Bab 2
Alya datang lebih awal ke Echo Coffee House, memilih bangku dekat jendela supaya bisa melihat orang-orang lalu-lalang di luar sambil tenggelam dalam pikiran.
“Al.”
Suara itu—akrab tapi terasa asing—melayang tepat di atas kepalanya.
Alya mendongak dan mendapati Rangga berdiri di sana, laki-laki yang sudah lima tahun tak ia temui. Waktu meninggalkan jejak di wajahnya. Bocah kikuk yang dulu ia kenal kini berubah jadi pria berjas rapi, sikapnya dingin dan berjarak. Hanya matanya yang masih sama seperti yang ia ingat.
Rangga mengeluarkan sebuah kotak kecil yang elegan dari saku dalam jasnya, lalu meletakkannya perlahan di hadapannya. Di dalamnya ada cincin berlian—batu utama berkilau dikelilingi kristal-kristal merah muda berbentuk hati.
Napas Alya tercekat. Desainnya tak mungkin salah. Itu sketsa kalung yang pernah ia buat untuk koleksi “Eternity” saat ia kelas dua kuliah.
Dulu, Rangga bilang ingin memasukkannya ke lomba desain. Belakangan, Alya baru tahu Rangga menjual semua sketsanya ke Tono Wijaya, sebagai tukar-menukar dengan seratus lima puluh miliar rupiah dan sepucuk surat rekomendasi.
“Kok bisa kamu—”
“Aku suruh orang buat beli balik buat aku.” Suara Rangga pelan. “Al, sekarang aku bisa jagain kamu. Cerai dari dia dan sama aku. Aku bakal bikin kamu bahagia.”
Alya menutup kotak itu perlahan, lalu mendorongnya kembali ke arah Rangga.
Setelah itu, ia mengeluarkan kotak kecil lain dari tasnya dan menumpahkan isinya ke atas meja—gelang Cartier, sebuah miniatur, beberapa foto, serta surat-surat cinta yang dulu mereka tukar sebelum jadian di kampus. Sisa-sisa romansa yang sudah lama padam.
“Aku balikin ini semua.”
Rangga menatap barang-barang itu, rautnya menggelap. “Al, kamu masih marah soal aku pergi dulu?”
“Nggak.” Alya menggeleng. “Cuma… sekarang aku sudah menikah sama Tono.”
“Kamu cinta dia?” Rangga mendadak bertanya. “Alya, jawab. Kamu cinta Tono?”
Alya tak menjawab. Ia hanya menunduk menatap tangannya sendiri. “Kamu berubah,” ucapnya pelan.
“Pernikahan tanpa cinta nggak ada alasan buat diterusin!” Rangga mendesak. “Kamu lagi ngurus pendaftaran merek perhiasanmu, kan? Prosesnya mandek terus, tapi kamu nggak berani minta bantuan Tono. Kalau kamu nikah sama aku, semua masalah itu bisa aku beresin. Nggak ada yang bener-bener bakal bantu kamu selain aku.”
Kata-katanya membuat Alya mengangkat wajah. Ia teringat bertahun-tahun lalu, setelah ayah angkatnya memukuli dia, bagaimana Rangga akan memanjat ke jendela kamarnya, mengobati lukanya, lalu menemani sampai fajar. Dulu ia selalu bilang, “Jangan nangis, Al. Kamu masih punya aku.”
Tapi sekarang? Bahkan kalimat cintanya terdengar seperti penawaran kerja sama. Alya memang tak pernah cerita soal pendaftaran merek itu pada Tono, semata-mata karena ia tak ingin menambah beban. Tono sudah melakukan terlalu banyak untuknya.
Alya mengembuskan napas, lalu berdiri. “Rangga, aku sudah balikin barang-barangmu. Aku harap kita nggak ketemu lagi.”
Rangga ikut berdiri, meraih tangannya, tapi Alya menghindari sentuhannya.
“Alya!”
Suara itu terputus oleh pintu kaca tebal kedai kopi yang tertutup. Alya tak menoleh, melangkah cepat seolah sedang kabur dari hantu.
…
Saat ia kembali ke vila, malam sudah pekat. Begitu pintu dibuka, aroma masakan rumahan yang kaya langsung menyelimuti dirinya, seketika mengusir dingin yang terbawa dari luar.
Alya membeku di area pintu masuk. Tono jarang sekali masak, jadi hari ini…
“Kamu pulang?” suara Tono yang berat terdengar dari arah dapur.
Alya menoleh. Tono berjalan keluar, memakai celemek abu-abu yang terasa janggal di atas celana bahan mahalnya yang rapi. Pemandangan itu agak lucu, tapi entah kenapa membuat jantung Alya berdebar.
“Kamu masak?” Suara Alya terdengar jauh, seperti ia curiga sudah masuk ke rumah yang salah.
Tono melepas tali celemek, lalu menyampirkannya di sandaran kursi. “Iya. Cuci tangan. Makan malam sudah siap.”
Meja makan terhidang empat lauk dan satu sup—semuanya favorit Alya.
Alya duduk dan menyuap bakso asam manis. Rasa asam segarnya meledak pas di lidah. Tono ingat ia tidak suka daun bawang, dan setiap masakan dibuat persis seperti yang pernah ia sebut sekilas, entah kapan.
“Enak?” Tono memperhatikannya, emosinya tersembunyi di balik kacamata.
“Enak banget!” Alya mengangguk, lalu teringat sesuatu. “Omong-omong, hari ini aku—”
Tono memotongnya. “Makan dulu,” katanya sambil menambah lauk ke piring Alya, nadanya datar. “Hari ini kita rayain.”
“Rayain?” Alya menatap bingung. “Ngerayain apa?”
“Brand perhiasan kamu. Pendaftarannya sudah tembus.” Rangga menjawab enteng, seolah cuma komentar soal cuaca yang lagi enak.
Alya sampai menjatuhkan sendok garpunya ke piring. Tatapannya mengunci Rangga. “Hah? Kamu ngomong apa? Kok bisa? Aku sudah tanya-tanya, kata mereka prosesnya ribet banget. Aku nggak mau ngerepotin kamu, makanya nggak pernah aku omongin…”
“Nggak ribet. Cuma nelepon.” Rangga menyendok sup ke mangkuk dan meletakkannya di depan Alya.
Uap hangat membuat mata Alya berkabut. Rangga selalu begitu—baiknya diam-diam, beresin masalahnya tanpa banyak suara. Lalu Alya sendiri sudah ngapain? Hari ini dia malah ketemu Bima—Bima yang sama yang pernah menjadikan karyanya sebagai alat tawar-menawar.
Kalau Rangga tahu, dia bakal mikir apa? Apa dia bakal ngira Alya sama saja seperti Bima—orang yang tega mengkhianati kepercayaan demi keuntungan? Pikiran itu bikin tulang punggungnya dingin.
“Kamu ke mana hari ini?” tanya Rangga tiba-tiba.
Jantung Alya berdegup kencang. Dia menunduk, suaranya dikecilkan. “Aku nyiapin lomba desain, tadi sibuk di studio. Nggak ke mana-mana lagi.”
Gerakan Rangga sempat terhenti, kentara sekali, tapi dia lanjut makan tanpa nanya lagi.
Alya bisa merasakan suhu di ruangan seolah turun beberapa derajat. Yang Alya nggak tahu, Rangga sudah dapat laporan dari asistennya—dan dia tahu persis Alya bertemu Bima.
Selesai makan malam, Rangga mulai membereskan piring. Saat Alya mau membantu, Rangga menolak.
“Aku ada video conference. Kamu istirahat aja,” katanya setelah menaruh piring di bak cuci.
“Rapat malam banget gini?”
“Iya, beda waktu sama Kota Mahkota.” Rangga melepas celemeknya. “Bisa sampai larut. Nggak usah nungguin.”
Habis itu dia naik ke lantai atas, ke ruang kerjanya. Alya duduk di ruang keluarga, menatap cahaya dari ruang kerja di atas, dadanya gelisah.
Rangga marah. Walau dia nggak bilang apa-apa, Alya bisa ngerasain.
Jam sebelas, setelah cuci muka dan ganti baju, Alya naik ke atas. Lewat depan ruang kerja, dia masih dengar suara Rangga—tenang, dingin, enak didengar.
Alya berdiri sebentar di depan pintu, tapi pada akhirnya dia nggak mengetuk. Dia balik ke kamar utama.
Di atas ranjang, Alya bolak-balik, susah tidur.
Tengah malam, dia dengar pintu ruang kerja terbuka, lalu langkah kaki Rangga—bukan menuju kamar utama, melainkan ke kamar tamu.
Alya terperangah. Selama menikah, kecuali waktu mereka menginap di Rumah Besar Wiratama, yang tidur di kamar tamu selalu Alya. Rangga belum pernah sekalipun tidur di sana.
Rangga sedemikian perhatian dan pengertian; dia bahkan membeli rumah ini supaya jarak Alya ke studio lebih dekat. Semua urusan makan dan bersih-bersih pun sudah dia atur dengan orang rumah.
Sebagai istri, Alya sudah merasa banyak kurang—mana mungkin dia membiarkan Rangga tidur di kamar tamu?
Alya mengenakan kardigan, lalu berjalan pelan ke pintu kamar tamu. Begitu Rangga melihat lingkar gelap samar di bawah mata Alya, keningnya mengerut.
“Kenapa belum tidur?”
Alya mendekat ke ranjang, meraih tangan Rangga. “Balik ke kamar utama. Aku yang tidur di sini.”
Tangan Rangga menegang, lalu perlahan dia menariknya kembali. “Nggak perlu.”
“Rangga, kamu marah?” Alya menatapnya, memberanikan diri. “Kalau karena tadi aku—”
“Kamu kenapa?” Rangga memandangnya. Matanya dalam, susah ditebak.
Mulut Alya terbuka, tapi kalimat itu macet di tenggorokan. Dia menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Pokoknya aku yang tidur di sini. Kamu capek kerja—kamu lebih enak istirahat di kamar utama.”
Melihat Alya ragu-ragu, Rangga paham Alya masih berniat menutupi pertemuannya dengan Bima. Rangga menggenggam tangan Alya dan, dengan dingin, menuntunnya menjauh dari kamar tamu. “Selamat malam.”
Pintu ditutup tepat di depan wajah Alya, dan dia mendengar bunyi kunci diputar.
Pikiran Alya berantakan. Dia mengambil ponsel, berniat mengirim pesan minta maaf. Begitu layar terbuka, sebuah notifikasi berita kilat muncul:
#HEBOH: Aktris Letitia Morgan Melamar Terbuka pada Jenius Finansial Bima Darmawan, Ditolak! Darmawan Mengaku Menjaga Diri untuk Cinta Pertamanya.
Alya kaget setengah mati sampai hampir melempar ponselnya ke seberang kamar.
