Bab 1 Bigamis
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Setelah memanaskan lauk-pauk di meja makan untuk ketiga kalinya, suaminya, Reza Aditama, akhirnya pulang.
Amalia Kusuma bergegas menghampiri, membawakannya sandal rumah, dan menerima tas kerjanya. Gerakannya begitu luwes dan terbiasa.
Reza mencibir, "Keluar dana dua ratus miliar cuma buat beli pembantu. Boleh juga."
Suara beratnya terdengar begitu sinis dan menusuk.
Amalia terpaku. Hatinya perih, tapi ia tak bisa membantah karena, yah, ucapan pria itu memang benar.
Tiga tahun lalu, ibunya pernah berjanji. "Di acara pernikahan nanti, keluarga Kusuma akan memberikan aset senilai lima puluh miliar sebagai seserahan, dan keluarga Aditama cukup menyiapkan dana segar dua ratus miliar untuk putriku. Dengan begini, martabat kedua keluarga tetap terjaga."
Namun nyatanya, ibunya bukan saja tidak memberikan aset apa pun kepada Reza, tapi juga membawa kabur uang dua ratus miliar milik keluarga Aditama.
Parahnya lagi, ada kakek-kakek berusia tujuh puluh tahun yang bikin keributan di tengah resepsi. Pria tua itu melambai-lambaikan surat perjanjian—bukti bahwa ibunya telah menjual putrinya sendiri—dan berusaha membawa kabur sang mempelai wanita.
Skandal putri keluarga Kusuma yang 'dijual' ke dua pria sekaligus itu sukses membuat keluarga Aditama jadi bahan tertawaan satu negara. Reputasi mereka hancur lebur, dan nilai saham Aditama Group anjlok hingga triliunan Rupiah.
"Karena keluarga Kusuma berani menipuku, mulai sekarang, kamu harus menanggung semua akibatnya." Itulah yang dikatakan Reza padanya di hari pernikahan mereka.
Pria itu lalu pergi begitu saja, meninggalkannya sendirian menyelesaikan resepsi di tengah tatapan jijik dan cemoohan para tamu. Di malam pertamanya, Amalia hanya duduk termenung di kamar yang kosong, tak bisa memejamkan mata hingga pagi.
Selama tiga tahun yang panjang ini, Reza tak pernah sekali pun bersikap lembut padanya. Jangankan menyentuh, melihatnya saja pria itu seolah jijik, seakan Amalia adalah penyakit menular.
Reza menyebutnya pembantu, tapi nasibnya bahkan lebih buruk dari itu; siapa pun di rumah ini bisa merendahkannya. Setiap hari terasa seperti neraka.
Reza sudah duduk di kursi meja makan.
Amalia pergi ke dapur untuk mengambilkan semangkuk sup hangat, berusaha keras agar suaranya terdengar biasa saja. "Mas Reza... apa kamu sedang menyukai seseorang?"
Reza menatapnya dingin. "Maksudmu?"
"Kalau memang ada, aku bisa mundur..." ucap Amalia pelan.
Dengan begitu, pria ini bisa bahagia, dan ia pun bisa bebas.
Namun, sebelum Reza sempat menjawab, pandangan Amalia tiba-tiba menggelap.
Rasa panik karena tersedot ke dalam kegelapan pekat membuatnya refleks meraba-raba mencari pegangan. Tangannya menyapu meja, menyenggol beberapa mangkuk dan piring hingga jatuh berantakan.
Reza membentak keras, "Amalia! Kamu sudah gila, ya?!"
Di tengah kekacauan itu, sesuatu meluncur dari saku pakaian Amalia dan jatuh ke lantai.
Sebuah pil kecil berwarna biru muda. Saat Reza memungutnya dan menyadari bahwa itu adalah obat perangsang ilegal, ia mencibir sinis. "Pakai cara murahan begini, sebegitu putus asanya kamu?"
Amalia tergagap. "A-aku..." Ia ingin menjelaskan bahwa ibunya yang memaksa menjejalkan pil itu ke sakunya.
Namun Reza, yang sudah terlanjur yakin bahwa Amalia punya niat busuk, memotong ucapannya dengan tajam, "Bahkan kalau kamu telanjang bulat di depanku sekalipun, aku nggak sudi tidur sama kamu! Nggak usah mimpi!"
Amalia mencengkeram ujung meja dan memejamkan matanya erat-erat. Saat ia membuka mata kembali, ia hanya bisa melihat siluet buram Reza yang melangkah pergi dengan penuh amarah.
Ia tahu, kondisinya makin memburuk.
Setengah bulan yang lalu, dokter sudah memperingatkannya, "Mbak Amalia, berdasarkan hasil pemeriksaan, penurunan penglihatan Anda saat ini disebabkan oleh penyumbatan vena retina sentral. Kalau terus berlanjut, Anda bisa buta total."
Mungkin karena penglihatannya yang makin kabur, pendengaran Amalia justru menjadi jauh lebih sensitif. Ia bisa mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi; Reza sedang mandi. Ia juga mendengar bunyi notifikasi pesan dari arah ruang depan.
Alya khawatir itu urusan pekerjaan Mas Bima yang mendesak. Untunglah, pandangannya perlahan kembali jernih. Dia mengambil ponsel itu dari dalam tas kerja suaminya dan berjalan ke arah kamar mandi, lalu mengetuk pintunya pelan. "Mas, udah selesai? Ada pesan masuk."
Terdengar suara Bima dari dalam, "Dari siapa?"
Alya menjawab ragu, "Dari... Larasati."
Larasati adalah mantan kekasih Bima.
Pagi tadi, seluruh portal berita hiburan tanah air heboh membahas wawancara penyanyi terkenal itu. Saat dicecar berbagai pertanyaan oleh wartawan, Laras dengan santai menjawab, "Aku pulang ke Indonesia bukan cuma buat fokus berkarier di sini, tapi ada hal yang jauh lebih penting—aku mau merebut kembali cinta pertamaku."
Apakah cinta pertama yang dimaksud Laras itu suaminya? Saat pikiran itu masih berputar di kepala Alya, tiba-tiba pintu terbuka. Bima melangkah keluar dari kamar mandi dan langsung merampas ponsel itu dari tangannya tanpa bicara sepatah kata pun.
Alya mengumpulkan keberaniannya dan mengikuti langkah pria itu, lalu bertanya hati-hati, "Mas... apa kamu masih ada perasaan sama Laras?"
Pria itu menukas tajam, "Siapa yang ngizinin kamu buka-buka ponselku?"
Bima sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya menatap Alya dengan sorot mata dingin yang penuh peringatan, lalu bergegas masuk ke ruang ganti.
Saat keluar lagi, pria itu sudah mengenakan setelan jas abu-abu yang sedikit meredam kesan kaku dan dewasanya, justru membuatnya terlihat lebih kasual namun tetap memancarkan aura yang kuat dan memikat. Dengan potongan rambut pendeknya yang rapi dan paras tampannya, ke mana pun ia pergi pasti akan menjadi pusat perhatian.
Alya terpaku. Apa suaminya itu mau pergi menemui Laras?
"Nanti malam Mas pulang..."
Pertanyaannya yang belum selesai terpotong oleh suara bantingan pintu depan yang tertutup rapat.
Sesaat, ada perih yang menjalar di dadanya, bercampur dengan rasa konyol yang menertawakan dirinya sendiri.
Dia hanyalah Nyonya Suryaningrat di atas kertas. Dia sama sekali tidak punya hak untuk mencampuri urusan suaminya.
Malam itu, Alya gelisah di atas ranjang. Pikirannya terus berputar mengulang kejadian di rumah sakit tadi siang.
Setelah pemeriksaan kandungan, ibunya, Bu Ningsih, menariknya kasar keluar dari rumah sakit. Belum sempat Alya memantapkan pijakannya, hasil tes kehamilan itu sudah dilemparkan tepat ke wajahnya.
Bu Ningsih membentak marah, "Kamu itu udah bertahun-tahun nikah masuk ke Keluarga Suryaningrat, tapi hamil aja nggak bisa-bisa! Kalau sampai Bima menceraikan kamu, Keluarga Tanoto mau bergantung sama siapa?!"
Omelan ibunya yang keras dan kasar itu langsung menarik perhatian banyak orang di sekitar mereka.
Alya menundukkan pandangannya, menahan malu. Selama tiga tahun pernikahan, Bima bahkan tidak pernah memeluknya, jadi bagaimana mungkin dia bisa punya anak?
"Bu, aku..."
"Diam kamu!" potong Bu Ningsih dingin.
Wanita paruh baya itu dengan paksa menjejalkan sebutir obat ke telapak tangan Alya, lalu berkata dengan nada jengkel, "Ini obat perangsang. Cari cara supaya Bima minum ini, lalu goda dia! Atau kalau perlu, cari perempuan lain yang gampang hamil buat dia! Selama perempuan itu bisa ngasih keturunan buat Bima, Ibu nggak peduli!"
Setelah ibunya pergi, Alya berdiri sendirian diterpa angin yang dingin cukup lama, menahan rasa getir yang mencekik dada.
Kata-kata tajam ibunya seolah terus terngiang di telinga. Bu Ningsih memang ibu kandungnya, tapi wanita itu hanya menganggapnya sebagai alat tukar demi keuntungan semata. Sama halnya ketika sang ibu memaksanya menikah dengan Keluarga Suryaningrat, dan dengan kejamnya pernah berniat menjualnya kepada pria tua berumur tujuh puluh tahun demi uang tujuh ratus lima puluh miliar Rupiah.
Sekarang, ibunya mendesaknya untuk segera hamil, bahkan sampai menyuruhnya mencarikan perempuan lain untuk suaminya, semua itu semata-mata demi harta.
Alya tidak bisa menolak, dan dia memang tidak pernah punya pilihan.
Tiba-tiba, dering ponsel yang nyaring memecah keheningan malam.
Alya mengambil ponselnya. Layar itu menampilkan deretan nomor yang tidak dikenal.
Begitu panggilan diangkat, suara lembut seorang perempuan terdengar dari seberang sana. "Halo, ini Alya? Bima agak mabuk. Kamu bisa datang jemput dia nggak?"
