Bab 3 Meninggalkan Di Sini

Alya tidak pernah menyangka akan mengatakan hal ini kepada Bima, tapi di sinilah ia sekarang...

Seharusnya sejak awal ia tidak pernah menikah dengan laki-laki itu.

Air mata mengalir deras di pipinya tanpa bisa ditahan, sementara Bima justru tertawa sinis.

Laki-laki itu tahu betul seberapa besar cinta Alya padanya. Kalau perempuan itu benar-benar ingin bercerai, pasti sudah dilakukannya sejak dulu. Ini pasti cuma salah satu akal-akalannya saja!

Bima mencengkeram dagu Alya dengan kasar, matanya menyorotkan rasa muak. "Sok jual mahal? Alya, kamu makin pintar main drama."

Bima sangat yakin Alya tidak akan pernah berani mewujudkan ancaman cerai itu.

Dan tebakannya seolah benar. Alya tidak membalas sepatah kata pun, ia hanya berbalik dan bergegas naik ke lantai atas.

Kamar tidur mereka gelap gulita. Alya berjalan gontai menuju nakas di samping tempat tidur, membuka lacinya, dan meraih sebotol obat penenang.

Ia tidak ingat di mana menaruh gelas minumnya, jadi ia langsung menelan beberapa butir pil itu begitu saja. Bersandar pada dinding yang dingin, Alya jatuh terduduk, membiarkan air matanya kembali tumpah.

Bayangan noda lipstik merah di kerah kemeja Bima masih tercetak jelas di benaknya—begitu mencolok dan seolah mengejeknya, layaknya bendera kemenangan dari perempuan lain.

Ucapan Laras ternyata benar. Mereka sudah lama tidak bertemu. Bima pasti begitu menggebu-gebu sampai-sampai laki-laki yang biasanya sangat gila kebersihan itu tidak peduli dengan noda lipstik yang tertinggal di kerahnya.

Bukankah itu bukti nyata cinta mereka? Sepertinya sudah saatnya Alya mengembalikan posisi yang memang bukan miliknya ini kepada perempuan pujaan suaminya itu.

Tepat ketika Bima mengira Alya hanya akan ngambek seperti biasa lalu kembali tenang, perempuan itu meletakkan sebuah map di hadapannya.

Alya berkata datar, "Coba dibaca. Kalau tidak ada masalah, tolong ditandatangani, dan kita bisa langsung ke Pengadilan Agama sama-sama."

Mendengar itu, mata Bima terbelalak.

Ia meraih dokumen itu dan melihat tulisan "Surat Gugatan Cerai" tercetak tebal seolah menantangnya.

Yang lebih membuatnya terkejut adalah sebuah kalimat kecil di bagian bawah: "Kedua belah pihak tidak memiliki anak dalam pernikahan, dan tidak ada harta gono-gini yang menuntut untuk dibagi."

Alya, yang selama ini selalu perhitungan soal uang, rela pergi tanpa membawa sepeser pun?

Bima mendecih sinis, "Oke, kalau kamu memang mau cerai, kita berangkat sekarang."

Dari yang ia tahu tentang istrinya, Alya tidak akan berani melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Perempuan itu pasti ujung-ujungnya akan menangis dan memohon padanya, bilang kalau dia salah, menyesal, dan memohon agar tidak diceraikan...

"Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu." Suara Alya terdengar begitu tenang.

Untuk perpisahan ini, ia ingin tampil terhormat. Bagaimanapun juga, pernikahan mereka dulu dimulai dengan cara yang jauh dari kata pantas. Kini, ia hanya ingin mengakhiri rumah tangga ini dengan cara yang baik-baik.

Tak lama kemudian, Alya keluar dari kamar. Ia mengenakan gaun selutut yang sederhana namun anggun, rambut panjangnya digelung rapi, dan wajahnya dipoles riasan tipis yang natural. Dengan keanggunan yang bersahaja, ia memancarkan kecantikan yang sesungguhnya dari dalam dirinya.

"Ayo berangkat." Menghadapi perceraian ini, ketenangan Alya sungguh di luar dugaan.

Tepat pada detik itulah Bima baru benar-benar menyadari bahwa Alya sama sekali tidak main-main soal perceraian ini.

Entah kenapa, ada rasa kesal yang tiba-tiba membakar dadanya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Bima melirik layar ponselnya lalu menepis suasana tegang itu dengan berkata, "Ada urusan mendadak di kantor. Kita urus cerainya kapan-kapan saja."

Setelah hari itu, Bima tidak pulang ke rumah selama beberapa hari.

Selama hari-hari itu pula, ia tidak lagi menerima pesan WhatsApp yang biasanya selalu masuk tepat pukul tiga sore dari Alya, menanyakan apakah ia akan pulang untuk makan malam—rutinitas yang tak pernah absen selama tiga tahun terakhir. Apa perempuan itu sudah sadar akan kesalahannya dan terlalu gengsi untuk menghubunginya duluan?

Menjelang malam, Bima menerima telepon dari asisten rumah tangganya, Bi Inah. "Pak Bima, hari ini saya datang buat bersih-bersih, tapi dari pagi saya nggak lihat Ibu di rumah."

Bi Inah memang hanya datang seminggu sekali untuk bersih-bersih menyeluruh. Selama ini Alya bilang ia tidak punya banyak kesibukan, jadi urusan menyapu, mencuci, dan memasak bisa ia tangani sendiri.

"Biarin aja, Bi." Bima menanggapi dengan santai.

"Tapi, Pak..." Suara Bi Inah terdengar ragu, "Waktu saya beresin kamar utama, saya lihat baju-baju Ibu di lemari sudah kosong semua, terus..."

Bima menyela, "Terus apa, Bi?"

Bi Inah melanjutkan, "Ibu ninggalin map surat cerai sama secarik kertas di atas meja. Tulisannya, 'Kabari aku kalau Mas sudah ada waktu luang untuk urus sidang cerainya ke pengadilan.'"

Mendengar laporan itu, mata Bima menyipit tajam. Ia tidak pernah menyangka Alya benar-benar berani meninggalkannya.

Selama tiga tahun ini, seburuk dan semenyakitkan apa pun perlakuan yang ia berikan, perempuan itu selalu menelannya dalam diam. Apa kali ini dia benar-benar serius?

Sementara itu, Alya sudah seminggu menginap di Vila Puncak, dan hal itu mulai membuat Nisa curiga.

Ketika Bu Ratna melihat Kris sedang diwawancarai di saluran berita bisnis televisi, amarahnya langsung meledak. Ia melangkah lebar dan menerobos masuk ke kamar Amalia.

"Bukannya kamu bilang Kris lagi dinas ke luar kota, makanya kamu pulang ke sini buat nginep beberapa hari? Kris jelas-jelas ada di Jakarta! Bukannya ngurus suami di rumah, ngapain kamu malah di sini?"

Ada yang tidak beres. Bu Ratna sangat mengenal putrinya. Seburuk apa pun perlakuan Kris, Amalia tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Pasti hanya ada satu alasan.

Tanpa aba-aba, Bu Ratna menarik kasar kerah baju Amalia, memaksanya bangun dari kasur. "Kris ngusir kamu? Dia mau cerai?"

Hari di mana Amalia pergi dari kediaman keluarga Dirgantara bertepatan dengan hujan badai yang mengguyur deras. Ia kehujanan di jalan, dan setibanya di rumah, demam tinggi langsung menyerangnya hingga ia hanya bisa terbaring lemah di ranjang.

Setelah ditarik paksa oleh ibunya, kepala Amalia terasa begitu berat sampai-sampai ia hampir tidak bisa berdiri tegak.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Amalia berucap pelan, "Aku mau cerai sama Mas Kris."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Amalia. Bu Ratna membentak penuh amarah, "Ibu nggak mau tahu! Kamu balik sekarang juga dan ngemis minta maaf sama dia! Kalau nggak... Pak Broto baru aja ditinggal mati istrinya, Ibu bakal nikahin kamu sama dia besok juga! Keluarga Kusuma butuh dukungan keluarga besar, dan siapa pun keluarga itu, semuanya bergantung sama kamu!"

Pak Broto yang dimaksud ibunya adalah orang yang Amalia kenal. Keluarganya adalah juragan tambang batu bara, dan pria itu pasti sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun sekarang.

Amalia tersenyum getir, sulit percaya ada seorang ibu yang tega menikahkan darah dagingnya sendiri dengan kakek bau tanah yang sudah hampir mati.

Namun ia tahu, dengan obsesi ibunya pada harta dan kekuasaan, wanita itu bisa melakukan apa saja.

Amalia sungguh tidak mengerti. Padahal ia dan Karina sama-sama anak kandung keluarga Kusuma. Kenapa perlakuan yang mereka terima bagaikan bumi dan langit?

Karina mendapatkan semua yang ia mau, bisa melakukan apa pun yang ia suka, dan bebas menjalin cinta dengan siapa saja. Ia hidup layaknya tuan putri yang tak punya beban sejak kecil.

Sedangkan Amalia? Hanya karena ia terlahir dengan cacat penglihatan bawaan, apakah ia ditakdirkan menjadi anak buangan yang hanya bisa dimanfaatkan sejak ia menghirup napas pertama di dunia?

"Ngapain kamu masih diam di situ? Cepat angkat kaki dan balik ke rumah keluarga Dirgantara sana!" Bu Ratna yang sudah kehilangan kesabaran mendorong Amalia dengan kasar.

Karena tidak siap, tubuh Amalia terhuyung ke belakang. Brak! Bagian belakang kepalanya membentur sudut ranjang dengan keras. Seketika, pandangannya menggelap dan ia kehilangan kesadaran.

Ketika ia membuka mata, hari sudah berganti. Bau menyengat karbol dan suara tit-tit-tit dari alat monitor medis menyadarkannya bahwa ia sedang berada di rumah sakit.

"Kamu udah sadar, Lia?" Siska, yang sejak tadi menemani di sisinya, menghela napas lega melihat sahabatnya akhirnya membuka mata. "Lia, dengerin aku. Kamu harus secepatnya dioperasi. Sekarang penglihatanmu memang cuma kabur, tapi kalau gejala kebutaan sementaranya mulai muncul, itu bakal makin sering dan makin lama. Ujung-ujungnya kamu bisa buta total. Kalau nggak cepat-cepat ditangani, semuanya bakal terlambat!"

Siska bukan cuma sahabat terbaik Amalia, tapi juga salah satu dokter spesialis mata paling ternama di negeri ini.

"Aku..."

Amalia tidak tahu bagaimana cara memberitahu sahabatnya itu bahwa ia sudah mengalami kebutaan sementara sebanyak tiga kali. Apakah ini artinya sudah terlambat?

Amalia akhirnya berucap, "Biar aku pikir-pikir dulu."

Masih ada hal penting yang harus ia selesaikan. Dan yang paling utama, ia belum sempat menatap wajah Kris, pria yang begitu dicintainya, untuk yang terakhir kalinya.

Setelah mengatakan itu, Amalia membalikkan badan, memunggungi Siska, dan berkata pelan, "Aku capek. Aku mau istirahat."

Siska tidak banyak bicara lagi dan memilih keluar dari ruangan.

Tak lama berselang, Amalia mendengar suara langkah kaki mendekat, disusul oleh tawa sinis. "Kudengar kamu sakit parah, ya?"

Amalia sangat peka terhadap suara, dan ia langsung tahu bahwa itu adalah Laras.

Laras melanjutkan, "Walaupun dioperasi, peluangmu buat sembuh total cuma tiga puluh persen. Kamu terus-terusan nolak operasi karena kamu takut diceraikan Kris kalau sampai kamu buta total, kan? Ngaku aja."

Ucapan Laras ada benarnya. Amalia memang takut kehilangan penglihatannya, tapi ia tidak takut dibuang. Yang paling ia takutkan adalah ia tidak akan pernah bisa melihat wajah Kris lagi.

Amalia menggigit bibir bawahnya, memilih bungkam.

Merasa tebakannya tepat sasaran, Laras kembali berucap, "Menurutmu, apa yang bakal terjadi kalau aku ngasih tahu mertuamu soal cacat matamu itu?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya