Bab 4 Saya Ingin Menceraikan Dia
Wajah Alya memucat kaku. Sorot matanya memancarkan amarah, tapi bibirnya terkunci rapat.
"Lo tahu 'kan bakal seheboh apa kalau sampai masalah ini bocor?" Laras tersenyum sinis, tampak sangat puas melihat reaksi Alya. "Mending lo mundur sekarang, seenggaknya lo masih punya harga diri. Pikirin baik-baik, deh."
Di luar, hujan mulai turun semakin deras.
Alya membatin, ia hanya akan menatap Rangga lekat-lekat untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, ia akan menyerah dan melakukan apa yang memang harus ia lakukan.
Diiringi gelegar petir, taksi yang ditumpangi Alya berhenti tepat di depan gerbang Kediaman Keluarga Suryokusumo.
Ia melindungi kepala dengan kedua tangannya dan berlari menerobos hujan.
Di tengah guyuran badai, pandangannya mengabur. Ia hanya bisa mengandalkan insting untuk mencari jalan.
Saat makin dekat ke bangunan utama, sayup-sayup ia melihat sosok yang sangat dikenalnya dari kejauhan.
"Bapak? Ngapain Bapak di sini? Bukannya Bapak harusnya di rumah sakit?" tanya Alya terkejut bukan main saat menyadari siapa sosok itu. Itu adalah Pak Wibowo, ayahnya. Kondisi kesehatannya terus menurun selama beberapa tahun terakhir, membuatnya harus bolak-balik dirawat. Ditambah lagi, perusahaannya sedang berada di ujung tanduk, membuat pria paruh baya itu selalu sibuk dan nyaris tak punya waktu untuk Alya.
"Mengharukan sekali, reuni bapak dan anak," ucap Rangga dingin. Pria itu menatap mereka dari atas undakan teras, angkuh layaknya seorang raja yang sedang mengawasi rakyat jelata.
"Alya, Bapak nggak apa-apa," ucap Pak Wibowo dengan senyum getir, sebelum menengadah menatap Rangga.
"Nak Rangga, Alya sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang," mohon Pak Wibowo memelas. "Kalau kamu menceraikannya, dengan kekuasaan Keluarga Suryokusumo, apa jadinya nasib anak saya nanti? Tolong, jangan lakukan ini. Kamu boleh berhubungan dengan perempuan mana pun, asalkan jangan ceraikan Alya!"
Di bawah guyuran hujan lebat, pakaian Pak Wibowo basah kuyup. Air hujan mengalir deras di wajahnya yang mulai keriput, memperjelas raut keputusasaan dan kekhawatiran yang mendalam.
Hati Alya hancur berkeping-keping. Air mata bercampur dengan air hujan di wajahnya saat ia memeluk erat lengan ayahnya, berteriak parau, "Ayo kita pulang, Pak. Alya mohon!"
Ia sudah kehilangan seluruh harga dirinya; sanggupkah ia menanggung lebih banyak penghinaan lagi?
"Alya, ayo ikut mohon sama suamimu! Dia pasti akan mempertimbangkan kenangan kalian selama ini dan mempertahankanmu," desak Pak Wibowo sambil mencengkeram tangan putrinya erat-erat. Wajahnya pucat pasi dan suaranya terdengar serak. "Cepat, Nak. Mohon padanya sekarang!"
Alya mengertakkan rahangnya dan berdesis, "Ayo kita pulang, Pak."
"Hebat juga nyalimu, sampai bawa-bawa bapakmu buat ngemis di sini," Rangga akhirnya angkat bicara, nada suaranya penuh ejekan. "Sayangnya, kamu sama sekali nggak pantas dipertahankan."
Hati Alya terasa seperti ditusuk ribuan jarum; ia memaksakan diri mendongak menatap pria itu.
Pandangan mereka bersirobok; Rangga tetap terlihat begitu terhormat dan berkuasa, sementara Alya tampak sangat menyedihkan.
Hujan deras membuat pria itu terlihat semakin dingin dan tak tersentuh, sangat kontras dengan Alya yang tampak begitu hancur.
Menahan tangisnya yang nyaris pecah, Alya memohon pada ayahnya, "Pak, ayo pulang. Dia nggak bakal setuju."
Pak Wibowo mengatupkan rahangnya. "Cuma Nak Rangga satu-satunya harapanmu sekarang, Nduk!"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pria paruh baya itu mulai terbatuk hebat. Matanya memancarkan kesedihan dan kekhawatiran yang teramat sangat.
Kondisi kesehatannya sudah sangat kritis, dan ia tak lagi mampu melindungi masa depan Alya. Sekali perceraian itu terjadi, Alya akan menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuh mereka, dan hidup putrinya itu akan benar-benar hancur berantakan.
"Pak Wibowo, Bapak pikir kehadiran Bapak di sini akan membuat saya merasa bersalah?" Nada suara Dimas terdengar dingin, tatapannya penuh rasa jijik. "Apa yang membuat Bapak berpikir saya akan mengasihaninya?"
Perempuan yang telah memberinya aib sebesar itu sama sekali tidak pantas mendapatkan secuil pun belas kasihannya.
Wibowo memohon, "Tolong, demi saya."
"Bapak, sudah, Pak." Alya jatuh bersimpuh. "Alya mohon, ayo kita pulang."
"Alya, kamu, kamu..." Wibowo tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba ia mencengkeram dadanya dan ambruk, tak sadarkan diri.
"Bapak! Bapak!" jerit Alya, berusaha menahan tubuh ayahnya yang tumbang. "Tolong panggilkan ambulans!"
Wibowo terkena serangan jantung mendadak, nyaris meregang nyawa.
Alya berjaga di depan ruang ICU semalaman, berkali-kali berada di ambang kehancuran. Bisakah dunianya menjadi lebih gelap dari ini?
"Bapakmu itu baik-baik saja di rumah sakit, kenapa tiba-tiba dia kabur dan kena serangan begini?" Suara melengking Nita membelah keheningan dari belakang Alya. "Anak tidak tahu diuntung, belum cukup kamu menyusahkan keluarga kita? Dasar pembawa sial; kamu sudah menghancurkan perusahaan, dan sekarang kamu mencelakai ayahmu sendiri!"
Teriakan Nita memancing perhatian orang-orang di luar bangsal, semuanya menonton penderitaan Alya.
Alya hanya duduk diam, menelan semuanya dalam kebisuan.
"Bicara! Kamu tuli ya?" Nita mencubit lengan Alya dengan keras. "Kamu sudah coba memohon pada Dimas belum? Kalau dia bersikeras mau menceraikanmu, kamu..."
"Alya nggak akan pernah memohon padanya lagi!" Alya tiba-tiba mendongak, suaranya bergetar. "Alya mau cerai."
Tidak ada yang tahu bagaimana ia melewati malam yang panjang itu. Ia memutar kembali setiap kenangan di kepalanya, mulai dari pandangan pertama hingga pernikahannya dengan Dimas. Dan ternyata, semuanya hanyalah lelucon dan tragedi sejak awal. Hanya dia, si bodoh ini, yang mengira sedang menggenggam cinta sejati. Hujan deras semalam telah menyapu bersih sisa-sisa harapan yang ia miliki dalam cinta yang menipu diri sendiri ini. Terlebih lagi, ia tidak ingin keluarganya menanggung penghinaan seperti itu lagi. Tekadnya sudah bulat untuk menceraikan Dimas.
"Apa?" Nita bertanya tak percaya. "Kamu sadar nggak sama apa yang kamu omongin? Alya, kamu sudah gila ya?"
Alya tidak menjawab.
Nita membentak, "Anak kurang ajar, kamu mau cerai? Nggak bisa! Ayahmu lagi begini, dan perusahaan kita di ambang kebangkrutan. Kalau kamu cerai, keluarga kita mau makan apa? Kalau kamu berani cerai, Ibu bakal nikahkan kamu sama Pak Broto yang umurnya sudah tujuh puluh tahun itu!"
Kata-kata penuh amarah Nita menggema di lorong rumah sakit, membuat Alya merasa sesak napas.
Nita berteriak, "Anak sialan, jawab!"
Melihat Alya yang masih menundukkan kepala dalam diam, Nita menamparnya dengan keras.
Alya yang tidak siap langsung tersungkur ke lantai. Rasa sakit yang tajam menghantamnya, pandangannya menggelap, dan ia pun kehilangan kesadaran.
Ketika ia kembali membuka mata, ia sudah berada di atas ranjang yang hangat.
Alya mengerjapkan matanya yang masih berkunang-kunang, dan menyadari bahwa ia berada di kamar bernuansa merah muda milik sahabatnya, Sofi.
"Udah bangun, Al?" Sofi membawakan segelas air hangat. "Lo pingsan berjam-jam, tapi syukurlah sekarang udah sadar. Gimana perasaan lo?"
Alya tidak menjawab pertanyaan itu; alih-alih, dengan suara serak ia langsung bertanya panik, "Gimana keadaan Bapak?"
