Bab 7 Lima Ratus Ribu Dolar dalam Tujuh Hari

Krisna menatapnya tajam, setiap kata yang meluncur dari bibirnya terasa seperti racun yang mematikan.

Alya merasa tak ubahnya sebuah boneka, tak berdaya di bawah kendali pria itu, harga dirinya seolah direnggut habis.

"Kita baru saja resmi cerai dan kamu sudah sibuk cari suami pengganti?" cibir Krisna saat melihat perempuan itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya dalam diam. "Berdandan seperti perempuan murahan, berharap bisa jual diri dengan harga lebih mahal?"

"Jaga bicaramu!" bentak Alya, kesabarannya benar-benar sudah habis.

Kedua matanya memerah, menatap lurus ke manik mata pria itu. "Kenapa kamu repot-repot mengurusi hidupku? Belum bisa move on, ya? Atau jangan-jangan kamu menyesal kita bercerai? Kok bisa-bisanya mulutmu sejahat itu—Tuan Wijaya, kamu memang selalu berhasil bikin aku tak habis pikir!"

"Aku yang jahat?" Senyum sinis Krisna lenyap seketika, berganti dengan sorot kebencian yang pekat. "Memangnya ada yang lebih kejam dari perempuan sepertimu?"

Tatapan dingin dan menusuk itu kembali melempar Alya ke masa lalu, meski semua yang terjadi saat itu bukanlah atas kemauannya sendiri.

"Sebenarnya apa maumu? Taruhlah aku yang salah, tapi bukannya aku sudah menebus semuanya? Kita ini sudah cerai. Kalau kamu mau balas dendam, lampiaskan saja padaku. Kenapa harus menyeret orang yang nggak tahu apa-apa?" Alya mengusap kasar air matanya, suaranya bergetar menahan benci.

"Menyeretnya?" cibir Krisna. "Memangnya dia selevel denganku sampai harus kuurus?"

Punggung Alya menegang saat melihat pria itu mengibaskan tangan dengan arogan, memberi isyarat pada anak buahnya. "Lepaskan saja pecundang itu."

Alya baru saja menghela napas lega, namun suara ejekan Krisna kembali menyayat telinganya. "Laki-laki hidung belang itu lumayan tampan juga buatmu. Pastikan saja kali ini kamu pasang tarif yang mahal."

Pikiran Alya mendadak kosong. Kata-kata kejam itu terus terngiang di telinganya. Sebenci itukah Krisna padanya? Apakah selama ini pria itu tak pernah punya sedikit pun perasaan padanya?

"Tuan Wijaya, simpan saja perhatianmu itu!" Alya mengumpulkan sisa-sisa ketegarannya dan membalas dengan tajam, "Siapa pun yang akan kunikahi atau apa pun yang terjadi padaku kelak, itu bukan urusanmu lagi."

"Tunggu dulu." Krisna melipat kedua tangan di dada, memindai perempuan itu.

"Apa lagi maksudmu?" Alya menggeretakkan giginya.

Salah satu asisten Krisna melangkah maju, menyodorkan selembar rincian tagihan rumah sakit. "Nona Larasati, ini adalah total biaya perawatan ayah Anda sejak kemarin, semuanya mencapai 1,2 miliar Rupiah. Mengingat kondisi beliau yang masih belum stabil, beliau harus dirawat inap beberapa hari lagi. Anda harus menyiapkan dana sebesar 7,5 miliar Rupiah."

Alya tersentak kaget. Rumah sakit swasta milik keluarga Wijaya ini memang terkenal dengan fasilitas kelas atasnya, tapi untuk makan sehari-hari saja Alya sudah kesulitan. Dari mana ia bisa mendapatkan uang miliaran Rupiah dalam waktu singkat?

"Saya rasa uang segitu cuma receh buat Nona Larasati. Toh, dulu kamu berhasil menjual dirimu seharga puluhan triliun Rupiah, kan?" Tatapan Krisna sedingin es, namun menyiratkan makna yang sangat merendahkan. Pria itu seolah menyuruhnya untuk kembali melacurkan diri demi mendapatkan uang dengan nominal yang sama.

Harga diri dan sisa-sisa cinta di hati Alya hancur lebur hingga ia tak mampu lagi berkata-kata. Dadanya sesak bukan main. Sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat, ia membalikkan badan, berniat pergi dari sana.

"Nona Larasati, Anda harus melunasi pembayarannya dalam waktu satu minggu," asisten itu mengingatkan dari belakang.

"Akan kulunasi!" Alya menoleh dan menyorotkan tatapan tajam pada Krisna.

Kali ini, sikap dingin pria itu benar-benar menggoreskan luka yang teramat dalam, menyapu bersih segala sisa kasih sayang maupun penyesalan yang sempat singgah di hatinya.

Tapi, dari mana ia bisa mendapatkan uang tujuh setengah miliar Rupiah? Selama bertahun-tahun ia hanya menjadi ibu rumah tangga tanpa penghasilan sepeser pun. Kalaupun ada perusahaan yang mau menerimanya bekerja hari ini juga, mustahil ia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu hanya dalam seminggu.

Alya berjalan gontai keluar dari lobi rumah sakit dengan pikiran kalut. Tak jauh dari sana, ia melihat Satria berlari kecil menghampirinya.

"Al, sebenarnya ada masalah apa antara lo dan Krisna? Kenapa dia sampai segitunya sama lo? Mentang-mentang dia orang kaya, kelakuannya udah kelewatan banget," tanyanya dengan raut wajah cemas.

Hati Alya sedikit menghangat mendengar kepedulian pria itu. Ia nyaris menceritakan semuanya, namun segera mengurungkan niatnya. Mereka berdua hanyalah teman lama semasa SMA; Alya tidak mau menyeret Satria ke dalam pusaran masalahnya.

"Nggak ada apa-apa, kok. Makasih banyak ya buat hari ini," ucapnya seraya memaksakan sebuah senyum tipis. "Gue duluan, ya."

"Lo pulang naik apa? Jangan buru-buru dong. Bagi kontak lo dulu sini. Kapan-kapan lo bisa traktir gue makan buat tanda terima kasih." Bima menyusul langkahnya, menyodorkan layar ponsel yang menampilkan nomornya. "Save nomor gue."

Alya ragu sejenak, tapi akhirnya menyimpan nomor laki-laki itu.

"Kok lo bisa sampai kayak gini sih? Seingat gue, dulu lo..." Bima menggantung kalimatnya. "Ya udahlah. Kalau butuh bantuan apa-apa, kasih tahu gue aja."

Langkah Alya terhenti. Wajah Dimas yang penuh ejekan tiba-tiba berkelebat di benaknya.

Ia mengatupkan bibir rapat-rapat. "Gue nggak butuh bantuan lo."

Bima tampak bingung. "Tapi gue dengar lo utang miliaran ke dia. Gue bisa pinjemin kok, lo tinggal bayar bunganya aja ke gue."

Alya membentak, "Kan gue bilang, gue nggak butuh!"

Setelah habis-habisan direndahkan oleh Dimas dan dihimpit beban utang tujuh setengah miliar, pertahanan mental Alya benar-benar berada di ambang kehancuran. "Lo nggak ngerti, ya?!"

Begitu kata-kata itu meluncur, ia langsung menyesal. Kenapa ia malah melampiaskan amarahnya pada Bima? Kalau memang berani, kenapa ia tidak marah saja pada Dimas?

"Sori..." gumamnya pelan.

Matanya berkaca-kaca saat menatap laki-laki itu, dipenuhi rasa bersalah. Merasa begitu tak berdaya, ia berjongkok dan memeluk lututnya sendiri. Suaranya sarat akan keputusasaan. "Gue harus gimana...?"

Bima memang bukan tipe cowok yang peka, tapi ia jelas bisa melihat bahwa Alya sedang berada di titik terendahnya. Ia sama sekali tidak keberatan dibentak, tapi ia paling tidak tega melihat perempuan menangis. Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya tiba-tiba berbinar. "Gue punya teman yang buka restoran live music. Mereka lagi cari pemain piano, bayarannya lumayan gede. Lo mau coba, nggak?"

Ia ingat betul, saat SMA dulu Alya pernah menjuarai beberapa kompetisi piano tingkat internasional.

"Beneran? Boleh juga." Alya mengusap air matanya. "Bisa gue ke sana sekarang?"

Bima pun mengantarnya ke tempat itu.

Sapphire Lounge & Restaurant.

Alya tahu tempat ini. Dari luar memang tampak biasa saja, tapi sebenarnya ini adalah tempat nongkrong eksklusif yang sering didatangi teman-teman Dimas. Tempat ini terkenal dengan suasananya yang berkelas dan harga menunya yang selangit.

Bekerja di sini berarti ada kemungkinan ia akan berpapasan dengan orang-orang yang dikenalnya. Tapi, apa pedulinya sekarang?

Bima memperkenalkannya pada sang manajer, Pak Gunawan. Setelah unjuk kebolehan memainkan satu lagu, Alya langsung menandatangani kontrak kerja selama satu tahun hari itu juga.

Ia tidak ragu sedikit pun. Perceraian itu telah merampas segalanya dan meninggalkannya tanpa sepeser pun.

Sekarang ia harus bekerja keras, setidaknya untuk menghidupi dirinya sendiri.

"Pak Gunawan, saya sedang sangat butuh uang sekarang. Apa Bapak bisa memberi saya jadwal sif lebih banyak? Kalau bisa, saya ingin masuk setiap hari," pinta Alya pada manajer itu.

Kontrak itu sebenarnya hanya mewajibkannya bekerja minimal lima belas hari dalam sebulan, tampil sesuai jadwal yang ditentukan. Gajinya tiga ratus juta rupiah per hari, dibayarkan harian. Kalau ia bisa bekerja penuh selama seminggu, ia bisa mengantongi dua koma satu miliar. Ditambah dengan beberapa usaha lain, bukan hal yang mustahil baginya untuk melunasi utang tujuh setengah miliar itu.

Mengingat Alya adalah kenalan Bima, Pak Gunawan pun setuju.

Keesokan sorenya, saat Alya membalut tubuhnya dengan gaun malam dan mengambil tempat di atas panggung, ia merasa seolah terlempar kembali ke masa-masa sekolah dulu, jauh sebelum ia kehilangan segalanya. Kala itu, bisnis Keluarga Tjokro belum tertimpa kebangkrutan. Dan meski ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, kakaknya, Mas Pandu, begitu memanjakannya. Laki-laki itu selalu bilang bahwa ia harus menebus sepuluh tahun masa kecil Alya yang terbuang, saat ibunya menelantarkan Alya di kampung hanya karena masalah penglihatannya.

Alya tenggelam dalam pusaran kenangan, menyalurkan seluruh emosi itu ke dalam permainannya. Dari alunan nadanya, terdengar jelas perjalanan batinnya—bermula dari kebingungan, terseret dalam kesedihan, hingga akhirnya bermuara pada penerimaan. Melodi yang begitu indah dan merdu mengalir dari ujung-ujung jarinya, mengalun memenuhi setiap sudut restoran yang luas itu.

"Dia teman lo?"

Di lantai dua, seorang pria berkacamata memutar pelan gelas wine-nya, bertanya pada Bima yang berdiri di sebelahnya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya