Bab 171: Satu-satunya harapan saya

Benteng itu kini hanyalah tumpukan batu, asap, dan reruntuhan. Saat aku berjalan, kulihat mayat-mayat para pendeta yang ditendang Samara, beberapa pangeran yang jatuh, dan untungnya hanya sedikit orang. Saudaraku berjalan di sampingku, semakin kuat setiap menitnya. Samara menyeret Duval tanpa peduli...

Masuk dan lanjutkan membaca