Bab 5
Alya sempat menegang, lalu kembali memasang wajah sedihnya.
“Ribut-ribut dalam rumah tangga itu biasa. Bapakmu sama Ibu dari dulu juga begitu, tapi begitu kamu sama adikmu lahir, semuanya jadi jauh lebih baik.”
Ia melanjutkan, “Yang harus kamu lakukan sekarang ya punya anak sama Faris. Begitu ada bayi, dia pasti berubah pikiran.”
Raut Citra mengeras begitu mendengar soal anak.
“Nggak mungkin... Aku nggak akan pakai anak buat nahan Faris. Pernikahan ini udah selesai!” kata Citra tegas.
“Kamu...” Alya seperti tak menyangka Citra akan seteguh itu.
Di dekat sana, Pak Wibowo mengangkat tongkatnya lagi begitu mendengar.
“Alya, minggir! Sumpah, Bapak bakal bikin dia kapok! Hidupnya udah enak jadi istri orang kaya, masih juga mau cerai?” hardiknya, wajahnya kesal bukan main.
“Orang-orang bakal bilang apa soal keluarga Wibowo kalau kamu bercerai? Bapak nggak sanggup nanggung malu kayak gitu.”
“Kalau dari awal Bapak tahu kamu selemah ini, mending Bapak biarin adikmu aja yang nikah sama dia! Bapak nyesel!”
Kata-kata itu keburu meluncur. Pak Wibowo sadar, lalu mendadak bungkam.
Citra mencibir. “Pak, akhirnya keluar juga isi hati Bapak.”
Citra berdiri pelan. “Aku tahu, di mata Bapak aku nggak bakal pernah bisa ngalahin Junita. Aku dibesarin di kampung, sementara Junita tumbuh bareng kalian. Kalau bukan gara-gara perjodohan sama keluarga Pratama, Bapak mungkin udah lupa aku ada, ya?”
Alya menutup wajahnya, tangisnya pecah. “Citra... kamu masih nyalahin Ibu?”
“Bu, nggak.”
Nada Citra tetap lembut pada Alya. “Jujur, waktu kecil aku sempat kesel sama Ibu sama Bapak. Aku mikir kenapa aku nggak bisa tinggal bareng kalian kayak Junita. Tapi makin gede, aku ngerti kalian punya alasan.”
“Citra... dulu Ibu sering sakit-sakitan. Itu salah Ibu.” Alya memeluknya, rautnya penuh penyesalan.
Tapi Pak Wibowo tetap keras. “Ngapain minta maaf sama anak durhaka begini? Citra, jawab! Kamu mau baikan sama Faris atau nggak!”
“Nggak mungkin!” Citra sama teguhnya.
“Dasar anak nggak tahu diri! Bapak pukul kamu sampai mati!”
Pak Wibowo mengayunkan tongkat lagi, tapi kali ini Citra sempat menghindar.
Alya yang berdiri di belakangnya tidak sempat mengelak. Tongkat itu menghantamnya. Ia oleng lalu jatuh terduduk keras ke lantai.
“Aduh... ya Allah, pantat Ibu!” Alya merintih kesakitan sambil menangis.
Citra buru-buru hendak menolong mengangkatnya, tapi Pak Wibowo mendorong Citra sampai tersisih.
“Anak durhaka! Berani-beraninya kamu ngindar! Kalau ibumu kenapa-kenapa, Bapak nggak akan maafin kamu!”
Citra tercekat, tak sanggup mengeluarkan suara.
Tongkat tadi mengarah tepat ke perutnya. Kalau ia kena, bayi itu mungkin tidak akan selamat.
Jadi ia memang harus menghindar—dan sekarang akibatnya Alya yang terluka.
“Aku...”
Citra hendak menjelaskan bahwa ia menghindar karena sedang hamil, tapi Pak Wibowo memotong tajam.
“Diam! Sekarang juga cari Faris. Kalau kamu sampai cerai, jangan pernah balik lagi! Ibumu, adikmu, dan Bapak nggak bakal maafin kamu!”
“Kamu masih berdiri ngapain? Keluar!”
Kata-kata tajam Damar membuat dada Citra makin ngilu.
Di lantai, Elodia masih merintih kesakitan. Citra ingin membantah, tapi lidahnya kelu—tak ada kalimat yang bisa ia susun.
Ia membuka pintu tanpa suara lalu melangkah pergi.
Namun rasa bersalah masih menggantung. Baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh.
Saat kembali mendekati pintu, ia justru mendengar tawa dari dalam.
“Hahaha… Dam, gimana aktingku?”
“Akting lo pas banget, tapi lain kali jangan gitu buat ngelindungin dia. Lo tahu nggak gue tadi khawatir setengah mati?”
“Itu salah si jalang itu, soalnya dia ngindar! Gue juga belum siap!”
Urat dingin menjalar di tulang punggung Citra, seolah darahnya mendadak membeku.
Suara-suara di dalam itu begitu akrab, tapi kata-katanya terasa asing—terutama saat keluar dari mulut Elodia.
Selama ini Citra percaya Elodia lembut dan baik, orang yang tak mungkin mengucapkan kalimat sekejam itu.
Mereka terus mengobrol, sama sekali tak tahu Citra berdiri di balik pintu.
“Sayang, gimana kalau si jalang itu beneran cerai dari Fajar?”
“Tenang. Kalau dia nekat, kita tinggal nikahin Junia sama dia.”
“Nggak bisa!”
Elodia langsung menolak. “Gue nggak bakal biarin Junia menderita. Makanya dulu kita bawa Citra pulang dari kampung. Sekarang lo mau Junia nikah sama laki-laki yang bahkan Citra nggak mau? Nggak bisa!”
Damar terdengar gelisah. “Dulu kita takut Fajar nggak bakal megang warisan Keluarga Perca, makanya kita nggak nikahin Junia sama dia. Tapi sekarang dia nguasain seluruh Keluarga Perca. Mau Fajar punya perempuan lain juga, dia nggak bakal nyakitin Junia. Yang paling penting, perusahaan kita butuh dukungan Keluarga Perca.”
“Nggak bisa.”
Elodia terdengar begitu melindungi Junia. “Gue bakal cari cara buat maksa Citra rujuk. Gue nggak bakal biarin Junia menderita.”
“Cepet bantuin gue berdiri. Lantainya dingin banget. Gue harus balik, mandi air panas.”
Citra mendengar keributan di dalam dan buru-buru menjauh.
Keluar dari rumah besar keluarga Raka, ia berjalan tanpa arah di pinggir jalan, merasa seperti orang yang tersesat.
Hatnya sudah kebas oleh hantaman demi hantaman.
Selama ini Citra mengira Damar memang tak pernah menyukainya, tapi ia tak pernah menyangka Elodia ternyata sama saja.
Ternyata mereka berdua tahu menikah ke keluarga Perca takkan membawa bahagia. Semua kebaikan itu hanya topeng.
Dan kini jelas: tak ada seorang pun di dunia ini yang mencintainya.
Saat pikiran untuk mengakhiri hidup melintas di benaknya, perutnya kembali mulas.
Sekejap Citra tersadar. Ia tidak sepenuhnya sendirian—ia masih punya anak di dalam kandungannya.
Demi anak itu, ia tak boleh menyerah.
Namun semangat kecil itu tak mampu melawan dampak perut kosong, kurang tidur, dan tekanan tanpa henti dari Fajar serta ayahnya.
Semakin jauh ia berjalan, langkahnya makin berat, seakan kakinya diisi timah.
Tak lama kemudian, tubuhnya terasa melayang, pandangannya menghitam, dan ia terjatuh ke depan.
Dengan sisa tenaga, Citra memeluk perutnya, lalu kesadarannya runtuh.
Orang-orang yang lewat melihatnya ambruk dan segera berkumpul.
“Telepon ambulans! Ada yang pingsan di sini!”
