142. Satu-satunya Momen Kami

Derek menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya. Matanya menancap keras ke mataku, bibirnya menipis karena tekad.

“Dia nggak bakal nyentuh kamu, Benji. Nggak akan aku biarin. Aku nggak akan biarin siapa pun nyentuh kamu, nyakitin kamu, atau bahkan mendekat dengan niat buruk.”

Nada suaranya k...

Masuk dan lanjutkan membaca