Bab 11 Penghinaan Tanpa Dampak
Rangga sudah kehabisan kesabaran. "Kalau kamu nggak mau ayahmu mati, kembali ke sini!" bentaknya.
Langkah Alya terhenti. Ia memang sudah memindahkan Pak Wibowo ke rumah sakit lain, tapi ia tahu betul seberapa besar kekuasaan Rangga. Kalau pria itu ingin menemukan seseorang, itu hanya masalah waktu.
Kepanikan mulai menjalar. Alya berbalik sambil menggigit bibir bawahnya. "Apa lagi maumu? Aku sudah melunasi semua biaya rumah sakit. Aku nggak punya utang apa-apa lagi sama kamu."
"Oh, ya?" Suara Rangga terdengar sedingin es. "Kalau kamu bisa menjual harga dirimu, kenapa nggak sekalian kerja lebih keras buat bayar utang tiga puluh miliar Keluarga Kusuma kepadaku?"
Menjual harga diri? Kata-kata itu benar-benar mengiris perasaannya. Mata Alya berkaca-kaca, tak sanggup lagi mendengar kalimat kejam itu. "Bukan aku yang melakukannya. Sudah berkali-kali kubilang. Kenapa kamu selalu menyudutkanku? Apa karena statusku sebagai istrimu, kamu bisa menjadikanku tempat pelampiasan amarahmu?"
Mata perempuan itu yang memerah dan putus asa justru seolah menjadi hiburan tersendiri bagi Rangga. Pria itu menatapnya lekat, sementara sebuah perasaan asing tiba-tiba berdesir di dadanya. Sorot mata Rangga yang tajam memancarkan emosi yang sulit ditebak, membuat nyali Alya mendadak ciut. Ia langsung menyesali ucapannya barusan. Apa dayanya melawan Rangga? Pria itu bisa menghancurkannya semudah menginjak semut.
Wajah Alya memucat, bersiap menghadapi murka suaminya.
Namun, Rangga tidak meledak marah. Ia hanya mendecih sinis, "Makin tajam saja mulutmu."
Pria itu melangkah mendekat, auranya begitu mengintimidasi. "Sejak kapan kamu jadi seberani ini? Baru beberapa hari pisah rumah, kamu sudah banyak berubah."
"Apa sih, maumu?" Suara Alya bergetar. "Jangan bilang kamu malah jatuh cinta padaku dan nggak rela cerai."
Rangga tertawa dingin. "Konyol. Mana mungkin aku sudi mencintai perempuan murahan dan rendahan sepertimu?"
Perempuan ini bahkan tega menjual lukisan wajahnya. Apa dia sudah sebegitu melaratnya sampai butuh uang cepat?
Tatapannya yang dingin dan penuh cibiran seolah menegaskan, Memangnya kamu pantas?
Hati Alya terasa perih. Ia tahu Rangga tidak akan pernah mencintainya, tapi mendengarnya langsung dari mulut pria itu tetap saja menyakitkan.
"Kalau begitu, jauhi aku. Aku cuma mau melewati masa tunggu tiga puluh hari ini dengan tenang, setelah itu urusan kita selesai." Alya membalikkan badan, bersiap pergi.
Rangga membatin, Dia masih punya utang puluhan miliar dan begitu banyak janji padaku. Berani-beraninya dia bilang urusan kita selesai?
Raut wajahnya menggelap, tapi ia membiarkan perempuan itu pergi. Matanya terus mengikuti punggung Alya yang semakin menjauh.
Rangga menahan amarahnya, bertanya-tanya dalam hati, Sejak kapan aku jadi selembek ini, membiarkan dia bertingkah semaunya?
Di ujung jalan, Alya melihat Citra berlari tergopoh-gopoh menghampirinya bersama beberapa orang suruhannya.
"Al, lo nggak apa-apa, kan? Dia nyakitin lo nggak?" tanya Citra panik sambil memeriksa keadaan sahabatnya dari atas sampai bawah.
"Gue nggak apa-apa, Cit. Rangga nggak sekasar itu, kok," jawab Alya pelan.
Citra menatapnya tak percaya. "Cuma lo doang yang mikir gitu. Semua orang di lingkaran elite Jakarta tahu seberapa beringasnya dia. Emosinya tuh nggak ketebak, Al. Udah berapa banyak orang yang dibikin patah tulang gara-gara cari masalah sama dia?"
"Itu kan cuma gosip," sanggah Alya setelah terdiam sejenak.
"Gue tahu lo tuh udah terlalu bucin, makanya selalu ngelihat dia pakai kacamata kuda." Citra memutar bola matanya malas, lalu memberi isyarat agar orang-orang suruhannya pergi.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Citra nyeletuk, "Jangan-jangan sebenarnya Rangga tuh suka sama lo, tapi dia gengsi atau malah nggak nyadar sama perasaannya sendiri."
"Nggak mungkinlah," sahut Alya cepat sambil mengacak-acak rambut Citra. "Lo mikir apa, sih? Ngawur banget."
Citra tampak kebingungan. "Semua orang tahu tabiat aslinya Rangga. Siapa pun yang berani ngelawan dia pasti nasibnya tragis. Kalau dia emang benci, ada ribuan cara buat nyiksa lo. Terus ngapain dia buang-buang waktu nahan lo selama tiga tahun dan nggak mau cerai?"
Alya tersenyum getir. "Sekarang dia ngerasa hukumannya udah cukup. Apalagi perempuan kesayangannya udah kembali, makanya dia akhirnya setuju buat ceraikan aku."
Luka batin itu jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit fisik mana pun. Rangga tahu betul bahwa Alya sangat mencintainya, jadi pria itu sengaja menyakitinya dengan cara seperti ini—membuatnya terus mengemis cinta hanya dengan berbekal sepercik harapan semu.
Tak lama setelah itu, Alya menelepon Bima dan lega mengetahui adiknya itu masih di rumah sakit, aman dan tak kurang suatu apa pun. Tidak ada orang mencurigakan di sekitarnya. Alya menghela napas panjang, lalu berpesan agar Bima menjaga diri baik-baik dan jangan sampai menghubungi anggota keluarga lain, terutama Nita si pembuat onar.
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah lebih dari setengah bulan Alya bekerja di Safir Lounge, dan masa tunggu putusan cerainya tinggal tersisa sepuluh hari lagi.
Sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Safir, ia selalu memberikan penampilan piano terbaiknya setiap malam.
Surya kadang mampir, dan mereka mengobrol dengan akrab. Alya tahu pemuda itu sedang tergila-gila pada balapan mobil, benar-benar terobsesi sampai tak peduli meski keluarganya sudah berkali-kali melarang keras.
Surya juga sesekali menyinggung soal Lukman. Pria itu sungguh penuh teka-teki, jauh lebih misterius dari yang Alya kira. Penampilannya memang ramah dan berkelas, tapi tak ada satu pun orang yang berani mencari gara-gara dengannya.
Kehidupan Alya kini terasa damai, seolah masa lalunya hanyalah mimpi buruk semata. Ia mulai melupakan rasa sakit itu, dan serangan buta sesaat yang dulu sering menderanya pun tak pernah kambuh lagi.
Namun hari ini, kedamaian itu hancur berantakan.
Sore harinya, setelah jadwal utamanya selesai, Pak Gilang menariknya menjauh dari keramaian. Manajernya itu memintanya tampil untuk satu sesi tambahan. Bayarannya dua kali lipat, tapi kali ini untuk tamu di ruang VIP tertutup.
Dari raut wajah Pak Gilang, Alya tahu manajernya itu sangat berharap ia setuju. Tamu ini pasti orang penting.
"Baiklah, saya ganti baju dulu," jawabnya singkat.
Setelah berganti gaun, Pak Gilang mengantarnya ke sebuah ruang VIP mewah di lantai empat. "Ini ruangannya. Saya cek situasi di dalam dulu. Kalau sudah aman, nanti kamu baru masuk."
Alya mengangguk, sedikit heran melihat kehati-hatian pria itu. Tak lama, Pak Gilang keluar dan memberi isyarat agar ia masuk.
Tiba-tiba Pak Gilang menahan lengannya dan berbisik tegang, "Hati-hati, jangan sampai bikin tamunya tersinggung."
Alya sangat paham prinsip pembeli adalah raja. Namun, begitu melangkahkan kaki ke dalam ruangan dan melihat siapa yang duduk di sana, ia langsung menyesali keputusannya.
"Tuan Cakra, bukankah ini mantan istri Anda, Nona Alya? Kemarin ada yang bilang dia main piano di sini, dan kami sama sekali nggak percaya. Kejutan macam apa ini." Agung berdiri dengan seringai meremehkan, matanya menyapu gaun yang dikenakan Alya dengan tatapan merendahkan.
Tapi semakin lama dipandang, Agung harus mengakui perempuan itu terlihat luar biasa cantik. Tubuh Alya memang ramping, tapi lekuknya begitu pas dan proporsional. Gaun berpotongan duyung yang membalut tubuhnya membuatnya tampak memukau. Riasan wajahnya yang natural justru semakin menonjolkan kecantikan aslinya, membuatnya terlihat begitu bersinar.
Alya yang dulu selalu tampil penakut dan canggung, kini berdiri tegak memancarkan pesona yang begitu anggun dan percaya diri, membuat semua orang di ruangan itu tertegun.
"Agung, duduklah. Jangan menakut-nakuti Nona Alya." Laras angkat bicara, matanya melirik penuh arti ke arah Cakra yang duduk di sebelahnya.
Lukisan yang dibelinya seharga tujuh puluh lima miliar Rupiah waktu itu tiba-tiba diambil alih oleh Cakra, dan tak lama kemudian sekretaris pria itu menghubunginya, mentransfer ganti rugi sebesar sembilan puluh miliar. Kejanggalan itu membuat Laras curiga. Setelah menyelidikinya diam-diam, barulah ia tahu bahwa pelukis asli karya tersebut ternyata adalah Alya.
Fakta itu membuat rasa percaya diri Laras saat berada di dekat Cakra sedikit goyah. Ia ingin melihat langsung, seberapa penting sebenarnya posisi Alya di mata pria itu.
"Lo meremehkan Nona Alya, Ras. Dia ini primadona di sini, uang tipnya aja selangit. Nggak sembarang orang bisa saingan sama dia." Agung tertawa lepas, sengaja melirik Cakra yang masih bersandar di sofa.
Melihat Cakra hanya diam sambil memegang gelas minumannya dengan tenang, Agung menganggap itu sebagai lampu hijau. Ia pun semakin berani. Dipungutnya segenggam camilan dari atas meja, lalu dilemparnya ke arah Alya. "Hei, kita 'kan teman lama. Mainkan satu lagu gratis dong buat kita-kita."
Semua orang di ruangan itu hanya menonton, menikmati hiburan murahan tersebut.
Dengan tenang, Alya mengibaskan remah-remah camilan yang menempel di gaunnya. "Tentu, Tuan. Anda ingin mendengarkan lagu apa?"
"Wah, dermawan banget, jual diri secara cuma-cuma?" Ucapan Agung sontak disambut tawa mengejek dari seisi ruangan.
Raut wajah Alya seketika mengeras.
