Bab [3] Tinggalkan Tempat Ini

Yoan Prawiro tak pernah menyangka, seumur hidupnya, dia akan mengucapkan kalimat itu pada Kevin Santoso. Namun sekarang ...

Mungkin, dari awal, dia memang seharusnya tidak pernah menikah dengannya.

Air mata tak tertahankan mengalir deras dari sudut matanya. Sementara itu, Kevin Santoso justru tertawa.

Dia tahu betul seberapa besar cinta Yoan Prawiro padanya.

Jika Yoan memang mau bercerai, sudah dari dulu dia melakukannya. Untuk apa menunggu sampai sekarang?

Ini hanya akal-akalannya!

Tanpa ragu, Kevin mencengkeram dagu runcing Yoan dengan kasar. Sorot matanya yang setengah terpejam memancarkan penghinaan. "Main-main dengan trik tarik ulur seperti ini? Yoan Prawiro, nyalimu makin besar saja, ya."

Kevin yakin seratus persen Yoan tidak akan benar-benar bercerai.

Dan dugaannya terbukti benar.

Yoan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya berbalik dan bergegas naik ke lantai atas.

Di dalam kamar tidur.

Pandangan Yoan Prawiro menggelap. Dia meraba-raba mencari nakas di samping tempat tidur, membuka lacinya, dan mengeluarkan sebotol obat.

Dia lupa di mana meletakkan gelas air, jadi dia langsung menelan segenggam pil itu begitu saja.

Sambil bersandar di dinding, dia merosot ke lantai. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan.

Dia bisa melihat dengan jelas noda lipstik merah di kerah kemeja Kevin. Warna merah terang yang menusuk mata, seolah menjadi tanda kemenangan sang pemenang.

Tara Chandra benar. Tadi malam, setelah lama tak bertemu, gairah Kevin begitu meluap-luap. Sampai-sampai, pria yang sangat terobsesi dengan kebersihan itu bisa menoleransi noda lipstik di kerahnya.

Bukankah ini bukti cinta mereka?

Sepertinya, dia memang harus pergi. Mengembalikan posisi yang bukan miliknya ini kepada wanita yang dicintai Kevin.


Tepat saat Kevin Santoso mengira Yoan akan bersikap seperti biasa—membuat keributan sesaat lalu kembali tenang—dia justru melihat Yoan meletakkan sebuah dokumen di hadapannya.

"Coba kamu lihat. Kalau tidak ada masalah, tanda tangani saja. Nanti kita pergi ke Kantor Catatan Sipil bersama."

Mendengar itu, pupil mata Kevin Santoso menyusut tajam.

Dia mengambil dokumen itu. Tulisan besar 'SURAT PERJANJIAN CERAI' langsung menyita perhatiannya.

Yang lebih mengejutkan adalah baris kecil di bagian paling bawah: 'Kedua belah pihak tidak memiliki anak dari pernikahan dan tidak ada harta bersama yang dapat dibagi.'

Wanita yang begitu mata duitan ini, rela pergi tanpa membawa apa-apa?

Kevin tertawa sinis. "Bagus. Bukannya kamu mau cerai? Ayo kita urus sekarang juga."

Berdasarkan pengetahuannya tentang Yoan Prawiro, wanita itu tidak akan pernah berani melangkahkan kaki keluar dari rumah ini.

Bahkan, dia mungkin akan menangis memohon padanya, mengatakan bahwa dia salah, menyesal, dan tidak ingin bercerai.

"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu," ucap Yoan dengan nada datar.

Untuk perceraian ini, dia ingin menjalaninya dengan terhormat.

Bagaimanapun, pernikahan mereka sudah sangat tidak terhormat.

Sekarang, dia hanya ingin mengakhiri pernikahan ini dengan sebuah titik yang pantas.

Tak lama kemudian, Yoan Prawiro keluar setelah berganti pakaian.

Dia mengenakan gaun selutut yang simpel, rambut panjangnya digelung tinggi, dan wajahnya dihiasi riasan tipis yang elegan. Sederhana tetapi anggun, memancarkan kecantikan yang luar biasa dari dalam dirinya.

"Ayo kita pergi," kata Yoan, anehnya begitu tenang menghadapi perceraian.

Pada saat itulah Kevin Santoso baru benar-benar sadar. Permintaan cerai Yoan kali ini sungguhan.

Entah kenapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak, terbakar oleh amarah yang tak jelas asalnya.

Tepat pada saat itu, ponselnya berdering.

Kevin hanya melirik layar ponselnya sekilas, lalu dengan cepat berkata, "Ada urusan di kantor. Lain kali saja."


Setelah itu, Kevin Santoso tidak pulang selama beberapa hari berturut-turut.

Selama itu pula, dia tidak lagi menerima pesan singkat dari Yoan yang selama tiga tahun ini selalu masuk tepat pukul tiga sore, menanyakan apakah dia akan pulang untuk makan malam.

'Apa dia sudah sadar kesalahannya, jadi tidak punya muka lagi untuk mengirimiku pesan?' pikirnya.

Malam harinya, Kevin menerima telepon dari Ibu Lestari, asisten rumah tangga mereka.

"Bapak, saya hari ini datang untuk bersih-bersih, tapi seharian ini saya tidak melihat Nyonya sama sekali."

Asisten rumah tangga memang datang seminggu sekali untuk melakukan pembersihan total.

Karena Yoan Prawiro pernah berkata dia tidak ada kerjaan, urusan sepele seperti membersihkan rumah, mencuci baju, dan memasak bisa dia lakukan sendiri. Karena itulah, ART hanya datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah secara menyeluruh.

"Tidak usah pedulikan dia," jawab Kevin, tidak menganggapnya serius.

"Tapi, Bapak ..." Ibu Lestari terdengar ragu-ragu. "Bapak, tadi waktu saya membersihkan kamar, saya lihat pakaian dalam Nyonya sudah tidak ada. Dan, dan juga ..."

"Juga apa?"

"Nyonya meninggalkan surat perjanjian cerai untuk Bapak, dan ... dan secarik kertas. Tulisannya: 'Kapan ada waktu, hubungi aku untuk mengurus surat-suratnya.'"

Mendengar itu, tatapan Kevin Santoso menajam.

Dia tidak pernah membayangkan suatu hari Yoan akan berinisiatif meninggalkannya.

Selama tiga tahun ini, sekejam dan semenyakitkan apa pun perbuatannya, Yoan selalu menelannya dalam diam. Kali ini, apa dia benar-benar serius?

Bagus! Bagus sekali!


Yoan Prawiro sudah seminggu tinggal di rumah keluarga asalnya, dan Ibu Prawiro sudah mulai curiga.

Kecurigaannya memuncak saat dia melihat liputan wawancara Kevin Santoso di saluran berita bisnis televisi.

Seketika dia murka, langsung menyerbu masuk ke kamar Yoan. "Bukannya kamu bilang Kevin sedang dinas ke luar kota, makanya kamu pulang untuk tinggal beberapa hari?"

"Kevin jelas-jelas ada di Jakarta! Kenapa kamu malah di sini bukannya melayaninya di rumah?!"

"Kamu ..."

Tidak, ada yang tidak beres!

Ibu Prawiro mengenal putrinya lebih dari siapa pun.

Dengan tabiatnya, sekalipun dia menderita luar biasa di rumah Kevin, dia tidak akan pernah meninggalkannya.

Hanya ada satu penjelasan!

Tanpa basa-basi, Ibu Prawiro menarik Yoan dari tempat tidur, mencengkeram kerah bajunya dan bertanya, "Apa Kevin mengusirmu? Dia mau menceraikanmu? Iya, kan?!"

Hari itu, saat Yoan meninggalkan kediaman Santoso, hujan terakhir musim gugur turun dengan derasnya.

Dia kehujanan, dan setibanya di rumah, dia langsung demam tinggi dan jatuh sakit.

Sudah berhari-hari dia terbaring lemah tanpa ada tanda-tanda membaik.

Ditarik paksa dari tempat tidur oleh ibunya membuat kepala Yoan terasa begitu berat hingga dia tak mampu berdiri tegak.

"Aku ... aku berencana menceraikannya ..."

Satu kalimat sederhana itu sudah menguras seluruh tenaganya.

'PLAK!'

Satu tamparan keras mendarat di pipi Yoan. Belum puas, Ibu Prawiro memakinya, "Aku tidak peduli! Sekarang juga kamu kembali ke sana! Minta maaf padanya! Kalau tidak ..."

"Kamu tahu Pak Rahman baru ditinggal mati istrinya, kan? Percaya atau tidak, besok aku akan langsung menikahkanmu dengannya!"

"Pokoknya Keluarga Prawiro harus punya sandaran yang kuat. Soal siapa nama sandaran itu, semua tergantung padamu!"

Pak Rahman yang disebut ibunya, Yoan kenal. Seorang pengusaha tambang yang usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun.

Yoan tersenyum pahit. Sulit dipercaya ada seorang ibu yang tega menikahkan putri kandungnya sendiri dengan pria tua yang sudah bau tanah.

Namun, dia percaya.

Dia percaya dengan obsesi ibunya pada uang dan kekuasaan, dia bisa melakukan apa saja.

Yoan tidak mengerti kenapa.

Padahal dia dan Anya Prawiro sama-sama putri Keluarga Prawiro, tetapi kenapa perlakuan yang mereka terima begitu berbeda?

Anya Prawiro mendapatkan apa pun yang dia inginkan, bisa melakukan apa pun yang dia suka, bebas memilih pasangan, dan hidup seperti seorang putri tanpa beban sejak kecil.

Sedangkan dia?

Hanya karena dia menderita gangguan penglihatan bawaan, apakah itu berarti dia ditakdirkan menjadi anak yang terbuang? Ditakdirkan untuk menerima nasib diatur oleh orang lain sejak dia dilahirkan?

"Masih diam saja di situ? Cepat kembali ke rumah Keluarga Santoso!" Ibu Prawiro mendorong bahu Yoan dengan kasar karena tidak sabar.

'BRUK!'

Karena tidak siap, Yoan terdorong hingga jatuh ke belakang. Bagian belakang kepalanya membentur sudut ranjang dengan keras. Dia bahkan tidak sempat merasakan sakit sebelum akhirnya pingsan.


Saat dia sadar kembali, hari sudah berganti.

Bau disinfektan yang menyengat dan suara 'bip-bip' dari monitor di sampingnya memberitahunya bahwa dia berada di rumah sakit.

"Kamu sudah sadar?"

Dina Lestari, yang sejak tadi berjaga di sisinya, menghela napas lega saat melihat Yoan akhirnya membuka mata. "Yoan, dengarkan aku. Sebaiknya kamu segera dioperasi."

"Sekarang penglihatanmu baru menurun. Kalau sampai gejala buta sementara muncul, sekali terjadi pasti akan ada yang kedua, durasinya akan semakin parah, dan akhirnya kamu akan buta total. Kalau sudah begitu, sudah terlambat untuk diobati!"

Dina Lestari bukan hanya sahabat terbaik Yoan, tetapi juga seorang dokter spesialis mata ternama di Indonesia.

"Aku ..."

Yoan tidak tahu bagaimana harus memberitahunya bahwa gejala buta sementara itu sudah muncul.

Ini sudah yang ketiga kalinya.

Apakah sudah terlambat?

"Aku ...mau pikir-pikir lagi."

Masih ada hal penting yang belum dia selesaikan.

Yang terpenting, dia bahkan belum sempat menatap wajah Kevin-nya untuk terakhir kali dengan sungguh-sungguh.

Setelah berkata demikian, Yoan membalikkan badan memunggungi Dina, lalu bergumam pelan, "Aku lelah, mau istirahat sebentar."

Dina tidak berkata apa-apa lagi dan pergi.

Tidak lama kemudian, Yoan mendengar suara langkah kaki mendekat, diikuti oleh tawa sinis yang lembut. "Kudengar kamu sakit parah?"

Suara ini ...

Yoan sangat peka terhadap suara. Dia langsung tahu, itu Tara Chandra.

"Penyakitmu ini, sekalipun dioperasi, tingkat kesembuhannya hanya empat puluh persen. Kamu terus menolak operasi karena takut buta total, kan? Takut Kevin Santoso akan meninggalkanmu. Benar, tidak?"

Apa yang dikatakan Tara Chandra benar, sekaligus salah.

Yoan memang takut tidak bisa melihat lagi, tetapi dia tidak takut ditinggalkan.

Yang dia takutkan adalah tidak bisa melihat Kevin lagi.

Yoan menggigit bibir bawahnya erat-erat, tidak bersuara.

Tara Chandra tahu tebakannya benar, lalu melanjutkan, "Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau aku memberitahu Keluarga Santoso tentang penyakit gangguan penglihatan bawaanmu ini?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya