Bab [2] Ancaman yang Terang-terangan
"Menikah denganku, ini harga yang harus kamu bayar karena membuat Sari Hartono kabur!" Lucas Fajar mendekat ke arahnya, tatapannya tajam seperti api.
Sisi Yunita tiba-tiba terdiam, menikah? Dia dan Lucas Fajar?
"Aku tahu perusahaan venture capital kakakmu akan segera go public, kalau tidak mau dia bangkrut sebaiknya kamu pikir baik-baik."
"Lucas Fajar, dasar otak udang! Tunanganmu kabur nikah apa hubungannya denganku? Kenapa kamu harus begini kepadaku?!" Sisi Yunita marah hingga matanya memerah, memaki habis-habisan.
"Aku hitung sampai tiga, tanggung sendiri risikonya!"
"Orang egois sepertimu pantas saja Nona Hartono kabur nikah, kalau jadi aku pun, aku pasti kabur juga!"
"Satu." Lucas Fajar tidak tergoyahkan, dia tetap mengeluarkan angka itu.
"Tidak menyangka kamu orangnya seperti ini! Kamu pikir punya uang sedikit sudah hebat, ya? Pantas saja kamu ditinggalkan!"
"Dua."
"Kamu ..."
"Tiga."
"Aku setuju!" ucapnya hampir bersamaan.
Kepribadian Lucas Fajar juga pernah disebutkan kakaknya beberapa kali. Orang ini memang sangat licik, apalagi perusahaan Kakak sedang kekurangan dana kalau Ayah sampai bingung ... tidak, demi keamanan, dia harus setuju.
"Aku tahu Nona Yunita itu orang pintar." Lucas Fajar tertawa dingin, mendorongnya masuk ke ruang rias.
"Dandani dia baik-baik, hari ini dia yang jadi tokoh utama," Lucas Fajar berkata tanpa ekspresi kepada Lisa.
"Dia?" Lisa terkejut, beberapa staf yang ada di tempat itu semua tercengang.
Mereka tidak salah dengar, kan? Direktur mau menikahi gadis kecil ini dan dia juga perencana pesta pernikahan mewah ini.
"Ngapain bengong? Hitung sendiri berapa waktu yang tersisa." Lucas Fajar mengerutkan alis tajam, membuat semua orang panik dan sibuk.
"Segera ganti semua yang tertulis nama Sari Hartono menjadi Sisi Yunita dan undangan langsung dibagikan."
"Lalu bagaimana menjelaskan ke Keluarga Hartono?" Asisten Direktur Andy Liem bertanya hati-hati.
"Ayahku sudah pergi menyelesaikan masalah itu, kamu atur saja yang di sini."
"Baik."
Lucas Fajar pergi tanpa ekspresi, meninggalkan punggung yang jangkung tetapi dingin untuknya.
Entah berapa lama berlalu, Sisi Yunita dalam keadaan melamun menyelesaikan transformasinya dari gadis menjadi pengantin. Melihat wajahnya yang sudah berdandan pengantin di cermin, otaknya masih kosong.
Sampai ayah Lucas Fajar, Vincent Fajar memanggil namanya, baru dia tersadar.
Setelah semua orang sudah pergi, di ruangan hanya tersisa mereka berdua, Vincent Fajar baru perlahan membuka mulut, "Membuatmu menikah dalam situasi seperti ini adalah kesalahan Keluarga Fajar kepadamu, tapi kami tidak akan merugikanmu."
"Diancam seperti itu oleh anakmu, berani tidak aku bilang tidak mau nikah?" Sisi Yunita tersenyum pahit, melihat tokoh besar yang dulu pernah menguasai dunia bisnis ini, hatinya sudah tidak ada lagi rasa kagum seperti dulu.
Vincent Fajar yang mengenakan jas hitam juga tidak berdaya, wajah seriusnya menampakkan senyum pahit yang menyedihkan.
"Kalau kamu sudah menikah dengan Fajar, berarti kamu sudah jadi Keluarga Fajar. Pihak besan yang bisa kami bantu akan kami usahakan semaksimal mungkin."
Sisi Yunita terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih."
"Kami yang harus berterima kasih kepadamu. Kalau tidak ada kamu, kami semua tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini."
"Orang tuaku mana? Kalian sudah memberitahu keluargaku?" Sisi Yunita suaranya agak bergetar, memikirkan orang tuanya sendiri hatinya sangat sedih.
Vincent Fajar wajahnya penuh penyesalan. "Teleponnya tidak bisa dihubungi, tapi aku sudah kirim orang ke Kota Jakarta, pernikahan ini mereka tidak bisa ikut."
Kekecewaan Sisi Yunita tidak luput dari matanya, tetapi dia hanya bisa pasrah. Bagaimanapun, Keluarga Fajar yang bersalah kepada gadis itu, tetapi membuat anaknya malu dan menjadi bahan tertawaan, Vincent Fajar tidak sanggup.
Untung saja Yunita ini cantik dan latar belakangnya bersih, bisa seperti ini sudah bagus.
Hari pernikahan pengantin wanita selalu yang paling cantik di tempat, meskipun orang-orang berbisik-bisik tetapi melihat pengantin keluar tetap tidak bisa tidak terpesona.
Lucas Fajar mengerutkan kening, tidak menyangka anak kecil yang berpakaian tertutup rapat itu tubuhnya begitu seksi. Memang benar tidak ada wanita jelek, yang ada hanya wanita malas.
Sisi Yunita memang cantik, sekarang didandani dengan serius makin menawan. Gaun pengantin putih bersih dengan model V tanpa tali menampilkan tubuhnya yang berlekuk indah dengan sempurna. Di antara kerah V terlihat jelas lekukan yang dalam, leher putih yang ramping memakai kalung berlian yang elegan dan mahal, lengan yang jenjang, tulang selangka yang indah, wajah oval standar dengan fitur wajah yang cantik, mata besar yang cerah, bibir merah muda, serta kulit putih halus, semuanya menggoda mata orang-orang.
"Pantas saja pelakor bisa naik jabatan, cantik begini pria mana yang tidak tergoda."
Entah dari mana suara itu terdengar di telinganya, Sisi Yunita terkejut hingga tubuhnya oleng, untung Vincent Fajar di sampingnya menahan dia jadi tidak memalukan.
Matanya berkaca-kaca, pelakor?
Benar juga. Demi menjaga nama baik, Keluarga Fajar tidak mungkin memberitahu orang-orang bahwa pengantinnya kabur. Di mata orang luar Keluarga Hartono dan Grup Fajar, dia pasti dicap sebagai pelakor.
Di mata mereka dia ini pelakor yang menyingkirkan istri sah dan berhasil naik jabatan, dari orang ketiga jadi istri muda konglomerat.
"Secantik apa pun dia, kalau tidak punya latar belakang yang bagus, cepat atau lambat akan dibuang. Dunia konglomerat bukan tempat sembarang orang."
"Juga tidak tahu dia dapat kemampuan apa sampai bisa deket sama Lucas, karena dari dulu tidak pernah dengar Lucas punya wanita di luar!"
"Ini kehebatan pelakor, segala cara dipakai."
"Kasihan Sari Hartono pasti sedih banget."
Suara cemoohan orang-orang makin keras, benar-benar menutupi lagu pengantin yang meriah.
Lucas Fajar mengenakan jas ekor putih berjalan menghampiri dan memegang tangannya. Jari-jari panjangnya menggenggam tangan Sisi Yunita yang agak bergetar, membuat hatinya tiba-tiba muncul rasa kasihan.
