengambil gelas di sampingnya, menuang air, dan mulai mengobrol santai dengan ART yang sedang memasak.
"Tuan Kecil kalian biasanya suka melakukan apa saja?"
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Luna Santosa, tangan ART itu langsung berhenti bergerak.
"Kenapa Nyonya bertanya soal itu?" tanya ART itu sambil menoleh.
Luna Santosa merasa sedikit heran. "Saya kan baru di sini, jadi wajar kalau ingin lebih mengenal lingkungan. Gilang juga lengket sekali dengan saya, jadi saya pikir lebih baik mencari tahu lebih banyak tentangnya supaya bisa lebih akrab."
ART itu tertawa canggung dan menjawab dengan gugup.
"Itu... kan semua orang sudah tahu, Nyonya. Tuan Kecil itu kan anak dari mantan pacar Tuan muda. Ibunya tidak ada sejak kecil, jadi kami semua yang merawatnya."
"Mungkin karena itu sifatnya jadi sedikit berbeda, dari kecil juga tidak suka banyak bicara."
Semua jawaban itu tidak ada bedanya dengan yang dirinya dengar dari luar.
Jawaban ART itu terdengar seperti sudah dihafal, seolah-olah sengaja disiapkan untuk berjaga-jaga darinya.
Luna Santosa bertanya lagi, "Ibu pasti sudah lama bekerja di sini, kan? Melihat Tuan Muda tumbuh besar, apa hanya itu yang Ibu tahu?"
ART itu seketika menegang. Dia tertawa kaku dua kali dan tetap menghindari pertanyaan itu.
"Nyonya ini ada-ada saja! Tuan Muda kan lebih sering bersama Nyonya Besar, jadi semua urusan Tuan Muda pasti Nyonya Besar yang tahu."
ART itu berdeham. "Bagaimana kalau... Nyonya langsung tanya saja pada Nyonya besar?"
Luna Santosa mengerutkan kening dengan aneh, menatap punggung kaku dan ekspresi waspada ART itu.
Dia menunduk sejenak. Sepertinya tidak akan ada informasi yang bisa didapat lagi.
Sikapnya yang seperti ini pasti karena sudah ada yang mewanti-wantinya. Bertanya lebih jauh pun tidak ada gunanya.
Jika dia terus mendesak, mencari tahu terlalu banyak mungkin malah akan menimbulkan masalah.
"Baiklah, saya mengerti."
Luna Santosa mengerutkan kening, meletakkan gelasnya di samping, dan berjalan dengan langkah besar menuju lantai atas.
Masalah ini biar disimpan dulu saja. Cepat atau lambat, dia pasti akan mengetahuinya.
Sedangkan untuk anak ini, dia akan merawatnya perlahan-lahan.
Cahaya fajar telah sepenuhnya menerangi langit. Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, tetapi ruangan itu masih temaram.
Luna Santosa berdiri di ambang pintu, memandangi dua sosok—satu besar dan satu kecil—yang terbaring di tempat tidur. Hidung mereka sama-sama mancung, alis tebal, dan bibir tipis berbentuk wajik, seolah-olah dicetak dari cetakan yang sama.
Ardi Kusuma yang terbaring tak sadarkan diri dan Gilang Kusuma yang tertidur lelap. Saat tidur, posisi mereka sama persis, telentang lurus dengan wajah datar.
Bahkan gerak-gerik mereka pun sangat mirip.
Luna Santosa tak bisa menahan tawa kecilnya. Dia mendekati keduanya dan mengamati mereka dengan saksama.
Keduanya benar-benar ayah dan anak, mirip sekali!
Karena sudah tidak bisa tidur lagi, Luna Santosa segera membersihkan diri.
Dia berdiri di samping Ardi Kusuma, menatap wajahnya, lalu mengulurkan tangan untuk melakukan rutinitas paginya, meraba nadi.
Dia memejamkan mata, merasakan denyut nadi Ardi Kusuma dengan saksama.
Denyut nadinya sedikit lebih baik dari kemarin.
Namun, hanya sedikit.
Alis Luna Santosa justru berkerut. Dia menatap mata Ardi Kusuma yang terpejam rapat, memikirkan rencana pengobatannya.
Berdasarkan pengalaman dan penilaiannya selama ini, kondisi Ardi Kusuma tidak sulit untuk diobati.
Hanya saja, prosesnya akan memakan waktu cukup lama, membutuhkan banyak bahan obat, dan perawatannya sedikit lebih rumit.
Bagi dirinya yang dulu, ini bukanlah masalah.
Namun, bagi Ardi Kusuma yang sekarang, ini adalah masalah besar!
Pertama, soal bahan obat itu sendiri sudah menjadi kendala.
Dulu, dengan statusnya, bahan obat langka yang tak terhitung jumlahnya akan dikirimkan kepadanya. Dia juga bisa dengan leluasa mengikuti lelang di balai lelang ternama.
Akan tetapi sekarang, dia hanyalah seorang pengantin yang dikirim oleh keluarga kecil untuk membawa keberuntungan melalui pernikahan. Dia tidak punya hak istimewa seperti itu.
Namun setelah dipikir-pikir, dia sekarang berada di keluarga Kusuma! Keluarga Kusuma mungkin tidak punya apa-apa, tetapi dalam hal kekuasaan dan uang, mereka adalah yang teratas di seluruh Jakarta. Mereka punya cukup banyak uang untuk membeli tumpukan bahan-bahan obat berharga itu.
Dia menghela napas lega sambil merapikan barang-barang yang akan dia gunakan.
Namun Luna Santosa, setelah bertahun-tahun belajar ilmu kedokteran, berapa banyak orang di luar sana yang rela membayar mahal hanya untuk bisa diobati olehnya?
Dia belum pernah mengobati seseorang secara gratis. Sambil menatap garis wajah Ardi Kusuma yang tegas, dia mengangkat sebelah alisnya.
Meskipun benar tidak ada makan siang gratis di dunia ini.
Namun, dia juga tidak bisa memaksa. Entah apakah Ardi Kusuma nanti mau membayar bunganya?
Rumor tentang Ardi Kusuma yang dingin, kejam, dan tanpa ampun di dunia luar sudah tersebar luas.
Konon, dulu pernah ada orang yang membentangkan spanduk di bawah gedung Grup Kusuma, memprotes kelalaian Direktur Utama Grup Kusuma, Ardi Kusuma!
Setelah itu, berita tersebut ditekan oleh Grup Kusuma, dan keberadaan orang itu tidak pernah terdengar lagi!
Luna Santosa mengusap dagunya, menatap hidung mancung Ardi Kusuma.
Dia dengan cepat menganalisis situasinya saat ini.
Pertama, dia dinikahkan dengan keluarga Kusuma untuk membawa keberuntungan melalui pernikahan. Ardi Kusuma sendiri pasti tidak setuju dengan hal ini.
Setelah sadar nanti, kemungkinan besar Ardi akan menganggapnya sebagai wanita licik yang ingin naik status. Saat itu, Ardi pasti akan berprasangka buruk dan menganggapnya penipu, bahkan mungkin akan langsung menyingkirkannya!
Dengan posisinya sekarang, akan sangat merepotkan jika ada yang ingin menyingkirkannya!
Otak Luna Santosa berputar cepat. Sambil mengusap dagunya, matanya tiba-tiba berbinar.
Dia bisa menyiapkan sebuah perjanjian terlebih dahulu, dan membuat Ardi Kusuma 'menandatanganinya'.
Kalaupun nanti Ardi Kusuma ingin menyingkirkannya, dia tidak perlu khawatir. dia bisa menggunakan perjanjian ini untuk menagih bayarannya.
Dengan bukti hitam di atas putih, Ardi tidak akan bisa mengelak.
