Bab 8 Bos Besar Howard

Rangga mengangguk, matanya tak lepas dari Alya yang sedang mencurahkan seluruh perasaannya ke dalam dentingan piano. "Iya, dia memang lagi banyak pikiran."

Alunan musik itu begitu menyentuh hati Rangga, membuatnya terpaku dan tak bisa berpaling.

Sudut bibir Lukman Hakim tertarik membentuk senyum dingin. Ia menatap Rangga dengan tatapan penuh arti. "Mending pikir-pikir lagi kalau mau ikut campur urusannya—cuma bakal bikin repot."

"Kenapa?" Rangga menghentikan minumnya, agak kaget dengan peringatan Lukman yang tiba-tiba.

Lukman biasanya sangat menjaga jarak, jarang sekali pria itu mau repot-repot memberi nasihat.

"Dia bukan orang yang pantas buat kamu dekati," kekeh Lukman, seolah teringat sesuatu yang lucu. "Percaya deh sama saya, jaga jarak saja."

Setelah berkata begitu, ia berbalik dan melangkah pergi. Posturnya yang tinggi dan tegap memancarkan aura dingin yang tak tersentuh.

Biasanya, Rangga akan langsung menuruti nasihat Lukman. Pria itu sudah lama bersahabat dengan ayah Rangga dan jarang sekali memberinya petuah. Kebanyakan orang bahkan tak pernah punya kesempatan untuk sekadar mengobrol dengan Lukman.

Namun, jiwa pemberontak Rangga justru terpancing. Gue pengin tahu kenapa Alya dilarang buat didekati. Perbedaan drastis antara masa lalu dan kehidupan Alya yang sekarang benar-benar membuatnya penasaran.

Sementara itu, Alya sama sekali tidak menyadari bahwa garis nasibnya baru saja diusik oleh tangan seseorang yang sangat berkuasa.

Ia hanya merasa bersyukur mendapat kesempatan ini dan sepenuhnya fokus pada permainannya.

Untungnya, selama bertahun-tahun ia sering memainkan piano di ruang keluarga Kediaman Suryanegara. Jadi, jari-jarinya tidak terlalu kaku, meskipun keluarga besar itu sering memandang sebelah mata kemampuannya.

Penampilan hari pertamanya berjalan lancar tanpa hambatan.

Pak Gilang mentransfer gajinya dan berkata, "Pertahankan, ya! Banyak tamu yang suka permainanmu hari ini."

Mendapat dorongan semangat seperti itu, Alya datang lebih pagi keesokan harinya.

Selama empat hari berturut-turut, ia menerima banyak kebaikan dan pujian, serta berhasil menghindari masalah apa pun.

Namun sore itu, saat ia baru saja bersiap pulang, sebuah insiden kecil terjadi.

"Siska, tunggu aku di rumah, ya. Aku mau mampir beli sayur dulu, malam ini kita..." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ponselnya terlempar ke lantai karena tertabrak seseorang, dan ia sendiri nyaris terjatuh.

Sepasang lengan yang kokoh dengan sigap menangkap tubuhnya. Mata mereka berserobok, dan seketika hawa dingin merayap di tengkuk Alya. Bagaimana bisa ia malah berpapasan dengan Lukman di sini?

Lukman adalah sosok penuh teka-teki dan sangat berkuasa di keluarga Suryanegara. Selain Bima, ia adalah satu-satunya kandidat pewaris, dan salah satu dari sedikit orang yang mampu mengimbangi Bima. Di luar Kakek Suryanegara, hanya Lukman yang berani bicara blak-blakan di depan Bima, meskipun statusnya hanyalah anak angkat di keluarga itu.

Lukman tidak pernah berinteraksi dengan Alya, bahkan tak pernah melihatnya di acara-acara keluarga Suryanegara. Alya sudah diabaikan selama bertahun-tahun, dan Lukman tak punya alasan untuk mengenalnya. Jadi, meski di atas kertas mereka adalah keluarga, kenyataannya hal itu tak ada artinya.

"Maaf..." cicit Alya, merasa serba salah.

Lukman, dengan kacamata berbingkai yang seolah selalu menyembunyikan emosinya, memancarkan aura dingin yang tak tersentuh. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya datar, lalu menyuruh seseorang memungut ponsel Alya dan mengembalikannya.

Alya merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Secara naluriah, ia ingin melangkah mundur, menjauh dari aura pria itu yang begitu mengintimidasi.

"Saya tidak apa-apa," ucapnya, lalu berbalik hendak pergi.

"Nona Kusuma," panggil Lukman tiba-tiba.

Punggung Alya langsung menegang.

Ada hawa dingin yang tak bisa dijelaskan menyelimuti perasaannya. Ia membatin, anak angkat Keluarga Suryo ini ternyata jauh lebih menakutkan daripada Krisna yang kejam itu.

"Ada apa, Pak?" tanyanya, sedikit terkejut karena pria itu mengetahui identitasnya.

"Permainan pianomu sangat bagus. Tingkat kepuasan pelanggan di restoran ini juga meningkat pesat beberapa hari terakhir," puji Lukman seraya tersenyum tipis.

Barulah Alya menyadari bahwa Lukman adalah pemilik restoran tempatnya bekerja.

"Terima kasih, Pak." Setelah bertahun-tahun hanya menjadi ibu rumah tangga, ini pertama kalinya ada orang yang mengakui kemampuannya. Alya tersenyum simpul. "Saya akan bekerja lebih keras lagi."

Ia tak berani berlama-lama di sana; tatapan mata Lukman menyiratkan emosi yang tak bisa ia pahami.

Lukman terus menatap kepergian wanita itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Pak Hidayat," tegur asisten pria yang tadi membantu memungut ponsel Alya dengan suara pelan. "Mata Nona Kusuma... sedikit mirip dengan Nona Bella." Mungkin itu sebabnya Bos menaruh perhatian padanya, batin sang asisten.

"Jaka, sudah berapa lama kamu ikut saya?" Lukman sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, suaranya terdengar datar dan dingin.

Raut wajah Jaka Saputra langsung berubah pucat pasi. Ia menundukkan kepala, menahan napasnya sejenak. "Tiga tahun, Pak."

"Oh ya?" sahut Lukman tenang. "Kalau begitu, kamu boleh pergi sekarang."

Kalimat itu adalah vonis pemecatan. Wajah Jaka semakin pias, tak berani mengucapkan sepatah kata pun untuk membantah.

Dalam hati Jaka bertanya-tanya, Tapi kenapa? Apa aku salah bicara? Alya dan Bella Wijaya memang mirip, apalagi sorot mata mereka.

Lukman menepuk pelan lengan jasnya, seolah membersihkan debu yang tak kasat mata, lalu berbalik dan melangkah pergi. Alya mirip Bella? Wanita itu sama sekali tidak pantas disandingkan dengannya.

Memasuki hari keenam bekerja, ditambah dengan uang tip, Alya sudah mengumpulkan seratus lima puluh juta rupiah. Namun, jumlah itu masih sangat jauh dari target tujuh ratus lima puluh juta yang ia butuhkan.

Selama beberapa hari terakhir, ia sudah memutar otak mencari cara lain untuk mendapatkan uang, tetapi semuanya berujung buntu.

Siska juga sedang kesulitan keuangan sehingga tidak bisa meminjamkannya uang. Satria memang sudah beberapa kali menawarkan bantuan, tetapi Alya selalu menolaknya.

Alya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini terlebih dahulu, baru memikirkan jalan keluarnya nanti.

"Loh, itu Alya, kan? Ngapain dia di sini?" Sebuah suara laki-laki yang familier namun terasa asing tiba-tiba terdengar, membuat langkah Alya terhenti kaku.

Ia menoleh ke arah pintu masuk restoran dan melihat beberapa sosok yang sangat ia kenal.

Pria yang baru saja bicara itu adalah teman Laras. Gerombolan yang datang bersamanya itu satu sirkel pergaulan, dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar orang baik-baik.

Dulu, setiap kali mereka bertemu, pria itu selalu merendahkannya layaknya mempermainkan binatang peliharaan, sementara teman-temannya yang lain akan tertawa terbahak-bahak. Apa mereka berencana menindasnya lagi?

"Lo nggak ngenalin kita-kita?" Pria itu berjalan lurus menghampirinya dengan gaya arogan.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya