Bab 10 Apa Rencana Selanjutnya

Alya mengeluarkan kotak yang dibawanya dan membukanya, memperlihatkan tumpukan lukisan berbingkai rapi.

Melihat lukisan-lukisan itu, Alya hanya terdiam.

"Kok lukisanmu isinya Bima semua, sih?" tanya Siska, alisnya terangkat heran.

Alya menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan frustrasi.

Betapa bodohnya dia. Saat meninggalkan Kediaman Kusuma, dia pikir lukisan-lukisan ini sangat berharga dan tak tergantikan. Semuanya adalah potret Bima. Bukan cuma soal siapa yang berani membelinya, tapi kalaupun ada, Bima pasti akan menyadarinya dan bisa-bisa curiga macam-macam padanya.

"Kayaknya yang ini bisa, deh," ucap Siska sambil mengangkat sebuah lukisan yang menampilkan siluet dari belakang. "Dari sini nggak terlalu kelihatan siapa orangnya."

Secercah harapan muncul di hati Alya, dan dia pun menoleh. Lukisan yang satu ini memang berbeda, hanya menampilkan punggung pria yang dingin dan kaku.

"Boleh juga," kata Alya. Dia langsung menghubungi sebuah galeri seni eksklusif secara anonim, menyepakati harga dengan cepat, dan memesan kurir khusus untuk mengirimkan lukisan tersebut.

Di luar dugaan, belum sampai satu jam, pihak galeri menelepon untuk mengabarkan bahwa lukisan itu sudah terjual.

Suara Alya sedikit bergetar. "Terjual berapa?"

Staf galeri itu terdengar sangat ceria, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Tujuh puluh lima miliar Rupiah. Nona Alya, Anda benar-benar jenius. Ini lukisan dengan harga tertinggi yang pernah kami jual sejak galeri ini buka. Apa Anda masih punya karya yang lain?"

Alya baru saja hendak menolak, tapi kemudian dia sadar kalau dia bisa terus melukis. Dia sudah belajar seni rupa sejak kecil; meski tak pernah berencana menjadikannya mata pencaharian, sekarang dia tak punya pilihan lain.

Dia pun menjawab pelan, "Ada, tapi butuh waktu."

Keesokan paginya, setelah dipotong komisi galeri, uang sebesar tiga puluh tujuh setengah miliar Rupiah masuk ke rekeningnya.

Dengan uang itu, Alya langsung pergi ke rumah sakit, melunasi seluruh biaya perawatan Pak Anton sekaligus, lalu memindahkannya ke rumah sakit swasta yang sudah dia atur sebelumnya. Tak lupa, dia menyewa seorang perawat khusus untuk menjaganya.

Setelah mengurus semuanya, beban berat yang selama ini mengganjal di dadanya seolah terangkat, membuatnya merasa jauh lebih lega. Mungkin karena dia merasa utang budinya pada Bima sedikit berkurang.

Sejak memutuskan untuk bercerai, dia tidak ingin lagi berutang apa pun pada Bima. Uang puluhan triliun yang dibawa kabur Nita saat pernikahan mereka mustahil bisa dia lunasi seumur hidupnya, jadi dia hanya bisa berusaha menebusnya sebisa mungkin.

Sementara itu, di sebuah lapangan golf eksklusif di pinggiran kota, Bima mengayunkan stik golfnya dengan keras. Bola putih itu melesat, melambung membentuk beberapa lengkungan di udara sebelum akhirnya menghilang di kejauhan.

Seorang pelayan datang membawakan minuman, tapi Bima mengusirnya dengan isyarat tangan yang tidak sabar. Pria itu duduk di kursi santai sambil melirik layar ponselnya.

Tidak ada apa-apa selain rentetan pesan sampah. Rasa kesal yang aneh tiba-tiba menyelinap di dada Bima. Memangnya apa yang dia harapkan?

"Bima, ternyata kamu di sini. Aku cariin ke mana-mana juga," panggil sebuah suara yang manis. Bima secara refleks menoleh, melihat Laras berjalan anggun menghampirinya dengan sepatu hak tinggi.

"Lihat deh apa yang aku bawa," ucap Laras, memamerkan sebuah lukisan seolah itu adalah harta karun. "Aku beli lukisan ini waktu jalan-jalan semalam. Kayaknya sosok di lukisan ini mirip banget sama kamu, dan bakat pelukisnya luar biasa. Permainan cahaya dan bayangannya bagus banget, terus coba lihat..."

Belum sempat Laras menyelesaikan kalimatnya, tatapan datar Bima tiba-tiba berubah tajam.

Dia berdiri, merebut lukisan itu, dan menatapnya lekat-lekat, seolah berusaha menembus kanvas itu untuk menemukan siapa pelukis di baliknya.

"Ada apa?" Laras terkejut dengan reaksi kasarnya yang tiba-tiba, raut wajahnya penuh kebingungan. "Bima, kok kamu..."

Tanpa membiarkan wanita itu selesai bicara, Bima sudah membalikkan badan dengan dingin dan melangkah cepat menuju mobilnya.

Di sisi lain, Alya dan Citra baru saja selesai makan malam dan sedang berjalan santai menyusuri trotoar.

Belakangan ini, hidup Alya penuh dengan tekanan. Jarang sekali ia bisa menikmati waktu luang seperti ini; senyum lembut terus menghiasi bibirnya.

"Al, habis ini rencana lo apa?" tanya Citra.

Alya menunduk, menimbang-nimbang sejenak sebelum menjawab, "Gue udah telanjur tanda tangan kontrak setahun sama PT Safira. Kalau gue resign sekarang, gue harus bayar penalti tiga kali lipat. Jadi, mau nggak mau gue harus bertahan di sana tahun ini. Rencananya sih, gue mau manfaatin waktu ini buat fokus ngerawat Bapak sampai sehat lagi. Urusan lain, biar gue pikirin nanti."

Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, enggan memikirkan kenapa kata 'pergi' entah bagaimana menyisakan rongga hampa di dadanya.

"Lo nggak takut ibu lo bakal ngejar-ngejar lo lagi? Kalau sampai dia tahu lo udah cerai dari Rangga, dia pasti bakal ngamuk besar." Raut wajah Citra tampak cemas.

Ekspresi Alya mengeras. "Gue udah nggak bisa mundur lagi, Cit. Gue nggak mau terus-terusan dikendalikan sama rasa takut. Gue punya kehidupan gue sendiri."

Ia menengadah menatap langit malam, tepat saat dua ekor burung terbang melintasi cakrawala, berkicau riang.

Tiba-tiba, sebuah mobil sport hitam berhenti mendadak tepat di depan mereka. Suara decit remnya terdengar memekakkan telinga.

Alya terkesiap. Saat ia memicingkan mata, dari balik kaca mobil yang gelap itu tampak sesosok wajah tampan dengan sepasang mata kecokelatan yang menatap tajam.

Rangga? Tanpa sempat berpikir panjang, Alya langsung menyambar lengan Citra dan berbalik untuk lari.

Citra berlari dengan napas tersengal. "Bukannya tadi lo bilang udah nggak takut lagi sama dia?!"

"Ini beda urusan! Kalau dia sampai muncul, pasti bakal ada masalah besar." Alya menarik temannya ke arah sebuah toko bunga di pinggir jalan, berniat mencari celah untuk kabur dari kejaran Rangga.

Namun sedetik kemudian, sebuah tangan besar mencengkeram tengkuknya dari belakang, menahan tubuhnya agar tidak bisa bergerak ke mana-mana.

Tubuh Alya seketika menegang. Setelah tiga tahun hidup di bawah kendali dan tekanan yang mencekik dari pria itu, instingnya untuk melawan seolah lumpuh. Ia berdiri kaku, bagaikan boneka yang putus talinya.

Citra menoleh ke belakang dan melihat Rangga menahan Alya dengan begitu mudahnya. Perbedaan postur tubuh mereka terlalu mencolok; boro-boro melarikan diri, Alya bahkan tidak punya celah sedikit pun untuk melawan.

"Lo pergi duluan," bisik Alya mendesak setelah berhasil menguasai dirinya kembali.

Citra menggertakkan gigi, lalu berbalik dan berlari kencang untuk mencari bantuan.

"Mau lari ke mana kamu?" Suara berat dan dingin Rangga mengalun di telinganya.

Cengkeraman tangan pria itu terlalu kuat hingga membuat Alya meringis kesakitan, dan hawa panas dari sentuhannya sukses membuat tubuh wanita itu gemetar.

Alya menarik napas panjang, berusaha menenangkan debar jantungnya yang menggila, lalu membalas dengan nada tak kalah dingin, "Bukan urusanmu."

Baru saja kata-kata itu meluncur dari bibirnya, Rangga sudah memaksa Alya memutar tubuh untuk menghadapnya.

Pandangan mereka bertubrukan. Wajah tegas Rangga tampak begitu menakutkan, dengan sepasang matanya yang menyorotkan amarah sedingin es.

Hati Alya menciut. Instingnya menyuruhnya untuk mundur, tetapi ia memaksakan diri untuk balas menatap pria itu dengan berani.

"Sudah mulai punya nyali sekarang? Jawab!" Kesabaran Rangga rupanya sudah habis. Ia kembali mencengkeram tengkuk Alya dan menyeret wanita itu menuju mobilnya.

Alya meronta dan berteriak, "Lepasin! Dasar sinting! Kamu mau ngapain?!"

Jauh di lubuk hatinya, Alya merasa ketakutan. Ke mana pria ini akan membawanya? Rangga benar-benar sudah gila. Di tengah keramaian publik seperti ini, apa dia tidak takut ada orang yang memotret dan memviralkan kelakuannya?

Rangga hanya mendecih sinis. Ia membuka pintu mobil dan mendorong Alya masuk ke kursi penumpang.

Tubuh Alya memang cukup tinggi, tetapi sangat ramping. Meringkuk di kursi penumpang seperti itu, ia terlihat begitu menyedihkan. Namun, matanya menyiratkan perlawanan yang menyala-nyala saat ia memelototi pria itu.

Melihat tatapan tajam itu, entah kenapa Rangga malah merasa geli. Tangannya sempat terhenti sejenak saat hendak menutup pintu mobil.

Memanfaatkan celah sepersekian detik itu, Alya buru-buru mendorong pintu mobil, bersiap untuk kabur.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya