Bab 2 Mari Bercerai

Kelab malam eksklusif.

Begitu Amalia tiba di depan pintu ruang VIP, terdengar suara pecahan kaca dari dalam.

Cemas memikirkan Dirga, ia langsung menerobos masuk. "Dirga, kamu—"

Ruangan itu penuh dengan anak-anak muda. Di tengah-tengah mereka, seorang pria dengan dua kancing kemeja teratas yang sengaja dibiarkan terbuka tampak bersandar santai di sofa. Tangannya memegang gelas wine, memancarkan aura elegan dan berkelas.

Seorang perempuan cantik duduk menempel padanya, tangannya bertengger manja di kerah kemeja pria itu. Benar-benar intim.

Pemandangan itu menghantam dada Amalia dengan keras. Rasanya ia ingin buta detik itu juga agar tak perlu melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain.

Namun, sebelum ia sempat mundur, suara dingin Dirga membelah udara, "Ngapain lo ke sini?"

Amalia membeku, bersirobok dengan tatapan Dirga yang tajam namun penuh rasa jijik. Sorot merendahkan itu meremas jantungnya kuat-kuat. Barulah ia sadar, Laras telah menjebaknya.

Pria itu sama sekali tidak mabuk. Dia hanya sedang nongkrong bersama teman-temannya. Dan Dirga selalu benci jika Amalia muncul di hadapan sirkel pertemanannya.

"Aku kira kamu mabuk, makanya aku datang buat jemput kamu pulang," ucap Amalia jujur.

Dirga mencibir, "Alasan bohong lo murahan banget."

"Dirga, Nona Kusuma kan cuma khawatir sama kamu," ucap perempuan itu dengan senyum manis, tangannya dengan sengaja merapikan kerah Dirga.

Namun, Amalia bisa menangkap bisa di balik kata-katanya. Tentu saja, ia tahu perempuan ini adalah Laras, mantan kekasih Dirga yang dengan terang-terangan pernah bersumpah akan merebut pria itu kembali. Fotonya bahkan masih terpajang di dinding kamar Dirga, membuat Amalia mustahil melupakan wajah Laras yang harus ia lihat setiap hari.

Dirga mendecih remeh, "Emangnya dia pantas peduli sama gue?"

Ia menepis tangan Laras, berdiri, dan berjalan menghampiri Amalia. Pria itu membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya, "Lagi sibuk akting jadi Nyonya Aditama? Takut orang-orang nggak tahu kalau gue nikah sama perempuan bersuami dua?"

Amalia menggigit bibir bawahnya, tetap bungkam seperti biasa saat pria itu merendahkannya.

Reaksinya seolah membuat Dirga bosan. Pria itu mengernyit tak sabar, kilat dingin terpancar dari matanya.

"Jangan sampai ada yang kedua kali. Keluar sana," usirnya.

Dirga tak sudi meliriknya lagi, kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan minum. Sementara itu, Laras langsung bergelayut manja di lengannya, membujuk, "Jangan marah dong, Ga. Habis dari sini, mampir ke apartemenku, ya."

Amalia seolah hanya sebutir debu yang tak kasat mata. Ruangan itu kembali dipenuhi gelak tawa, membiarkan sang Nyonya Aditama mematung di ambang pintu, tak mampu melangkah masuk.

Salah satu temannya bertanya, "Ga, dia nguntitin lo sampai ke sini?"

Teman yang lain menimpali, "Cewek matre kayak gitu nggak pantas dikasih hati. Dia cari muka ke kakek lo biar bisa maksa lo nikah, ngerusak hubungan lo sama Laras, dan dengan nggak tahu malunya nipu lo masuk ke pernikahan ini!"

Teman ketiga berkata dengan nada emosi, "Kapan-kapan gue kasih pelajaran tuh cewek, biar dendam lo terbalas, Ga!"

Teman keempat ikut menyahut, "Kalau bukan karena kakeknya Dirga, mending dia dikawinin aja sama kakek-kakek bau tanah itu terus disuruh jadi janda."

Mereka ingin menginjak-injak harga diri Amalia hingga setara dengan perempuan murahan. Tatapan mengejek dan penuh rasa jijik itu menusuk-nusuknya, menorehkan luka yang teramat perih.

Selama tiga tahun, kejadian seperti ini sudah terulang entah berapa kali; seharusnya ia sudah kebal. Tapi kenapa rasanya masih sesakit ini?

Pandangan Amalia mengabur, dan ia bahkan tidak sadar bagaimana caranya ia bisa keluar dari kelab malam itu.

Diterpa angin malam yang dingin menusuk tulang, ia berjalan sendirian menyusuri trotoar entah untuk berapa lama.

Tiba-tiba, sebuah mobil sport atap terbuka berwarna merah melakukan manuver tajam dan berhenti tepat di depannya. Kaca mobil diturunkan, dan Laras menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. "Tontonan yang lumayan seru malam ini, ya? Gimana, Dirga makin benci kan sama kamu?"

Amalia menundukkan pandangannya, tak punya tenaga untuk berdebat.

Ia merasa seperti pecundang sekarang; ia bahkan tak punya hak untuk mengangkat dagu dan melawan di hadapan Laras.

Amelia berkata pelan, "Posisi Nyonya Aditama baru bisa jadi milikmu kalau aku sudah nggak menginginkannya lagi."

Laras mencibir, "Sekarang aku udah kembali, mending kamu sadar diri dan pergi. Nggak usah ngemis-ngemis ke Dirga; malu-maluin."

Laila tiba-tiba tersenyum tersipu, "Ya sudah, aku nggak mau buang-buang waktu sama kamu. Mas Krisna mau datang sebentar lagi; kami sudah lama nggak ketemu. Aku yakin dia pasti bakal antusias banget malam ini."

Mobil itu melesat pergi, meninggalkan telinga Amalia yang berdenging dan hatinya yang mencelus.

Angin malam berembus tajam, menusuk hingga ke tulang.

Di malam pertama kepulangan Amalia, apa Krisna sebegitu tak sabarnya menghabiskan malam bersama cinta pertamanya? Apa laki-laki itu benar-benar tidak peduli sama sekali pada perasaannya?

Masih berpegang pada secercah harapan, Amalia duduk di sofa, menunggu Krisna semalaman suntuk.

Hingga fajar menyingsing, batang hidung suaminya itu sama sekali tak terlihat.

Amalia meringkuk di sofa dengan senyum getir, memeluk erat tubuhnya sendiri seolah hal itu bisa meredakan rasa sakit di dadanya.

Sudah bisa ditebak, tapi tetap saja ia enggan menerimanya. Krisna tidak pernah menjadi miliknya, sedetik pun tidak. Meski ia sudah mengejar laki-laki itu selama lebih dari sepuluh tahun, tak sekalipun ia berhasil mendapatkan walau hanya sebelah mata darinya.

Amalia merasa begitu lelah hingga bernapas pun terasa sangat berat.

Pandangannya perlahan mengabur, dan ia pun jatuh ke dalam kegelapan. Ia menyerah untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari luar pintu.

Amalia kehilangan penglihatannya untuk sementara. Hanya mengandalkan aroma yang tak asing baginya, ia sadar bahwa Krisna akhirnya pulang.

"Mas sudah pulang," ucapnya pelan.

Krisna tidak menjawab. Aroma pinus yang maskulin itu mendekat, disusul suara decit sofa yang melesak ke bawah.

Laki-laki itu benar-benar duduk di sofa yang tak jauh darinya? Jarak sedekat ini adalah sesuatu yang sangat langka dalam tiga tahun terakhir.

Hati Amalia melambung kegirangan dan ia tersenyum manis, "Mas belum makan, kan? Aku buatkan sarapan, ya."

Ia meraba-raba untuk berdiri, tetapi detik berikutnya, kakinya membentur sesuatu.

Tubuhnya oleng dan ia jatuh ke samping. Ia memejamkan mata ketakutan, bersiap menerima rasa sakit yang ternyata tak kunjung datang. Alih-alih membentur lantai, ia mendapati dirinya tenggelam dalam pelukan dada yang bidang dan kokoh.

Tangannya menyentuh otot perut yang hangat, suara napas teratur terdengar di atas kepalanya, dan aroma pinus yang dingin menguar di depan hidungnya. Ia baru sadar bahwa saat ini ia berada dalam pelukan Krisna.

"Maaf." Wajah Amalia memanas, dan ia buru-buru bangkit.

Namun detik berikutnya, Krisna menghempaskannya dengan kasar.

Tubuhnya menghantam lantai dengan keras. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya berkeringat dingin, tak mampu bergerak.

Krisna membentak, "Amalia, aku sudah peringatkan kamu untuk nggak main-main. Apa kamu memang serendah ini?"

Mendengar suara dingin penuh rasa jijik di atas kepalanya, tubuh Amalia bergetar, dan pandangannya perlahan kembali jelas.

Ia bersusah payah mengangkat kepala, melihat wajah Krisna yang jarang sekali menunjukkan amarah sebesar ini, sepasang matanya yang tajam dipenuhi rasa muak.

Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa hanya karena laki-laki itu menyentuhnya, lantas suaminya itu merasa sebegitu jijiknya?

Krisna menjulang di hadapannya, mencengkeram lehernya, lalu melemparnya kembali ke atas sofa. "Kali ini kamu merayuku demi uang, kan? Katakan, butuh berapa banyak untuk memuaskan keserakahanmu itu?"

"Apa maksud Mas?" Amalia tersengal mencari udara.

"Amalia, kamu masih mau pura-pura bodoh?" Krisna dengan murka melemparkan sesuatu ke atas sofa.

Itu adalah ponsel milik Amalia; pesan-pesan yang terpampang di layar sungguh mengerikan.

[Perempuan ini lumayan juga, coba kamu lihat.]

[Aku sudah bicara dengannya, asal kamu bisa bawa dia ke ranjang Krisna, dia bakal cari cara supaya bisa hamil anak Keluarga Suryaningrat!]

[Dia cuma minta tujuh setengah miliar, nggak banyak kok.]

"Nanti kalau sudah waktunya, pakai perut palsu dan pura-pura hamil sembilan bulan. Begitu perempuan itu melahirkan, bilang saja itu anakmu! Kalau sudah punya penerus dari Keluarga Suryaningrat, apa sih yang nggak bisa dikuasai Keluarga Tirta di Jakarta ini?"

Di kolom obrolan itu, rentetan pesan panjang dari Bu Nina butuh waktu lama untuk digulir sampai habis.

Setiap kata bagaikan pisau tajam yang menyayat wajah Amalia, membuatnya merasa sangat malu dan terhina.

"Maaf." Selain meminta maaf, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

Tumbuh di keluarga semacam itu, dengan seorang ibu yang begitu gila harta dan serakah, sudah menjadi nasibnya untuk selalu menanggung getahnya.

"Kita cerai saja." Suara Amalia terdengar parau.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya