Bab [7] Perjanjian Perceraian
Sari Wijaya bisa menebak bahwa itu pasti Sinta Wijaya yang mengadu padanya, tapi hatinya tenang. Bukan dia yang salah, melainkan Sinta Wijaya sendiri—apa yang harus ditakutkan untuk diakui?
“Aku memang pernah ke sana, tapi…”
“Sari Wijaya, kamu benar-benar jahat!” Kemarahan Arya Pradana bagai serpihan kaca yang menghujam hati Sari, menyebarkan rasa sakit tak terlihat seketika.
“Kamu bilang pada Sinta kalau meskipun aku mati sekalipun, aku akan terus mengejarnya dan tidak akan membiarkan Sinta menginjak pintu rumah Keluarga Pradana, paham?”
Mengadu sambil memfitnah, Sinta Wijaya, kamu hebat sekali!
Sari ingin menjelaskan, tapi tubuhnya tiba-tiba terasa ringan saat Arya Pradana melemparkannya ke tempat tidur.
Pria itu menyerangnya dengan kasar, rasa sakit merambat ke seluruh tubuhnya. Ini bukan cinta, melainkan hukuman. Saat itu, Arya seperti pelaku kekerasan yang bengis, membuat Sari sangat ketakutan; dia takut kehilangan bayi dalam kandungannya.
Dia tidak mengerti kenapa Arya memilih cara ini untuk mempermalukannya.
Rasa malu yang luar biasa dan perih yang menusuk jiwa membuat Sari seketika pingsan.
Ketika sadar di atas sprei putih rumah sakit, pandangannya masih kabur namun mulai fokus. Dia menyadari dirinya berada di tempat asing. Saat mencoba mengingat kejadian sebelumnya, sosok di sampingnya membuat dadanya sesak.
“Sudah bangun?” Sinta Wijaya duduk di sisi ranjangnya. Senyum dingin tersungging di wajahnya, tatapannya penuh iri dan sindiran.
“Kamu hebat juga, sampai masuk rumah sakit karena alasan ini.”
Benar, Arya terlalu kejam hingga Sari pingsan dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Sari lirih, firasat buruk memenuhi pikirannya.
“Aku datang menjenguk adikku,” ucap Sinta dengan senyum licik. “Dengar-dengar kamu terluka, kasihan sekali. Sepertinya Arya sama sekali nggak sayang sama kamu, ya.”
Hati Sari tertusuk tajam. Dia menahan emosinya dan bertanya, “Mau apa sebenarnya kamu?”
“Ada banyak hal yang ingin kukatakan.” Sinta mendekat dan berbisik dengan mata penuh tipu daya, “Pertama, Arya selalu ada di sisiku, memberikan semua cintanya. Kamu nggak tahu betapa dia suka menggangguku! Setiap malam dia bersama aku, tidak seperti kamu, cuma wanita yang sudah dia buang!”
Ternyata setiap malam Arya tidak pulang ke rumah karena bersama Sinta Wijaya.
“Kamu… ngomong apa sih?” Hati Sari hancur oleh berita mendadak itu.
“Kamu kira dia masih mau mencintai perempuan hina sepertimu?” Sinta meledek dengan nada provokatif, “Baginya, kamu cuma angin lewat!”
Amarah bercampur lelah memenuhi dada Sari. Dia menatap Sinta dan berkata dengan tegas, “Aku tidak akan mudah menyerah pada Arya Pradana!”
“Nanti aku tunjukkan apa artinya dominasi!” Sinta tersenyum licik, mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya dan meletakkannya di depan Sari. “Itu surat cerai! Tandatangani sekarang sebelum harga dirimu hilang, tinggalkan dia!”
“Maksudmu apa?” Hati Sari tercekat, merasa putus asa, “Aku tidak akan tanda tangan!”
“Memangnya kamu punya pilihan lain?” Sinta tertawa dingin.
“Meskipun aku sendirian, aku tidak akan mundur!” Tegas Sari dengan suara penuh tekad yang lahir dari penderitaan. “Aku takkan menyerah pada Arya!”
“Sungguh kasihan. Sari, Kekuatanmu hanya ilusi belaka.” Jari Sinta menunjuk surat itu dingin. “Lihatlah penampilan kampunganmu itu, Arya tidak mungkin jatuh cinta pada wanita sepertimu. Dia pernah bilang padaku, kamu wanita paling menjijikkan dan tak bermoral yang pernah dia temui. Menikahimu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya!”
Kemarahan dan kesedihan memenuhi hati Sari. Matanya gemetar saat memandang Sinta. Dia sudah menduga hari ini akan datang, tetapi tak menyangka akan secepat ini.
Arya Pradana mencintai Sinta Wijaya. Dalam perlombaan cinta ini, dia kalah telak tanpa ampun.
Melihat wajah Sari yang makin pucat, Sinta tertawa penuh kemenangan.
