Bab [10] Rencana Selanjutnya
Tanpa pikir panjang lagi.
Yoan Prawiro segera membuka koper yang dibawanya. Begitu terbuka, deretan lukisan yang sudah terbingkai rapi langsung terlihat.
Namun, Yoan Prawiro malah tertegun.
"Kok semuanya lukisan Kevin Santoso?" Dina Lestari tidak bisa menahan kerutan di dahinya, menatap sahabatnya dengan bingung.
Yoan Prawiro terduduk lemas di sofa.
Betapa bodohnya dia. Saat kabur dari Keluarga Santoso, dia merasa barang-barang inilah yang paling berharga dan tak tergantikan. Namun, ternyata ....
Semuanya adalah potret Kevin Santoso. Jangankan ada yang berani membelinya, kalaupun terjual, pasti akan ketahuan oleh si brengsek itu. Siapa tahu masalah apa lagi yang akan dia timbulkan.
"Menurutku yang ini bisa." Tiba-tiba Dina Lestari mengambil sebuah lukisan punggung. "Yang ini sama sekali nggak kelihatan siapa orangnya."
Harapan Yoan Prawiro kembali menyala. Dia langsung menoleh. Benar saja, lukisan berukuran 60x80 cm itu berbeda dari yang lain, hanya menampilkan punggung seorang pria yang tegap dan dingin menghadap kegelapan.
Tanpa wajah, siapa yang bisa bilang kalau itu Kevin Santoso?
"Ini saja."
Dengan tekad bulat, Yoan Prawiro segera mencari galeri seni kelas atas secara anonim. Setelah negosiasi singkat yang berjalan lancar, dia meminta kurir untuk mengambil dan mengantarkan lukisan itu.
Yang mengejutkannya, kurang dari satu jam kemudian, pihak galeri menelepon dan memberitahukan bahwa lukisannya sudah terjual.
Suara Yoan Prawiro bergetar. "Terjual berapa?"
Staf galeri itu terdengar sangat gembira. "Sepuluh miliar rupiah! Genap sepuluh miliar rupiah! Nona, Anda benar-benar jenius! Ini lukisan dengan harga jual tertinggi di galeri kami sejak pertama kali buka. Anda hebat sekali! Apakah masih ada lukisan lain?"
Yoan Prawiro hampir saja mengatakan tidak ada, tetapi kemudian dia berpikir, dia masih bisa terus melukis dan menjualnya. Bukan tidak mungkin dia bisa hidup dari keahliannya ini.
"Ada, tapi butuh waktu," jawabnya, lalu mengonfirmasi informasi rekening banknya dengan staf tersebut.
Keesokan paginya, uang sebesar delapan miliar rupiah setelah dipotong komisi galeri sudah masuk ke rekeningnya.
Tanpa menunda sedetik pun, Yoan Prawiro segera membuat rekening baru dan mentransfer seluruh uang itu, takut kalau-kalau keluarga atau Kevin Santoso mengetahui keberadaan uang tersebut.
Setelah itu, dia langsung pergi ke rumah sakit, melunasi seluruh biaya perawatan Qori Prawiro, dan membawanya keluar. Dia memindahkannya ke rumah sakit umum yang sudah dia siapkan sebelumnya, dan menyewa perawat khusus untuk merawat ayahnya.
Setelah semua urusan itu selesai, dia merasa beban berat di hatinya terangkat. Seluruh tubuhnya terasa ringan. Dia pun mengajak Dina Lestari makan besar di luar untuk merayakannya.
Sementara itu, di sebuah lapangan golf pribadi di pinggiran Jakarta.
Kevin Santoso mengayunkan stiknya dengan kuat. Bola putih melesat cepat, membentuk beberapa lengkungan parabola di udara sebelum menghilang di kejauhan.
Seorang pelayan membawakan minuman, tetapi dengan tidak sabar dia menepisnya. Dia lalu duduk di sofa santai dan mengeluarkan ponselnya.
Hanya ada tumpukan pesan sampah.
Entah kenapa, sebersit rasa jengkel melintas di hati Kevin Santoso.
Sebenarnya apa yang sedang dia harapkan?
"Kevin, ternyata kamu di sini. Aku sudah cari ke mana-mana." Sebuah suara lembut dan manis terdengar. Kevin Santoso secara refleks menoleh, melirik sekilas ke arah Tara Chandra yang berjalan anggun dengan sepatu hak tinggi berwarna ungu.
"Lihat aku bawa apa?" Tara Chandra menyodorkan sebuah lukisan ke hadapannya seolah memamerkan harta karun. "Lihat deh, lukisan ini aku beli waktu jalan-jalan semalam. Menurutku orang di lukisan ini mirip sekali denganmu. Pelukisnya juga berbakat banget, dia bisa membuat efek cahaya dan bayangannya jadi sebagus ini. Terus, lihat deh ...."
Belum selesai Tara berbicara, tatapan Kevin Santoso yang tadinya acuh tak acuh tiba-tiba berubah tajam.
Dia bangkit berdiri, menyambar lukisan itu, dan menatapnya lekat-lekat, seolah ingin menembus lukisan itu, bahkan menembus sang pelukis.
"Ada apa?" Tara terkejut dengan tindakan tiba-tibanya. "Apa yang terjadi, Kevin? Kenapa kamu ..."
Sebelum Tara menyelesaikan kalimatnya, Kevin sudah berbalik dengan dingin dan berjalan cepat menuju mobilnya.
Di tempat lain, Yoan Prawiro dan Dina Lestari baru saja selesai makan dengan puas. Mereka berjalan santai sambil bergandengan tangan.
"Yoan, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Dina Lestari.
Yoan Prawiro menunduk, berpikir sejenak. "Aku punya kontrak satu tahun dengan Harmoni Suci. Kalau aku keluar sekarang, aku harus bayar denda tiga kali lipat. Jadi, tahun ini aku pasti harus tetap di sini. Rencananya, aku mau pakai waktu ini untuk memulihkan kesehatan ayah dulu, baru pikirkan yang lain."
"Kamu nggak takut ibumu datang mencarimu lagi? Kalau dia tahu kamu sudah cerai dari Kevin Santoso, aku nggak bisa bayangin apa yang akan dia katakan," ucap Dina Lestari dengan raut khawatir.
"Apa pun yang terjadi, akan aku hadapi." Yoan Prawiro menggigit bibirnya. "Aku tidak bisa mundur lagi, tidak bisa terus-menerus dikendalikan oleh rasa takut. Aku punya hidupku sendiri."
Dia menengadah ke langit. Tepat pada saat itu, dua ekor burung terbang melintasi angkasa, berkicau riang.
Tiba-tiba, sebuah mobil sport hitam berhenti di samping mereka dengan suara decit rem yang memekakkan telinga.
Yoan Prawiro terlonjak kaget. Saat dia melihat lebih jelas, ternyata itu Kevin Santoso?!
Tanpa pikir panjang, dia menarik Dina Lestari dan langsung lari.
Sialan, kenapa pria ini seperti hantu, ke mana pun dia pergi selalu bertemu dengannya.
Dina Lestari terengah-engah. "Katanya kamu sudah nggak takut lagi?"
"Itu dua hal yang berbeda! Jatuh ke tangannya nggak akan pernah jadi hal yang baik." Yoan Prawiro berlari sangat cepat, menuju sebuah toko bunga di pinggir jalan, berusaha melepaskan diri dari pria itu.
Detik berikutnya, sebuah tangan sedingin cengkeraman iblis mencengkeram tengkuknya dengan kasar, menguncinya di tempat.
Tubuh Yoan Prawiro seketika menegang. Selama tiga tahun hidup dalam kungkungan rasa tercekik yang tak terlihat ini, saat ini dia bahkan tidak bisa memberikan reaksi yang pantas. Dia hanya berdiri kaku di sana, seperti boneka tali.
Dina Lestari menoleh ke belakang dan melihat Yoan Prawiro dicengkeram oleh tangan besar Kevin Santoso seperti anak ayam. Perbandingan ukuran tubuh mereka terlalu timpang. Yoan sama sekali tidak punya kekuatan untuk melawan, apalagi untuk kabur.
"Kamu pergi duluan." Yoan Prawiro berhasil memulihkan sedikit kesadarannya dan berbisik cepat pada sahabatnya.
Dina Lestari langsung berbalik dan lari.
"Mau ke mana?" Suara dingin dan serak Kevin Santoso terdengar, setiap katanya menghantam saraf Yoan, menyebabkan kejang seolah kesakitan.
Yoan Prawiro menarik napas dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga menenangkan detak jantungnya yang menggila, lalu berkata dengan dingin, "Bukan urusanmu ...."
Sisa kata-katanya belum sempat terucap, Kevin Santoso sudah memutar kepalanya menghadap pria itu.
Mata mereka bertemu. Wajah Kevin yang dingin dan tegas tampak seperti dewa kematian yang menakutkan, matanya yang hitam dan dalam memancarkan aura permusuhan yang menusuk.
Hati Yoan Prawiro bergetar. Secara naluriah dia ingin mundur, tetapi memaksakan diri untuk menatap wajah itu tanpa mengubah ekspresinya.
"Sudah berani sekarang? Hah? Jawab!" Kesabaran Kevin Santoso sudah habis. Dia langsung mencengkeram leher belakang Yoan dan menyeretnya dengan cepat menuju mobil sportnya.
"Lepaskan aku! Dasar gila! Kamu mau apa?" teriak Yoan Prawiro sambil mengertakkan gigi.
Pria ini benar-benar gila. Di tempat seramai ini, apa dia tidak takut ada yang merekam kelakuan buruknya dan membuatnya jadi bahan gunjingan?
"Aku gila?" Kevin Santoso tertawa dingin, tetapi tidak melanjutkan kata-katanya. Dia langsung membuka pintu mobil dan melemparkan Yoan ke kursi penumpang.
Meskipun Yoan Prawiro bertubuh tinggi, badannya kurus. Dia meringkuk di kursi penumpang, terlihat begitu kecil. Namun, tatapannya tajam, sengaja melotot galak pada Kevin, seperti landak kecil yang siap menyerang.
Tiba-tiba, Kevin Santoso merasa geli melihat ekspresinya. Tangannya yang hendak menutup pintu berhenti sejenak.
Dan pada momen itulah, Yoan Prawiro dengan cepat membuka pintu mobil dan berusaha kabur.
