Bab [2] Bercerai Saja
Di sebuah kelab malam mewah.
Saat Yoan Prawiro tiba di depan pintu ruang VIP, telinganya menangkap suara pecahan kaca yang memekakkan dari dalam.
Khawatir dengan keadaan Kevin Santoso, ia panik dan langsung menerobos masuk.
"Kevin, kamu..."
Ruangan itu penuh dengan anak-anak muda. Pria yang duduk di tengah, dengan dua kancing teratas kemejanya terbuka, bersandar di sofa sambil memegang gelas anggur. Auranya memancarkan kemalasan yang angkuh dan berkelas.
Di sampingnya, seorang wanita cantik dan manis duduk sangat rapat, satu tangannya menyentuh kerah kemeja pria itu dengan mesra.
Pemandangan ini menusuk mata Yoan begitu dalam. Ia berharap kebutaannya kambuh saat itu juga, agar ia tak perlu lagi melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain.
Namun, Yoan Prawiro tak punya kesempatan untuk mundur. Suara yang dingin dan familier itu terdengar, "Kenapa kamu di sini?"
Yoan tertegun, menatap mata Kevin Santoso yang jernih namun penuh kebencian. Rasa jijik di mata itu meremas hatinya dengan kejam.
Baru pada saat itulah ia sadar, dirinya telah ditipu oleh Tara Chandra.
Kevin tidak mabuk, ia hanya sedang berkumpul dengan teman-temannya.
Dan Kevin selalu tidak suka Yoan muncul di depan teman-temannya.
"Aku kira kamu mabuk, jadi aku datang untuk menjemputmu pulang," ujar Yoan jujur.
Kevin Santoso tertawa sinis. "Alasanmu berbohong payah sekali."
"Kevin, Nona Prawiro kan cuma khawatir, makanya dia sampai mengurusimu begini," kata wanita itu sambil tersenyum manis, dengan penuh perhatian merapikan kerah kemeja Kevin.
Namun, dari ucapannya, Yoan bisa merasakan sedikit niat jahat.
Tentu saja ia mengenali wanita itu. Dia adalah Tara Chandra, mantan pacar Kevin yang sesumbar akan merebutnya kembali.
Fotonya terpajang di dinding kamar Kevin. Mustahil bagi Yoan untuk melupakan wajah yang ia lihat setiap hari itu.
Kevin Santoso mendengus. "Memangnya dia pantas mengurusku?"
Ia menyingkirkan tangan Tara, lalu bangkit dan melangkah mendekati Yoan. Ia membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Yoan, dan menghinanya dengan volume suara yang hanya bisa mereka berdua dengar, "Mau pamer statusmu sebagai Nyonya Santoso? Takut orang lain tidak tahu kalau aku, Kevin Santoso, menikahi janda sepertimu?"
Yoan menggigit bibirnya, diam seperti biasa saat Kevin menghinanya.
Tampaknya reaksinya yang pasrah itu membuat Kevin bosan. Ia mengerutkan kening dengan tidak sabar, matanya berkilat dingin.
"Jangan ada lain kali. Pergi sana."
Pria itu tak lagi meliriknya. Ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan minum. Wanita genit itu segera kembali merayunya.
"Jangan marah, Kevin. Nanti setelah ini, kita ke rumahku ya..."
Seolah-olah Yoan Prawiro hanyalah orang tak penting. Suara tawa dan canda kembali terdengar di dalam ruangan, sementara dirinya, Nyonya Santoso, terabaikan di ambang pintu, tak bisa melangkah masuk.
"Kak Kevin, jangan-jangan dia ngikutin Kakak sampai ke sini?"
"Cewek matre kayak dia memang nggak pantas dikasih muka. Dulu maksa nikah, jadi orang ketiga di antara Kakak sama Tara, sekarang masih belum puas juga!"
"Nanti biar aku kasih dia pelajaran, buat lampiasin amarah Kak Kevin!"
"Kalau bukan karena Kakek Santoso yang turun tangan, biarin aja dia nikah sama kakek tua itu terus jadi janda."
...
Mereka merendahkannya seolah ia tak lebih dari seorang pelacur. Tatapan mengejek dan menghina itu menusuknya seperti duri, membuatnya sakit.
Sudah tiga tahun. Situasi seperti ini sudah terjadi berkali-kali. Seharusnya ia sudah terbiasa, bukan?
Tapi kenapa masih terasa sakit?
Pandangan Yoan Prawiro mengabur. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya ia bisa meninggalkan kelab malam itu.
Diterpa angin malam yang dingin, ia berjalan sendirian menyusuri tepi jalan untuk waktu yang lama.
Tiba-tiba.
Sebuah mobil sport convertible merah melakukan drifting yang sempurna dan berhenti tepat di depannya. Kaca mobil turun, menampakkan Tara Chandra yang sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Malam ini kamu benar-benar jadi bahan tertawaan, ya? Menurutmu, apa Kevin jadi semakin membencimu?"
Yoan hanya menunduk, tak punya kekuatan untuk membantah.
Seperti seorang pecundang di hadapan pemenang sejati, ia bahkan tak punya hak untuk mengangkat kepala dan berdebat.
"Posisi Nyonya Santoso itu, baru bisa kamu dapatkan karena aku sedang tidak menginginkannya."
"Sekarang aku sudah kembali. Seharusnya kamu sadar diri dan pergi, jangan menempel pada Kevin seperti lintah. Aku saja malu melihatnya."
Tara tersenyum malu-malu. "Sudah, ah, aku tidak mau buang-buang waktu denganmu. Sebentar lagi Kevin mau ke rumahku. Kami sudah lama tidak bertemu, pasti malam ini Kevin akan sangat 'bergairah'."
Deru mesin mobil sport itu terdengar arogan saat melesat pergi, membuat telinga Yoan berdenging sakit.
Kakinya seolah terpaku di tanah, hatinya terus jatuh ke dasar jurang.
Angin bertiup kencang, dinginnya menusuk tulang.
Baru malam pertama, apa Kevin Santoso sudah tidak sabar untuk menginap di rumah cinta pertamanya?
Apa hatinya benar-benar tidak peduli sedikit pun pada perasaan Yoan?
Namun, dengan secercah harapan, Yoan duduk di sofa dengan mata terbuka semalaman.
Hingga fajar menyingsing, hingga pukul sepuluh pagi.
Benar saja, sosok Kevin Santoso tak kunjung terlihat.
Ia meringkuk di sofa dengan senyum pahit, memeluk tubuhnya erat-erat seolah itu bisa mengurangi rasa sakit di hatinya.
Sudah ia duga, tapi tetap saja ia tidak rela.
Kevin Santoso, termasuk hatinya, tidak pernah sekalipun menjadi miliknya.
Bahkan setelah mengejarnya selama sepuluh tahun, ia tak kunjung mendapatkan tatapan darinya. Terus bertahan pun sia-sia.
Yoan merasa sangat lelah, lelah di hati, bahkan untuk bernapas pun terasa berat.
Pandangannya perlahan mengabur dan ia tenggelam dalam kegelapan. Ia menyerah untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang berat dari luar pintu.
Yoan mengalami kebutaan sementara. Ia tidak bisa melihat, tapi dari aroma familier yang menguar, ia sadar Kevin Santoso akhirnya pulang.
"Kamu sudah pulang."
Pria itu tidak menyahut. Aroma kayu pinus yang dingin mendekat, diikuti suara sofa yang sedikit amblas.
Dia duduk di sofa tak jauh darinya?
Jarak sedekat ini adalah hal yang langka selama tiga tahun terakhir.
Hati Yoan melonjak gembira. Ia tersenyum manis. "Kamu belum makan, kan? Aku buatkan sarapan, ya."
Ia meraba-raba untuk bangkit, tapi detik berikutnya kakinya menabrak sesuatu.
Tubuhnya oleng dan jatuh ke samping. Ia memejamkan mata karena takut, tapi rasa sakit yang ia bayangkan tak kunjung datang. Sebaliknya, ia mendarat di dada yang bidang dan kokoh.
Telapak tangannya menyentuh dada yang hangat, napas yang teratur, dan aroma kayu pinus yang dingin menguar di hidungnya.
Semua itu memberitahunya, saat ini ia berada dalam pelukan pria itu.
"Maaf..." Wajahnya terasa panas, ia ingin segera bangkit.
Namun detik berikutnya, pria itu mendorongnya dengan kasar ke samping.
Tubuhnya terbanting keras ke lantai. Rasa sakit yang menusuk tulang menjalari tubuhnya, membuatnya seketika berkeringat dingin dan tak bisa bergerak.
"Yoan Prawiro, sudah kuperingatkan jangan main-main dengan trik murahanmu. Apa kamu semurahan ini?"
Suara dingin penuh kebencian itu terdengar dari atas kepalanya. Tubuh Yoan gemetar, dan perlahan, pandangannya kembali terang.
Dengan susah payah ia mengangkat kepala dan melihat wajah pria itu yang merah padam karena amarah, suatu pemandangan yang jarang terjadi. Tatapan matanya begitu dalam dan penuh rasa jijik.
Rasa malu yang tadi sempat muncul kini lenyap tak bersisa, berganti menjadi mati rasa.
Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Apa hanya karena menyentuhnya, Kevin merasa begitu jijik?
Sosok tinggi itu menindihnya. Kevin Santoso mencengkeram lehernya dengan kasar dan melemparkannya kembali ke sofa.
"Kali ini kamu menggodaku juga demi uang, kan? Katakan, berapa banyak uang yang bisa memuaskan ambisimu?"
"Apa?" napas Yoan tercekat.
"Yoan Prawiro, kamu masih pura-pura bodoh?" Kevin yang murka melempar sesuatu ke sofa.
Itu ponselnya. Pesan di layar begitu menusuk mata.
— Gadis ini lumayan juga, coba kamu lihat.
— Aku sudah bicara dengannya. Asalkan kamu bisa mengantarnya ke ranjang Kevin Santoso, dia punya cara untuk hamil anak keluarga Santoso!
— Dia cuma minta satu miliar rupiah, nggak banyak.
— Nanti kamu pakai perut palsu, pura-pura hamil sepuluh bulan. Begitu dia melahirkan, bilang saja itu anakmu! Dengan menggendong cucu pertama keluarga Santoso, apa lagi yang tidak bisa kita dapatkan di Jakarta?
Rentetan pesan panjang dari Ibu Prawiro itu butuh waktu untuk digulir sampai akhir.
Setiap kata terasa seperti pisau tajam yang mengiris wajah Yoan, membuatnya malu dan ingin mati saja.
"Maaf." Selain permintaan maaf, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Tumbuh di keluarga seperti ini, memiliki ibu seperti itu, sudah menjadi takdir kesalahannya.
Ia... tidak boleh menyakitinya lebih jauh lagi.
"Kita cerai saja," ucap Yoan Prawiro dengan suara serak.
