Bab 39

Aku membanting pintu kamar asrama, darah mendidih mengingat mulut lancang si perempuan sialan itu. Berani-beraninya dia ngomong begitu ke aku. Siapa dia memangnya?

Teman sekamarku—penyihir muda yang masuk setahun setelah aku—lagi nelepon ketika aku masuk. Aku memilih diam, pura-pura sibuk siap-siap...

Masuk dan lanjutkan membaca