Bab 1
“Serena...”
Dalam pelukan yang saling membelit, tubuh mereka menyala oleh hasrat, sampai ucapan pria itu—terlepas begitu saja—menjadi pengingat dingin tentang perempuan lain.
Citra Larasati merapat di leher Rangga Wicaksana, merasakan kemaluan Rangga yang tebal dan keras keluar-masuk tubuhnya. Ia menahan erangannya, sementara setetes air mata meluncur dari sudut matanya.
Rangga tak menangkap apa pun dari perasaannya. Kedua tangannya menggenggam payudara Citra, jemarinya mengusik putingnya, lalu mencubitnya keras, membuat Citra tercekik menahan rintihan.
Bibir Citra yang kemerahan terbuka sedikit, napasnya putus-putus dalam helaan halus. Kenikmatan yang terlalu pekat hampir membuat kepalanya kosong.
“Rangga, kita punya anak, ya.”
Rangga berhenti sejenak, mengangkat kedua kaki Citra, lalu tanpa kelembutan apa pun menghunjam lagi, menggigit putingnya. “Citra, lo nggak pantas ngandung anak gue!”
Sorot dingin melintas di mata Rangga yang jernih saat ia terus mengambil Citra dengan lebih kasar.
Setiap kali ia menarik keluar sampai habis, lalu menekan pinggang Citra dan menghantam kembali dengan keras, masuk sedalam-dalamnya—membuat tubuh Citra yang sudah peka kian candu.
Erangan Citra pecah-pecah, matanya memerah. Dalam kabur, pandangannya jatuh pada bibir Rangga. Ia perlahan menopang tubuh, merapat. “Rangga, lo berani nggak cium gue?”
Lima tahun mereka menikah, tak terhitung berapa kali mereka tidur bersama, tapi tak sekali pun mereka berciuman.
Sekilas jijik melintas di mata Rangga; wajahnya menggelap. Ia bahkan tak mau menatap wajah Citra, jadi ia membalikkan tubuh Citra, menekannya ke bawah. Dalam posisi dari belakang, hentakannya jadi makin dalam.
Citra menenggelamkan wajah ke bantal, menyembunyikan apa pun yang bergetar di matanya.
Rangga mengakhiri beberapa hentakan terakhirnya di tubuh Citra, dan pada detik ia tumpah, suaranya terdengar dingin.
“Citra, kita cerai.”
Rona panas di tubuh Citra belum pudar, tapi wajahnya mendadak pucat.
Citra menatapnya seperti tak paham. “Apa?”
Rangga menarik kemaluannya begitu saja, meraih dua lembar berkas di atas meja, lalu menyodorkannya. “Serena hamil. Gue harus nikahin dia. Tapi setelah cerai, gue tetap bakal nanggung lo.”
Tangan Citra gemetar saat menerima kertas-kertas itu. Satu adalah surat perjanjian cerai, satu lagi perjanjian nafkah.
Lima tahun pernikahan—dan sekarang ia ingin menjadikannya perempuan simpanan, hanya demi memberi Serena Brown status yang “pantas”?
“Rangga, kasih gue alasan.” Suara Citra bergetar.
“Serena hamil, dan kondisinya lagi nggak bagus. Gue harus bikin dia merasa aman.” Nada Rangga melunak saat menyebut namanya.
Perempuan itu yang paling ia jaga.
Citra merasa jantungnya seperti disayat pisau.
Pernikahan lima tahun mereka sejak lama cuma tampilan luar. Dari awal, pernikahan ini memang sesuatu yang ia paksakan.
Citra mengangkat kepala pelan, ujung jarinya menyentuh perutnya dengan lembut, bibir merahnya bergetar tipis. “Rangga, kalau gue juga hamil, lo masih ngotot cerai?”
Rangga melirik dingin, jawabnya tegas tanpa ragu. “Citra, lo nggak bakal ngandung anak gue.”
Sakit halus menyebar di dada Citra. Matanya berkedip, lalu ia bicara dengan nada yang terlalu tenang. “Ya udah. Gue setuju cerai.”
Citra menandatangani perjanjian cerai itu tanpa ragu. Harta Rangga dibagi dua untuknya. Begitu royal demi bisa menikahi Serena.
Sementara perjanjian nafkah, Citra bahkan tak sudi membacanya. Ia mengangkatnya, lalu merobeknya jadi serpihan.
Melihat ketegasan Citra, Rangga sempat terpaku.
Citra menatap potongan kertas yang berserakan di lantai, seolah melihat masa mudanya yang ikut terkoyak.
Dulu, saat Rangga butuh istri, Alya maju tanpa ragu, meski keluarganya mati-matian menolak.
Semua orang mengira Alya mengincar harta keluarga Pratama, tak ada yang tahu kalau diam-diam ia sudah lama mencintai Rangga.
Di hari pernikahan Alya dan Rangga, Serena mengalami kecelakaan mobil saat hendak pergi ke luar negeri karena dilanda amarah.
Alya menyaksikan Rangga meninggalkan pesta pernikahan untuk menyusul Serena. Permohonannya yang putus asa diabaikan begitu saja, dan sejak hari itu ia jadi bahan tertawaan seisi Kota Silverlight.
Pernikahan mereka berubah jadi neraka sunyi.
Alya menarik napas panjang, memunguti pakaiannya dari lantai, lalu mengenakannya pelan-pelan. “Kapan kita ngurus berkasnya?”
Sikap tenangnya membuat Rangga terpaku. “Lo beneran mau pergi gitu aja?”
Alya mengangguk, tatapannya dingin. “Emang harus gimana? Gue harus berbagi laki-laki sama Nona Brown?”
Rangga mengernyit, nada suaranya muak. “Alya, jangan bercanda soal Serena. Coba ngomong satu kata lagi, lo angkat kaki dari sini.”
Alya menyunggingkan senyum getir, seolah menertawakan dirinya sendiri. “Nggak usah nyuruh. Gue juga pergi sendiri.”
Barangnya di Vila Pratama nggak banyak—semuanya muat dalam satu koper.
Namun saat ia melangkah keluar, sebuah lembar kertas meluncur dari tasnya dan jatuh tepat di depan Rangga: hasil tes kehamilan, dengan garis positif yang terang.
Sorot mata Rangga mengeras, suaranya penuh ejekan. “Alya, apaan ini? Tes kehamilan? Gue nggak nyangka lo sampai bikin laporan palsu cuma buat ngindarin cerai.”
Tubuh Alya menegang. Ia berbalik menatap Rangga.
Rangga mencabut kertas itu dan melemparkannya ke wajah Alya.
Mengingat dinginnya ejekan Rangga, Alya sengaja mengangkat alis, sikapnya dibuat santai. “Terus kenapa kalau palsu? Lima tahun nikah, hubungan kita ya gitu-gitu aja. Kalau pura-pura hamil bisa bikin lo nengok dikit, berarti tujuan gue tercapai.”
Alya berkata datar, membungkuk memungut kertas itu dari lantai—sementara luka di dadanya menganga makin lebar, seperti berdarah tanpa henti.
Ia menatap Rangga, yang bibirnya menyisakan senyum dingin. “Alya, gue bener-bener salah nilai lo.”
Alya tak membantah. Mana mungkin ia bilang kalau hasil tes itu asli?
“Rangga, kabarin gue kalau lo udah nentuin kapan ngurus berkas cerainya.”
Setelah itu, Alya menyeret kopernya keluar dari Vila Pratama.
Ia menoleh, memandangi tempat yang ia tinggali lima tahun, tanpa satu pun kenangan yang benar-benar hangat—hidup yang isinya menunggu, dan harapan yang selalu patah sebelum sempat tumbuh.
Setiap hari ia menghitung kapan Rangga pulang, berapa lama ia akan tinggal di rumah.
Ada nyeri yang menekan dadanya. Ternyata selama ini, semua usahanya merawat dan menanti Rangga pulang tak pernah benar-benar terlihat. Pada akhirnya, ia cuma mengharukan dirinya sendiri.
Alya naik taksi, dan emosi yang sedari tadi ia tahan meledak di dada. Air mata mengalir tanpa bisa ia kendalikan.
Saat sampai di rumah sahabatnya, Citra Wijaya, mata Alya sudah bengkak karena terlalu lama menangis.
Citra terperanjat begitu tahu Alya sudah menandatangani perjanjian cerai. “Kenapa? Kalian bareng lima tahun, kok bisa-bisanya dia nyerahin lo gitu aja?”
Suara Alya lemas, seolah habis diseret jauh. “Serena hamil.”
Citra terdiam, seakan udara di ruang tamu mendadak padat.
Ia memeluk Alya, menenangkan dengan suara rendah. “Lupain dia. Kalau lima tahun nikah aja nggak bisa ngerebut hatinya, berarti memang bukan buat lo. Lo tuh bagus banget, nggak mungkin nggak ada yang sayang.”
“Sekalian aja, di kantor lagi ngembangin parfum baru. Ikut proyeknya, ya. Biar pikiran lo kebawa, mood lo juga berubah.”
Alya bersandar pada Citra, menjawab pelan.
Tangannya perlahan menutup perutnya, dan kesedihan yang dalam merambat sampai ke ujung-ujung napas. Dalam hati ia berbisik, Bayi… mulai sekarang, kamu cuma punya Mama.
