Bab 101

Mengabaikan kerumunan yang konyol itu, Fajar merangkul bahu Bea dan berbisik pelan, “Kita pulang.”

Langkahnya mantap. Hak Bea berdetak tajam, teratur. Dalam cahaya temaram, siluet mereka—yang satu tinggi tegak, yang satu ramping anggun—membentuk harmoni yang aneh, nyaris tak masuk akal.

Melihat me...

Masuk dan lanjutkan membaca