Bab [1] Wanita yang Menikah Kedua Kali
Sudah jam sepuluh malam.
Hidangan di atas meja sudah dipanaskan tiga kali, tapi suaminya, Kevin Santoso, baru saja tiba di rumah.
Yoan Prawiro segera menyambutnya. Dengan gerakan yang begitu alami dan terampil, ia membantu membawakan sandal rumah untuk Kevin dan mengambil alih tas kerjanya.
“Membeli seorang pembantu seharga enam triliun rupiah, benar-benar sepadan.”
Suara Kevin yang dalam dan serak terdengar penuh dengan sindiran tajam.
Tubuh Yoan seketika menegang. Hatinya terasa sakit, tetapi ia tak punya satu kata pun untuk membela diri.
Karena apa yang dikatakan Kevin adalah kenyataan.
Tiga tahun lalu, ibunya dengan penuh percaya diri menyatakan, “Untuk pernikahan ini, kami, keluarga Prawiro, akan memberikan mahar berupa kompleks apartemen baru senilai dua triliun rupiah. Jadi, kalian cukup siapkan uang mahar sebesar enam triliun rupiah untuk putriku. Dengan begitu, kedua keluarga kita sama-sama terhormat dan tidak ada yang dirugikan.”
Namun pada akhirnya, Ibu Prawiro tidak hanya gagal memberikan mahar apa pun untuk Yoan, tetapi juga menggelapkan uang mahar enam triliun rupiah yang telah diberikan oleh keluarga Santoso.
Lebih parahnya lagi, seorang pria tua berusia tujuh puluh tahun tiba-tiba mengacaukan pesta pernikahan, membawa kontrak yang menyatakan bahwa Ibu Prawiro telah menjual putrinya kepadanya.
Keluarga Prawiro telah ‘menjual’ satu anak perempuan kepada dua keluarga, membuat keluarga Santoso menjadi bahan tertawaan di seluruh kota. Reputasi mereka hancur, dan mereka kehilangan beberapa proyek besar.
“Kalian keluarga Prawiro berani menipuku. Mulai sekarang, apa pun penderitaan yang kamu alami, kamu harus menanggungnya dalam diam.”
Itulah kata-kata yang diucapkan Kevin Santoso kepadanya di hari pernikahan mereka.
Saat itu, Yoan Prawiro belum sepenuhnya mengerti.
Hingga Kevin pergi dengan amarah yang meluap-luap, meninggalkannya sendirian menyelesaikan upacara pernikahan di tengah tatapan hina dan cemoohan yang tak terhitung jumlahnya.
Sebuah pernikahan solo yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada malam pernikahannya, ia terjaga semalaman, sendirian di dalam kamar yang kosong dan sunyi.
Dan keadaan itu berlanjut hingga hari ini.
Selama tiga tahun penuh, Kevin Santoso tidak pernah sekalipun menunjukkan wajah ramah padanya. Bahkan menyentuhnya pun seolah-olah bisa membuatnya tertular penyakit.
Kevin menyebutnya pembantu, padahal kenyataannya ia bahkan lebih rendah dari seorang pembantu. Siapa pun bisa menginjak-injak harga dirinya tanpa ampun.
Menjalani hari-hari seperti ini, setiap detiknya adalah sebuah siksaan.
Kevin sudah duduk di meja makan.
Yoan Prawiro pertama-tama masuk ke dapur untuk mengambil semangkuk sup. Sambil meletakkannya di meja, ia berusaha bertanya dengan nada sesantai mungkin, “Kevin, apa kamu punya seseorang yang kamu sukai?”
“Maksudmu?”
“Kalau kamu punya wanita yang kamu sukai, aku bisa mundur…”
Dengan begitu, ia bisa memberikan kebahagiaan untuk Kevin, sekaligus membebaskan dirinya sendiri.
Kedengarannya sangat bagus.
Namun, sebelum Kevin sempat menjawab, Yoan tiba-tiba merasakan pandangannya menggelap.
Rasa takut yang mencekam karena dunianya berubah dari terang menjadi gelap dalam sekejap membuatnya secara refleks mencoba meraih sesuatu. Kedua tangannya meraba-raba tak tentu arah, tak sengaja menyenggol dan menjatuhkan beberapa piring dan mangkuk.
“Yoan Prawiro! Kamu ini kenapa, sih?!”
Di tengah kepanikannya, sesuatu terjatuh dari saku Yoan dan mendarat di lantai.
Sebuah pil kecil berwarna biru muda.
Kevin memungutnya. Begitu melihatnya, seulas senyum sinis dan menghina langsung terukir di bibirnya yang tipis. “Sampai menggunakan cara sampah masyarakat seperti ini, memangnya sehaus itu kamu?”
“Aku…”
Ia ingin menjelaskan bahwa pil itu dipaksa oleh ibunya.
Namun, Kevin yang sudah yakin bahwa Yoan berniat buruk, dengan dingin memotong ucapannya, “Dengan tubuhmu yang kotor itu, telanjang pun aku tidak akan sudi menyentuhmu! Jangan pernah bermimpi!”
Yoan berpegangan pada meja sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Ketika membukanya kembali, ia hanya bisa melihat siluet samar punggung Kevin yang berjalan pergi dengan marah.
Ia tahu, penyakitnya semakin parah.
Setengah bulan yang lalu, dokter memberitahunya, “Nona Prawiro, berdasarkan hasil pemeriksaan, penurunan penglihatan yang Anda alami saat ini disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah vena retina sentral. Jika terus berlanjut, Anda akan mengalami kebutaan total.”
Mungkin karena penglihatannya menurun, pendengaran Yoan menjadi jauh lebih tajam.
Ia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Kevin sedang mandi.
Ia juga mendengar nada notifikasi pesan dari arah pintu depan.
Yoan khawatir ada pesan penting terkait pekerjaan Kevin. Untungnya, masalah pada matanya hanya sementara.
Merasa penglihatannya sudah sedikit membaik, ia mengambil ponsel Kevin dari dalam tas kerjanya, lalu berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintu dengan sopan. “Sudah selesai? Ada pesan masuk untukmu.”
“Dari siapa?”
“Dari… Tara Chandra.”
Tara Chandra, mantan kekasih Kevin Santoso.
Pagi ini, semua media berita, baik di ponsel maupun televisi, menjadikan wawancara dengan penyanyi populer Tara Chandra sebagai berita utama.
Menghadapi pertanyaan bertubi-tubi dari wartawan, Tara dengan percaya diri menjawab, “Kepulangan saya kali ini, selain untuk memfokuskan kembali karier saya di dalam negeri, juga ada satu hal yang lebih penting.”
“Yaitu… mendapatkan kembali cinta pertama saya.”
Apakah cinta pertama yang ingin didapatkan kembali oleh Tara itu adalah Kevin Santoso?
Saat Yoan masih tenggelam dalam pikirannya, Kevin tiba-tiba membuka pintu kamar mandi. Tanpa membuang satu kata pun pada Yoan, ia langsung merebut ponsel dari tangannya.
Yoan memberanikan diri untuk mengikutinya dan bertanya dengan hati-hati, “Apa kamu… masih punya perasaan pada Tara Chandra?”
“Siapa yang mengizinkanmu melihat ponselku?”
Kevin tidak menjawab pertanyaan Yoan. Ia hanya melemparkan tatapan dingin penuh peringatan, lalu berjalan lurus ke dalam ruang ganti.
Ketika keluar, ia sudah mengenakan setelan kasual berwarna abu-abu. Penampilannya terlihat tidak terlalu kaku dan formal, justru memancarkan aura pemberontak yang liar.
Dipadukan dengan rambut pendeknya yang rapi dan wajahnya yang tampan namun dingin, Yoan yakin banyak wanita akan rela melakukan apa saja untuknya.
Yoan tertegun sejenak. Apa dia akan pergi menemui Tara Chandra?
“Malam ini kamu…”
…pulang atau tidak?
Kalimat Yoan yang belum selesai itu ditelan oleh suara pintu yang dibanting dengan keras.
Seketika, ia merasa dirinya begitu menyedihkan dan konyol.
Ia hanyalah seorang Nyonya Santoso yang tak punya arti apa-apa. Dari mana datangnya kepercayaan diri untuk merasa berhak menanyakan ke mana suaminya akan pergi?
Malam harinya, Yoan berbaring di tempat tidur, tak bisa tidur. Pikirannya kembali melayang pada kejadian di rumah sakit siang tadi.
Setelah pemeriksaan kehamilan, ia diseret keluar dari rumah sakit oleh ibunya.
Belum sempat ia berdiri dengan stabil, laporan hasil pemeriksaan kehamilan itu dilemparkan tepat ke wajahnya.
“Sudah berapa tahun kamu menikah dengan keluarga Santoso? Bahkan punya anak satu pun tidak bisa! Kalau sampai Kevin Santoso mengusirmu, apa lagi yang bisa diharapkan oleh keluarga Prawiro?”
Tuduhan ibunya yang kesal karena kecewa itu terdengar begitu tajam dan keras, hingga banyak orang di sekitar mendengarnya.
Yoan menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa sangat malu. Anak?
Menikah selama tiga tahun, Kevin bahkan tidak pernah menyentuhnya seujung jari pun. Bagaimana mungkin ia bisa punya anak?
“Ibu, aku…”
“Jangan banyak alasan!” bentak ibunya dengan dingin.
Ibu Prawiro dengan paksa menyelipkan sebutir pil ke telapak tangan Yoan. Dengan nada kesal ia berkata, “Ini obat perangsang, cari cara agar Kevin Santoso meminumnya, lalu goda dia!”
“Atau sekalian saja carikan wanita subur untuknya! Asalkan bisa melahirkan keturunan Kevin Santoso, itu sudah cukup!”
Setelah ibunya pergi, Yoan berdiri sendirian di tengah angin dingin untuk waktu yang lama, menahan rasa sakit di hatinya.
Kata-kata tajam itu seolah kembali bergema di telinganya.
Dia adalah ibu kandungnya sendiri!
Tetapi, ia hanya menganggapnya sebagai alat untuk ditukar dengan keuntungan.
Sama seperti dulu saat ibunya memaksanya menikah dengan keluarga Santoso, lalu keesokan harinya menjualnya seharga dua ratus miliar rupiah kepada seorang pria tua berusia tujuh puluh tahun.
Sekarang, ibunya mendesaknya untuk hamil, bahkan menyuruhnya mencarikan wanita lain untuk suaminya sendiri, semua demi uang.
Dan ia tidak bisa menolak, apalagi memiliki pilihan.
Tiba-tiba, dering ponsel yang nyaring memecah keheningan malam.
Yoan meraba-raba mencari ponselnya. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.
Saat panggilan tersambung, suara wanita yang manis tiba-tiba terdengar dari seberang. “Halo, ini Yoan? Kevin sedikit mabuk, bisa tolong jemput dia?”
