Bab 7

Bab 7

Adelaide

Beck memutar jauh lewat tengah kota, sengaja mengambil jalur berbelit. Dia menyelinap masuk ke sebuah gang dekat apartemenku, dan aku mendongak ke jendela kamar. Sebuah vas cantik berisi bunga lily of the valley terpajang di ambang. Itu tidak ada saat aku pergi. Jelas mereka meninggalkan “tanda” begitu menemukan apartemen itu kosong. Butuh dua jam bagi kami untuk muter-muter lewat jalan belakang sampai akhirnya bisa keluar dari kota. Masih tersisa sekitar tujuh ratus dua puluh kilometer lagi. Pinggiran kota pelan-pelan berubah jadi hamparan ladang dan pepohonan; aku menatap pemandangan bergulir lewat saat kami melaju.

Satu jam kemudian, dia menepi untuk isi bensin. Aku turun, menaruh tasku di jok, berniat ke toilet perempuan—tapi langkahku mendadak macet. Tempatnya kecil, seadanya, tapi parkirannya penuh mobil-mobil asing. Aku kembali ingat betapa kecil dan tak berartinya aku. Tadi siang aku memaksa tubuhku bertahan hidup—bergerak karena harus—tapi sekarang, begitu mode “lawan atau lari” itu turun, aku berdiri di tempat asing dengan cemas mencekik.

Bayangan Beck menjulang di belakangku. Tubuhnya yang tinggi membungkuk, bibirnya dekat telingaku. “Tenang, Sayang. Aku bakal dengerin buat kamu. Percaya deh, telinga tua ini lebih peka dari kebanyakan orang.” Dia menekan sesuatu yang dingin dan berlogam ke telapak tanganku. Aku menggenggam pisau. Bukan pisau kecil lucu-lucuan—ini tipe yang dibuat untuk melukai.

“Kamu tahu cara pakainya?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk. Dia mendengus puas. “Ambilin air sama camilan,” tambahnya, sambil menyelipkan dompet kulit usang ke tangan satuku lagi.

Aku melirik ke belakang, dan dia mengangguk ke arah bangunan. Tangannya memasukkan kartu ke mesin pompa bensin. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memaksa kaki melangkah, dagu terangkat.

Aku menemukan kamar mandi tanpa masalah, tanganku masih mengepal di gagang pisau. Aku merasa rapuh saat menatap pintu yang terkunci sambil berusaha buang air. Semua di bawah sana sakit, perih juga. Kalau bajingan sialan itu sampai nularin penyakit, aku bakal balik dan motong bijinya. Aku sempat memainkan pisau itu—membuka-menutupnya beberapa kali—sebelum selesai, lalu menyelipkannya ke dalam sepatu bot dan mencuci tangan. Entah kenapa rasanya sedikit lebih aman, logam dingin itu seperti jimat pelindung dari semua beban yang menindih. Aku mengibaskan tangan sampai kering, keluar, lalu menyusuri rak mencari camilan.

Aku mengambil permen kenyal asam, dendeng, dua bungkus keripik, dan sekotak kue cokelat. Air aku temukan di lemari pendingin, lalu aku tumpahkan semuanya di meja kasir.

Aku menunjuk sebungkus rokok merah-hitam di belakang kasir, lalu melempar korek ungu ke tumpukan belanjaanku. Kasirnya memperhatikanku saat aku menaruh semuanya di meja. Aku mengeluarkan uang receh dari tempat flash drive-ku, lalu menambah selembar dari dompet Beck. Si kasir melirik motor yang berhenti di depan, lalu melirik lagi kartu identitas yang sempat terlihat di dompet yang terbuka—aku langsung membentakkannya menutup sebelum dia memasukkan total belanja.

Aku memasukkan kembali beberapa lembar kembalian ke dompet Beck, menyambar kantong-kantong belanja dari meja, lalu keluar. Di parkiran, aku memasukkan semuanya ke kompartemen yang dibukakan Beck untukku di bawah jok. Setelah itu aku naik lagi membonceng di belakangnya, dan dia langsung tancap gas.

Dua puluh menit kemudian, dia membelok masuk ke sebuah motel kumuh dengan gerai makan di bagian depan. Aku menatapnya penuh tanya, tapi dia cuma mengulurkan tangan. Aku paham maksudnya dan mengembalikan dompetnya.

Pengacara itu toh baru ada di kantor besok pagi, jadi tidur sebentar masuk akal.

Saat Beck menyelinap ke ruang resepsionis, aku celingukan dengan waswas. Tanpa sadar tanganku menyusup ke dalam sepatu, menggenggam gagang pisau, menekannya pelan untuk menenangkan diri—seolah-olah itu memberiku sedikit rasa aman. Kenapa sepotong logam tajam bisa bikin aku jauh lebih tenang? Aku cuma bisa menyalahkan pelajaran-pelajaran Paman Jake. Aku tahu cara pakai pisau. Begitu ada kesempatan, aku bakal beli punyaku sendiri.

Beck keluar dan naik lagi, duduk di depan. Dia membawa mobil memutar ke belakang motel lalu parkir.

Aku turun. Dia mengeluarkan kunci dari saku, lalu mengangkat jok, mengeluarkan sebuah tas kecil. Dia mengaitkan tas selempang berisi uangku ke bahunya. Aku meraih camilan.

Aku mengikuti sosoknya yang besar ke pintu kamar. Dia sempat menoleh ke belakang, mengamati hamparan tanah datar yang dipenuhi semak-semak liar. Dia mendengus pelan lagi sebelum membuka kunci dan mendorong pintu.

Lampu neon dipencetnya. Cahaya dingin menyulap ruangan bergaya motel era 80-an, dengan dua ranjang ukuran double. Aku menaruh kantong-kantong di meja, lalu bahuku jatuh lemas saat aku meletakkan ranselku ke kursi. Badanku terasa berat. Aku menarik tudung hoodie ke belakang. Beck menatapku, sudut bibirnya naik sedikit.

“Apa?” tanyaku.

Dia menggeleng. “Kukira kamu bukan pirang asli.”

Aku mendengus, memutar bola mata. “Kebanyakan cowok memang nggak bisa bedain,” balasku datar.

Dia mengangkat bahu, mengambil ember es yang dilapisi plastik di dekat deretan gelas plastik di meja rias. “Aku ambil es dulu. Sebentar lagi balik. Jangan buka pintu. Empat ketukan, baru kamu tahu itu aku,” katanya, lalu menyerahkan kartu kunci padaku.

Beck kelihatan orang baik—keras, tapi bukan yang bikin aku merasa terancam. Dan anehnya, aku merasa aman bersamanya. Aku duduk di sana, menahan segala nyeri di tubuhku yang patah dan sudah diinjak-injak martabatnya, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakan sebatang. Aku menarik asbak mendekat.

Aku harus memikirkan semuanya pelan-pelan.

Aku akan lihat apa yang ditinggalkan Paman Jake, lalu ambil langkah dari situ. Tapi satu hal pasti: aku harus sejauh mungkin dari sisi timur negeri ini dan menghilang secepatnya. Aku bisa pakai nama tengahku. Aku nggak tahu gimana caranya bikin SIM atau punya kendaraan tanpa dokumen apa pun, apalagi cari kerja. Mungkin kerja serabutan yang dibayar tunai?

Aku harus menghubungi Misty. Aku nggak mau dia sampai melapor atau minta orang ngecek kondisiku.

Aku butuh mobil dan laptop. Aku juga bisa cari uang lewat internet, ngerjain pekerjaan kecil buat usaha-usaha kecil. Aku bisa. Aku harus bisa.

Entah sudah berapa batang rokok lewat, aku sampai lupa waktu. Badanku remuk, capeknya sampai tulang, tapi aku nggak mungkin tidur sebelum Beck balik. Jangan-jangan dia nyasar cari mesin es.

Saat itulah bayangan melintas di luar jendela kamar.

Aku menegang, refleks meraih pisau. Rokokku kutaruh di asbak. Pisau itu kubuka. Aku diam membeku, telinga kupasang rapat pada bunyi gesek langkah di atas paving.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya