Bab 6 Teman Sekelas Pria
Siska bilang ayahnya sudah dipindahkan ke rumah sakit lain, tapi dia sama sekali tidak tahu ke mana.
Dari ucapan Krisna, Amel yakin Pandu pasti sedang bersamanya.
"Buat apa aku memberitahumu?" Krisna mencibir, ujung jarinya mendongakkan dagu perempuan itu. "Nona Larasati, baru saja kamu bertingkah seolah tak takut mati. Kenapa nyalimu mendadak ciut?"
Laki-laki itu tertawa sinis, terdengar begitu kejam.
Amel mematung, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dia benar-benar buntu. Bagaimana ceritanya dia bisa berurusan dengan laki-laki seberengsek ini?
Dalam sekejap, Krisna melepaskan cengkeramannya dan masuk ke dalam mobil.
Amel berlari mengejarnya, menggedor-gedor kaca jendela mobil dengan air mata yang membasahi pipi. "Krisna, di mana ayahku? Kasih tahu aku!"
Krisna menyalakan mesin, sengaja melajukan mobilnya pelan-pelan agar Amel bisa terus mengejar dan tersiksa. Dia puas melihat perempuan itu tampak begitu kacau dan putus asa.
"Krisna, kasih tahu aku! Di mana ayahku?!" Suara Amel bergetar. Kakinya tersandung, membuatnya jatuh tersungkur. Suara klakson mobil menyalak keras, disusul derit rem yang memekakkan telinga.
Di detik terakhir, sebuah lengan kokoh menariknya mundur.
"Kamu nggak apa-apa? Kok bisa seceroboh ini sih?" Seorang pria, tampak terkejut sekaligus cemas, memegang kedua bahunya. "Amel? Ini kamu, kan?"
"Surya?" Mata mereka bersirobok, dan Amel langsung mengenali raut wajah itu.
Surya Dewangga, teman sekelasnya semasa SMA yang selalu bersaing dengannya tapi tak pernah menang. Laki-laki yang selalu jadi juara dua, yang dulu langganan jadi bahan ledekan.
Mereka adalah rival akademik sepanjang masa sekolah, sampai ujian akhir nasional di mana Amel tetap keluar sebagai peraih nilai tertinggi.
"Kamu ngapain di sini?" Surya tampak sangat terkejut.
Melihat keadaan perempuan itu yang berantakan, Surya nyaris tak percaya. Bagaimana bisa Amel yang selalu tegar dan serbabisa berakhir menyedihkan seperti ini?
"Bisa tolong aku?" Suara Amel terdengar serak. Telunjuknya mengarah pada SUV hitam yang kian menjauh. "Tolong kejar mobil itu."
Surya tak ragu sedetik pun.
Dia membantu Amel masuk ke kursi penumpang. "Pakai sabuk pengamanmu, pegangan yang kencang!"
Surya memacu mobilnya dengan beringas, berhasil menyusul mobil Krisna hanya dalam hitungan menit.
"Dia siapa sih? Kenapa kamu ngejar dia sampai hampir ketabrak begitu? Sinting tuh orang!" Surya menoleh sekilas sambil terus memegang kemudi.
Krisna menurunkan kaca jendelanya, tatapan tajamnya menyapu mereka berdua.
Surya mendadak tegang.
Amel mencengkeram bahu Surya, menatap tajam ke arah Krisna. "Di mana ayahku, Krisna? Jangan macam-macam! Kalau sampai terjadi apa-apa sama beliau, aku nggak akan pernah maafin kamu!"
Krisna membalas dengan tatapan bengis, tapi matanya justru terpaku pada tangan Amel.
Perempuan itu nyaris bersandar sepenuhnya pada tubuh Surya, tapi sepertinya dia sama sekali tidak menyadarinya.
Mata Krisna menyipit. Amarahnya tersulut.
Dia menepikan mobilnya dan bergegas turun.
Surya pun refleks ikut berhenti.
Sebelum mereka sempat bereaksi, Krisna sudah berada di samping pintu mobil mereka, menyentak Amel keluar dengan kasar.
Surya buru-buru menahan lengan Amel. "Hei! Apa-apaan ini? Amel, aku harus bantu apa?"
Belum sempat Surya bertindak lebih jauh, Krisna sudah menarik Amel menjauh, nyaris menggendongnya keluar secara paksa. Laki-laki itu merenggut pashmina yang melingkar di bahu Amel dan membuangnya begitu saja ke tanah, raut wajahnya menyiratkan rasa jijik karena kain itu telah disentuh oleh laki-laki asing.
"Kamu gila, ya? Apa-apaan sih?!" Amel, yang kini hanya berbalut gaun camisole putih tipis, menatapnya garang. Namun, kemarahannya sama sekali tidak terlihat mengancam, malah membuatnya tampak seperti anak kucing yang sedang mengamuk.
Rangga tampak geli melihat reaksinya. "Lo pikir gue tertarik sama lo?" cibirnya, lalu mendorong Alya masuk ke kursi penumpang tanpa basa-basi lagi.
Alya hanya bungkam. Ia tahu laki-laki itu akan membawanya menemui sang ayah, Pak Wibowo.
Rangga menyetir ugal-ugalan seperti orang gila, memacu dan menurunkan kecepatan mobilnya secara acak, seolah sedang berusaha menyingkirkan seseorang yang membuntuti mereka.
Sekitar sepuluh menit berlalu, Alya menyadari ada yang tak beres. Dari kaca spion, ia melihat mobil Bima terus mengekor dalam jarak yang konstan.
Saat Rangga mengebut, Bima ikut mengebut. Saat Rangga melambat, Bima pun melambat. Rangga benar-benar tak bisa melepaskan diri dari kejarannya.
"Siapa sih bajingan itu?" geram Rangga dengan rahang mengeras.
Alya tetap membisu.
"Jawab gue!" Nada suaranya membentak kasar, memancarkan aura yang begitu mengintimidasi.
Tubuh Alya gemetar, air matanya mulai menggenang. Ia mengusap wajahnya kasar hingga riasannya berantakan.
Melihat Alya seperti itu, Rangga tiba-tiba berhenti mendesak dan memukul setir mobil dengan keras. "Bangsat!"
Mereka akhirnya tiba di pelataran sebuah rumah sakit swasta elit.
Alya bergegas menuju gedung rawat inap dan mendapati ayahnya dirawat di lantai satu. Ia langsung berlari masuk.
Pak Wibowo sudah siuman, seorang perawat tampak sedang membantunya meminum obat.
Wajah pria paruh baya itu langsung semringah begitu melihat putrinya. "Alya, kamu datang, Nduk. Rangga mana?"
Alya tak menjawab. Ia berlari menghampiri dan memeluk ayahnya erat-erat. "Bapak... syukurlah Bapak nggak apa-apa. Alya khawatir banget. Kok Bapak bisa sampai dirawat di sini? Perawatannya bagus, kan? Dokternya bilang apa?"
Pak Wibowo mengelus puncak kepala putrinya dengan lembut. "Dasar anak manja, ini semua berkat Rangga. Dia yang pindahin Bapak ke sini dan cariin tim dokter spesialis yang baru. Kata mereka, Bapak cuma..."
"Maaf, Mbak, pasien belum boleh banyak bicara dulu. Biarkan Bapak istirahat," sela sang perawat ramah.
Alya tertegun. Ayahnya baru saja melewati masa kritis. Itu berarti, saat ia dan Rangga berada di Pengadilan Agama tadi, laki-laki itu sebenarnya sudah tahu kalau kondisi Pak Wibowo sedang memburuk dan tetap bersikeras membawanya pergi dari sana. Apa mungkin Rangga sepeduli itu?
Namun, Alya tak mau terlalu memikirkannya. Ia membantu ayahnya berbaring, mengajaknya mengobrol sebentar, lalu menemaninya sampai pria itu tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian, dengan berat hati ia melangkah keluar dari ruang rawat.
Rangga tampak duduk menunggu di kursi panjang lorong rumah sakit. Kakinya menyilang santai sambil memainkan ponsel. Sekilas ia terlihat seperti pria pada umumnya, jika saja tak ada wajah tampan yang mencolok dan aura dominan yang selalu menguar darinya. Namun, Alya sudah terlalu paham untuk tidak memupuk harapan kosong atau sekadar berterima kasih padanya.
"Bima Wijaya, pewaris Keluarga Wijaya yang sok-sokan mau jadi pembalap. Pantas saja dia bisa ngimbangin kecepatan gue." Rangga mendongak, menatap Alya dengan sorot tajam yang menusuk. "Tapi, apa keluarga kroco macam Wijaya itu pikir mereka bisa main-main sama gue?"
Dada Alya terasa sesak. "Gue cuma kebetulan ketemu dia. Dia nggak ngelakuin apa-apa ke elo. Tolong, jangan cari masalah sama dia."
Begitu kata-kata itu meluncur dari bibirnya, Alya langsung sadar bahwa ucapannya justru bisa membahayakan Bima. Ia pun buru-buru menutup mulut.
Ia terlalu mengenal Rangga. Sebagai mantan istrinya, Alya sangat paham betapa posesifnya laki-laki itu. Sekalipun Rangga tak pernah mencintainya, pria itu pasti akan mengamuk besar jika mengira Alya berselingkuh saat mereka masih terikat pernikahan.
Rangga perlahan bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar menjulang mengintimidasi Alya. "Dia masih di luar, ngotot pengin ketemu sama lo."
