Bab [4] Saya Ingin Bercerai Dengannya
Wajah Yoan Prawiro seketika menegang, sorot matanya yang dingin berkilat sesaat, tapi ia tidak membalas.
“Kamu tahu lebih baik dariku konsekuensinya kalau semua ini terbongkar.”
Tara Chandra jelas puas melihat ekspresi Yoan. Ia menyunggingkan senyum sinis. “Kalau kamu mundur sendiri, setidaknya kamu masih bisa menyelamatkan sedikit harga dirimu. Pikirkan baik-baik.”
Di luar jendela, hujan turun rintik-rintik dan sepertinya akan semakin deras.
Yoan Prawiro berkata pada dirinya sendiri, ini yang terakhir kalinya. Ia hanya ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali, menatap wajahnya lekat-lekat sekali lagi.
Setelah itu, ia akan menyerah dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
DUAARR!
Disertai suara guntur yang menggelegar, sopir taksi menurunkan Yoan Prawiro di depan gerbang sebuah vila mewah.
Ia berlari kembali sambil menutupi kepala dengan kedua tangannya.
Di tengah hujan lebat, pandangannya kabur. Ia hanya bisa mengandalkan insting untuk mencari arah.
Saat hampir tiba di bangunan utama, dari kejauhan ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
“Ayah? Ayah, kenapa Ayah di sini? Bukannya Ayah seharusnya di rumah sakit?”
Saat menyadari siapa orang itu, Yoan Prawiro terperanjat kaget.
Itu Qori Prawiro.
Dua tahun terakhir ini, kondisi kesehatannya memburuk dan ia menjadi langganan rumah sakit. Sering kali, ia sama sekali tidak bisa mengurus Yoan.
“Bagus sekali, reuni ayah dan anak.”
Di atas tangga, seorang pria menatap mereka dengan tatapan sedingin es, seolah-olah ia adalah raja yang bertahta di singgasana tertinggi.
“Yoan, Ayah tidak apa-apa.” Qori Prawiro tersenyum getir, lalu menoleh ke arah pria di atas tangga.
“Kevin, Yoan sekarang sebatang kara. Kalau kamu bersikeras menceraikannya, bagaimana nasibnya nanti? Tolong jangan begini, ya? Kamu boleh bersama siapa pun yang kamu mau, asalkan kamu tidak meninggalkan Yoan!”
Hujan deras mengguyur, seluruh pakaian Qori Prawiro sudah basah kuyup.
Air hujan mengalir di wajahnya, meninggalkan jejak kerapuhan di raut mukanya yang tegar.
Namun, yang lebih terlihat adalah kekhawatiran dan keputusasaan.
Melihat itu, hati Yoan Prawiro terasa seperti diiris sembilu.
Air mata bercucuran, ia memeluk lengan ayahnya dan berteriak, “Kita pergi, Ayah. Kita pergi, ya? Aku mohon!”
Harga dirinya sudah diinjak-injak sampai hancur. Apa ia harus menanggung malu yang lebih besar lagi?
“Yoan, cepat bantu Ayah memohon padanya! Cepat mohon padanya, dia pasti akan kasihan padamu karena kalian sudah bersama begitu lama.”
Namun, Qori Prawiro justru mencengkeram erat tangan Yoan, tidak membiarkannya pergi.
Wajahnya tampak pucat, suaranya serak. “Apa yang kamu tunggu? Cepat mohon padanya!”
Yoan Prawiro menggeram sambil menggertakkan giginya. “Kita pergi.”
“Hebat juga kamu, bisa membujuk Pak Prawiro datang untuk membelamu.”
Akhirnya, pria yang sedari tadi hanya diam menonton seperti sedang menyaksikan pertunjukan itu angkat bicara.
“Sayang sekali, kamu tidak pantas.” Suaranya begitu dingin, begitu kejam.
Nada sinisnya terdengar sangat jelas.
Hati Yoan Prawiro sakit luar biasa. Dengan susah payah ia mengangkat kepala, memaksa dirinya menatap pria itu.
Mata mereka bertemu. Pria itu masih tampak begitu agung dan tak tersentuh.
Tirai hujan yang terbentuk dari ribuan tetesan air sama sekali tidak mengurangi pesonanya. Sebaliknya, hal itu justru membuatnya terlihat semakin dingin dan angkuh, seolah bukan manusia biasa.
Sangat kontras dengan penampilan Yoan yang menyedihkan.
Hati Yoan serasa ditusuk jarum. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah memohon, “Ayah, ayo kita pergi. Dia tidak akan setuju.”
“Kamu tahu apa?” ujar Qori Prawiro sambil menggertakkan gigi. “Sekarang kamu hanya bisa bergantung padanya!”
Belum selesai kalimatnya, ia terbatuk-batuk hebat. Matanya penuh dengan kekhawatiran.
Kondisinya saat ini tidak baik, ia tidak sanggup menopang masa depan putrinya.
Begitu mereka bercerai, Yoan pasti akan kembali dimanfaatkan orang jahat. Seluruh hidupnya akan hancur.
“Pak Prawiro, melihat Anda seperti ini, saya ikut prihatin.” Kevin Santoso angkat bicara dengan nada pelan. Matanya yang hitam dan dalam memancarkan rasa jijik. “Tapi, apa yang membuat Anda berpikir saya akan mengasihani dia?”
Benar, seorang wanita yang telah membuatnya kehilangan muka, mana mungkin pantas mendapatkan sedikit pun belas kasihannya?
“Anggap saja… anggap saja demi saya….”
“Ayah, sudah cukup, jangan katakan lagi.” Yoan Prawiro langsung berlutut. “Aku mohon, ayo kita pergi.”
“Yoan, kamu… kamu….” Belum selesai Qori Prawiro bicara, ia tiba-tiba memegangi dadanya dan langsung jatuh terkulai ke belakang.
Dalam sekejap, ia sudah tidak sadarkan diri.
“Ayah! Ayah!” Yoan Prawiro buru-buru menahan tubuh ayahnya yang rubuh. Ia menangis histeris. “Ambulans! Cepat panggil ambulans!”
Qori Prawiro mengalami serangan jantung mendadak. Ia berada di ambang kematian dan nyaris tidak tertolong.
Yoan Prawiro berjaga semalaman di ruang ICU, begitu khawatir hingga ia menangis tersedu-sedu sampai suaranya serak.
Bisakah dunianya menjadi lebih kelam lagi?
“Sebenarnya apa yang terjadi? Ayahmu baik-baik saja di rumah sakit, kenapa tiba-tiba lari keluar sampai jatuh sakit begini?”
Suara melengking Yanti Rukmana tiba-tiba terdengar, meledak di belakang punggung Yoan Prawiro.
“Dasar perempuan sialan! Apa belum cukup kamu membuat keluarga kita sengsara? Benar-benar biang sial! Setelah menghancurkan perusahaan, sekarang kamu mau mencelakai ayahmu juga!”
Suaranya sangat keras hingga menarik perhatian orang-orang di luar kamar rawat. Mereka berkerumun untuk menertawakan Yoan Prawiro.
Namun, Yoan yang menjadi pusat perhatian hanya duduk diam, membeku seperti patung.
“Bicara! Kamu ini mayat hidup, ya?” Yanti Rukmana mencubit lengan Yoan dengan keras.
“Kamu sudah memohon baik-baik pada Kevin Santoso atau belum? Kalau dia tetap bersikeras menceraikanmu, kamu….”
“Aku lebih baik mati daripada harus memohon padanya!” Yoan Prawiro tiba-tiba mengangkat kepala, suaranya bergetar. “Aku mau cerai darinya.”
Tadi malam, tidak ada yang tahu bagaimana ia melewatinya.
Berjam-jam, ratusan menit, ia tidak berhenti berpikir sedetik pun.
Ia memutar ulang semua kenangan, dari awal mereka bertemu, menikah, hingga saat ini.
Dari awal sampai akhir, pertemuan mereka adalah sebuah tragedi, sebuah lelucon.
Hanya dia si bodoh ini yang masih mengira sedang memperjuangkan cinta sejati.
Hujan deras semalam telah memadamkan sisa harapan terakhirnya dalam cinta yang ia kira nyata ini.
Terlebih lagi, ia tidak ingin keluarganya mengalami penghinaan yang sama lagi.
Perceraian ini harus terjadi!
“Apa?” Yanti Rukmana menatapnya tak percaya, seolah baru mendengar lelucon.
“Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu katakan, Yoan Prawiro? Kepalamu terbentur pintu, ya?”
Yoan Prawiro tidak menjawab. Keputusannya sudah bulat.
“Perempuan sialan! Mau cerai? Jangan harap!”
“Ayahmu sudah jadi begini, perusahaan kita di ambang kehancuran, lalu kamu mau bercerai? Bagaimana kita sekeluarga mau hidup?”
“Kalau kamu berani bercerai, aku akan menikahkanmu dengan bos tambang batu bara tua bangka berumur tujuh puluh tahun itu!”
Teriakan murka Yanti Rukmana memenuhi ruang rawat, terasa begitu menyesakkan.
“Bicara, perempuan sialan!”
Melihat Yoan terus menunduk tanpa berkata apa-apa, Yanti Rukmana menamparnya dengan keras.
Yoan tidak siap, dan langsung jatuh ke lantai.
Rasa sakit yang hebat menjalari tubuhnya. Pandangannya menggelap, dan ia pun kehilangan kesadaran.
Saat sadar kembali, ia sudah berada di atas sebuah ranjang yang hangat dan nyaman.
Yoan Prawiro membuka matanya dengan bingung. Yang pertama kali ia lihat adalah kamar bernuansa merah muda milik sahabatnya, Dina Lestari.
“Sudah bangun?” Dina Lestari membawakan segelas air hangat. “Kamu pingsan beberapa jam. Akhirnya bangun juga. Bagaimana perasaanmu?”
Yoan Prawiro tidak peduli dengan kondisinya. Dengan suara serak, ia bertanya dengan cemas, “Bagaimana keadaan Ayahku?”
