Bab [3] Pil Kontrasepsi

Arya Pradana menarik lengan Sari Wijaya dengan kasar dan melemparkannya ke tempat tidur tanpa ampun.

Sari Wijaya langsung merasakan sakit di perut bagian bawah. Dengan panik, dia berusaha membalikkan badan.

Jari-jari Arya yang terlihat jelas tulangnya mencengkeram rahang Sari erat-erat. Matanya yang biasanya menggoda seperti bunga mekar kini dipenuhi kabut kemabukan dan amarah yang menusuk.

“Bukan apa?” Tatapan Arya tajam bagai bisa menembus lubuk hatinya, nada suaranya semakin membeku. “Setelah kamu melakukan hal itu, kamu kira aku masih akan percaya padamu?”

Pandangan Arya melayang ke paha Sari yang terbuka, senyum jahat mengering di bibirnya. Dia melonggarkan ikat pinggang dan mendekat.

“Memakai baju seperti ini, bukannya memang memancing? Aku akan penuhi keinginanmu!”

Arya merobek baju tidur Sari. Dua gundukan di dadanya yang putih dan montok terpapar di hadapannya. Tanpa bra, sepasang puncak milik Sari tetap tegak menjulang, dengan titik ranum yang menonjol di puncaknya.

Dalam teriakan Sari, kedua tangan Arya seperti cakar setan mencengkeram erat bagian yang paling sensitif, menggosok dan meremasnya tanpa belas kasihan.

“Ah ... Jangan begitu!! Emm ... sakit! Jangan! Kuharap ...." Sari menjerit.

“Jangan?” Tangan Arya melepaskan gundukan ranum itu, merayap turun ke pahanya. Melalui celana dalam, dia mengusap bagian paling rahasianya yang sudah basah. “Sudah begini, masih bilang jangan? Dasar jalang!”

Dia menyobek celana dalam Sari dengan kasar. Kini Sari terbaring telanjang di tempat tidur, dua gundukan ranum milik Sari menjulang tinggi, dua kaki mulus terjepit rapat, tetapi segumpal rambut gelap di antara pahanya terbuka di hadapan Arya.

Arya menekankan ujung batang kejantanannya yang telah keras ke celah inti kewanitaannya. Dengan dorongan pinggulnya, ujung batang itu langsung memaksa masuk.

Sari hanya merasa pintu inti kewanitaannya seperti terkoyak. “Jangan! Tolong! Kumohon ... jangan!! Ah! Sakit ... tidak ... jangan!!”

Arya bagai binatang birahi, menindih Sari di tempat tidur dan memperkosanya dengan biadab. Tidak terasa waktu berlalu, hingga akhirnya semburan cairan panas itu membanjiri rahim Sari.

Usai melampiaskan nafsunya, Arya membersihkan diri dan langsung tertidur pulas, tanpa peduli pada Sari yang letih fisik dan hati. Sari hanya bisa menyeret kaki beratnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Keesokan paginya, saat Sari terbangun, Arya sudah berdandan rapi. Dia duduk di sofa, memegang pil KB, wajahnya muram, matanya menyala, menatap Sari dengan dingin. Nada suaranya penuh kemarahan dan penghinaan.

“Kamu harus minum pil ini sekarang. Ini pilihan terbaik untuk dirimu sendiri!”

Sari berdiri di samping, hati seperti diaduk.

Dia tidak boleh minum pil KB, karena dia sudah hamil. Obat itu akan melukai bayinya!

Matanya memancarkan permohonan. Arya, melihat Sari tidak bereaksi, menegaskan suaranya, penuh cibir. “Cepat minum! Kamu tidak layak melahirkan anakku!”

Sari menempelkan tangan di dadanya, merasakan sakit yang menusuk.

Dia mengira anak ini bisa menjadi jembatan antara mereka. Ternyata dia terlalu naif.

Dia bahkan sudah tidak memiliki keberanian untuk memberi tahu pria ini bahwa dia sudah mengandung janinnya.

“Baik, aku minum!” Dia menunduk, hati hina tetapi teguh, diam-diam memutuskan untuk pura-pura meminumnya. Dia menyimpan pil di bawah lidah, lalu meneguk air.

Arya terus mengawasi gerak-geriknya, khawatir dia berbuat curang.

Sari merasa was-was, takut Arya mengetahui kebohongannya. Kebetulan, telepon Arya berdering tiba-tiba. Dengan cemas dia mengangkatnya. Suara Ibu Sinta terdengar dari ujung telepon, penuh kepanikan dan ketidakberdayaan. “Arya, aku ... aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, Sinta ... dia bunuh diri!”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya