Bab 9 Ketangguhan Paksa
Gerombolan itu berjalan menghampiri dengan senyum meremehkan, wajah mereka penuh dengan kepuasan yang angkuh. Seolah-olah mereka melihatnya sebagai mainan yang bisa diganggu kapan saja mereka mau.
"Bim, lihat deh, dia main piano di sini. Katanya sih banyak bule yang datang buat dengerin dan ngasih tip gede," celetuk salah satu dari mereka.
Bima tertawa terbahak-bahak. "Wah, Alya, ada apa dengan lo? Dulu kan lo anak orang kaya. Kok bisa-bisanya kerja di tempat rendahan begini? Udah nggak ada yang peduli lagi ya sama lo?"
"Pantesan dia jadi istrinya Pak Rangga—bodinya boleh juga. Ayo dong, mainin satu lagu, khusus buat kita-kita aja."
"Jangan ngaco deh. Emangnya dia pantes nyandang status Nyonya Rangga? Rangga aja nggak pernah ngakuin dia. Buat perempuan yang udah bikin dia jadi bahan ketawaan, Rangga masih berbaik hati nggak ngabisin dia. Kalau gue jadi Rangga... udah gue biarin anak-anak seneng-seneng sama dia. Sayang banget kalau dilewatin."
Gerombolan itu tertawa mesum, mata mereka tak lepas menatap Alya.
Alya menelan amarahnya dan berusaha tetap tenang sambil terus memainkan melodi yang lembut dan menenangkan.
Ada beberapa petugas keamanan di sekitar sana; mereka tentu tidak akan membiarkan berandal-berandal ini membuat keributan. Benar saja, dalam hitungan menit, beberapa petugas menghampiri dan mengusir mereka keluar.
Alya menghela napas lega. Setelah jam kerjanya selesai, ia sedang mencoba mencari taksi ketika gerombolan itu kembali menyudutkannya.
Bima berdiri mengadangnya, ekspresinya dingin. "Alya, kok nggak nyapa sih? Kita kan saling kenal. Seenggaknya kita masih bisa dibilang temen, kan?"
Sambil berbicara, tangannya terulur hendak menyentuh wajah perempuan itu.
Ekspresi Alya berubah sedingin es. Dia menampar laki-laki itu keras-keras. "Pergi lo!"
Suara tamparan itu bergema nyaring, membuat semua orang di sana terpaku. Sebuah cetakan tangan kemerahan tercetak jelas di wajah Bima.
Alya menatapnya tajam, sama sekali tidak gentar. "Pengecut lo, beraninya cuma sama perempuan. Enyah dari hadapan gue!"
Dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar sekarang. Dia tidak boleh terlihat lemah.
Wajah Bima mengeras menahan amarah. Dia mengangkat tangannya, bersiap membalas pukulan itu.
Alya mendongakkan dagunya, menantang, seolah berkata, "Ayo, pukul kalau berani."
Tangannya terkepal erat di balik lengan bajunya, keringat dingin mulai bercucuran, namun entah bagaimana ia tampak begitu tegar.
Mungkin tatapan perempuan itu terlalu tajam. Bima ragu-ragu, tangannya tertahan di udara.
Bagaimanapun juga, Alya masih berstatus sebagai istri Rangga. Sekalipun Rangga ingin bercerai, Alya akan menjadi mantan istrinya, dan Bima harus memikirkan konsekuensi itu. Mereka memang sering melontarkan kata-kata kasar sebelumnya, tapi itu cuma sebatas omong kosong. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar berani memukulnya.
"Bim, hajar aja! Nih cewek udah kelewatan!"
"Iya, berani-beraninya cewek kayak dia nampar lo?"
"Bim, kalau lo nggak mau mukul dia, biar gue yang turun tangan!"
Wajah Bima menggelap saat dia membentak, "Cabut kalian semua!"
Lalu dia melangkah maju, mengertakkan gigi. "Alya, tunggu aja pembalasan gue. Gue bakal ingat terus tamparan ini."
"Lo ngelakuin ini demi Citra, kan?" Alya tersenyum tipis, senyum acuh tak acuh yang terasa dingin. "Tapi lo sadar nggak sih kalau perempuan yang lo suka itu tergila-gila sama Rangga?"
"Omong kosong!" geram Bima.
Alya melipat tangan di dada. "Citra itu nggak pernah nerima, tapi juga nggak pernah nolak lo. Dia terus ngulur-ngulur perasaan lo tanpa ngasih kepastian, sementara terang-terangan bilang kalau dia cinta mati sama Rangga. Terus, cuma dikasih kode dikit aja, lo langsung kepancing dan datang gangguin gue demi dia. Lo nggak sadar betapa bodohnya lo?"
Bima membeku. "Lo..."
Matanya terbelalak, seolah baru pertama kali menyadari betapa tajamnya lidah Alya.
Alya melanjutkan dengan tenang, "Lo sadar kan kalau gue ini cuma sekadar menyandang gelar Nyonya Rangga? Gue nggak punya kendali apa-apa, apalagi hatinya Rangga. Dan lo juga nggak bisa ngendaliin Citra. Lo itu cuma satu dari sekian banyak cowok bodoh yang ngekor di belakangnya."
Rasa puas tiba-tiba menyelimutinya, seolah ia akhirnya berhasil meluapkan rasa frustrasi yang terpendam selama bertahun-tahun.
Dulu, Amel sangat takut pada orang-orang ini karena tidak ada satu pun yang membelanya. Di luar sana, siapa saja dalam lingkaran pergaulan mereka bisa menghinanya tanpa perlu menanggung akibat apa pun.
Ia tidak pernah berani melawan karena tidak ingin membuat masalah bagi Krisna. Amel selalu merasa pernikahan mereka adalah utang budi yang harus dibayarnya. Karena ia sangat mencintai pria itu, ia menelan setiap hinaan dalam diam. Tapi semakin ia bersabar, semakin mereka merendahkannya.
Sekarang, ia sudah bercerai. Ia tidak lagi takut ditindas atau dipermalukan oleh keluarga Suteja. Setelah melepaskan statusnya sebagai istri Krisna, ia sadar bahwa ia akhirnya bisa membela dirinya sendiri. Selama bertahun-tahun, tanpa disadari ia bahkan meniru aura intimidasi Krisna, cukup untuk membuat kelompok orang ini terdiam.
"Amel!" geram Arya. "Kalau lo berani ngomong satu kata lagi, gue sendiri yang bakal..."
Sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya, Amel mengeluarkan ponsel dari balik punggungnya. Layarnya menunjukkan aplikasi perekam suara yang sedang berjalan.
"Terusin aja," ucapnya tenang. "Lo boleh diam kalau mau, tapi apa pun yang lo bilang bakal gue pakai buat ngehancurin reputasi lo di sirkel ini."
Arya mengertakkan gigi, menatap perempuan itu dengan sorot mata penuh kebencian dan rasa frustrasi.
Baru setelah taksi pesanannya tiba, Amel akhirnya bisa bernapas lega. Begitu ia masuk ke dalam mobil, air matanya langsung tumpah membasahi pipi.
Rasanya seperti baru saja selamat dari maut, seolah ia baru saja lolos dari bencana besar.
Namun, ia sama sekali tidak menyadari keberadaan sebuah mobil yang terparkir sunyi di tepi jalan.
Satria menurunkan kaca jendelanya setelah melihat Arya yang mengamuk dan memukul mobilnya sendiri dua kali sebelum akhirnya melaju pergi.
Sejujurnya, ia tidak terkejut. Sosok Amel yang tajam dan garang barusan adalah perempuan yang sama yang pernah ia kenal dulu. Itulah jati dirinya yang sebenarnya. Perempuan lemah yang selama ini terus-terusan ditindas hanyalah versi dirinya yang kehilangan arah selama bertahun-tahun. Amel memang sudah ditakdirkan menjadi sosok yang kuat.
Satria mengeluarkan selembar foto yang disatukan dari dua gambar yang berbeda, lalu mengusapnya perlahan dengan ujung jarinya.
Dalam foto itu, seorang remaja laki-laki dan perempuan berdiri berdampingan. Sekilas tidak ada yang aneh, tapi kalau diperhatikan lebih saksama, jelas terlihat bahwa kedua sosok itu dipotong dari foto yang berbeda. Keduanya sebenarnya berasal dari foto grup kelulusan SMA—yang satu adalah dirinya, dan yang satu lagi adalah Amel.
"Selama ini, kita bahkan nggak punya satu pun foto berdua. Sayang banget," gumamnya pelan. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa sekolah mereka saat ia menatap kosong ke luar jendela mobil.
...
"Lo beneran ngelawan Arya?" Mendengar cerita Amel, Siska merasa kaget sekaligus cemas. "Lo nggak takut dia bakal nyari masalah lagi sama lo?"
Amel mengibaskan tangannya, tak peduli. "Gue udah nggak bisa mikirin itu sekarang. Lagian, gue udah nggak punya apa-apa lagi buat dikorbanin. Kalau dia berani, kita hancur bareng aja sekalian."
Siska menghela napas panjang, hatinya ikut perih. "Takdir macam apa sih ini, sampai bikin orang selembut lo berubah jadi nekat begini?"
Amel hanya tersenyum getir. Setidaknya dengan begini, ia tidak akan lagi hidup di bawah belas kasihan orang lain.
"Terus kita harus gimana sekarang? Besok tuh tenggat waktu terakhirnya," gumam Siska. "Kenapa sih pas cerai lo nggak bawa perhiasan yang bisa dijual aja? Lo malah bawa beberapa lukisan yang jelas-jelas susah diuangkan."
Mendengar kata lukisan, mata Amel langsung berbinar. "Bener juga, gue kan bawa beberapa lukisan!"
Dulu waktu masih kuliah, Nina selalu memakai uang bulanan yang dikirimkan oleh Pandu. Di masa itu, sebagai mahasiswi seni rupa, ia berhasil mendapatkan apresiasi dari dosen pembimbingnya. Ia bahkan diizinkan untuk memamerkan karyanya, dan beberapa lukisannya laku terjual hingga puluhan juta rupiah.
