Bab [3] Kak Fajar Aku Suka Kamu
"Kalau gosip sekecil ini saja tidak bisa diterima, bagaimana bisa jadi istri Lucas Fajar?" bisiknya di telinga Sisi, suaranya sudah tidak sedingin tadi.
Sisi Yunita tersenyum tipis dan meluruskan tubuhnya. "Lucas Fajar, ingat baik-baik hutangmu kepadaku."
Bagaimana jalannya upacara pernikahan itu, dia sudah tidak ingat lagi. Yang diingatnya hanya pendeta memanggil namanya berkali-kali sampai dia tersadar.
Saat bersulang mendengar berbagai ejekan dan sindiran yang bergema di telinganya, gelas demi gelas anggur merah masuk ke tenggorokan. Pernikahan itu sangat meriah tetapi dia merasa sangat sepi.
Dalam keadaan setengah sadar, Sisi Yunita melihat seseorang berdiri di sampingnya. Pria itu tampan, bertubuh tinggi langsing, mengenakan jas putih yang begitu mempesona hingga mata tidak bisa lepas darinya, seperti malaikat yang tersesat ke dunia manusia.
Apakah dia pangeran berkuda putih yang sudah lama dia sukai?
Seolah penglihatannya makin jelas, melihat pria yang familier itu Sisi Yunita langsung merangkul lehernya, menatapnya dengan mata sayu. "Kak Fajar, itu kamu?"
Lucas Fajar menatapnya. Kak Fajar? Apakah dia memanggilnya?
"Aku mau tanya sesuatu, kalau kamu mau, angguk saja. Kalau tidak mau, geleng kepala, oke?"
"Apa?" Lucas Fajar membiarkan dia memeluk lehernya, kedua wajah mereka sangat dekat.
"Itu loh, itu ...." Sisi Yunita menatapnya dengan mata sayu, bola matanya yang jernih seperti air musim gugur. Dia tidak tahu ekspresinya saat ini penuh dengan godaan yang mempesona, yang bagi Lucas Fajar merupakan tantangan.
"Bilang, kalau tidak bilang aku pergi." Lucas Fajar membungkuk karena dipeluk, tubuhnya sangat tidak nyaman.
"Aku suka kamu, aku sudah suka kamu lama sekali. Kalau kamu tidak punya pacar, bisa tidak pertimbangkan aku?" Sisi Yunita bertanya dengan tebal muka, matanya masih sayu dan tidak jelas.
"Kamu sudah suka aku dari lama?" Lucas Fajar mengerutkan alis.
"Iya, supaya bisa melihatmu setiap hari makanya aku datang kerja ke Jakarta. Aku tidak mau lagi diam-diam menyukaimu. Sekarang kamu sudah tahu perasaanku, mau terima aku tidak?"
Lucas Fajar menatapnya dengan curiga, rupanya wanita ini belum sadar dari mabuknya. Dia bertanya, "Kamu tahu aku siapa?"
"Kak Fajar dong!"
"Panggil namaku," titahnya, tetapi hati Lucas Fajar entah mengapa penuh harap.
Sisi Yunita tersenyum tipis kepadanya. Tanpa diduga, bibir merahnya menutup mulut pria itu.
Lucas Fajar merasa seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik, sensasi indah yang belum pernah dirasakan menyebar dari bibirnya.
Gadis malang itu belum pernah berciuman, hanya tahu mencium bibirnya tanpa langkah selanjutnya. Hatinya gelisah takut dia akan menolaknya, tetapi detik berikutnya ketenangannya diganggu olehnya.
Lucas Fajar seperti kerasukan, berulang kali mencium bibir merah mudanya. Perasaan indah ini membuatnya agak terhanyut. Sisi Yunita terkejut dengan reaksinya yang tiba-tiba, membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tetapi dia malah memanfaatkan kesempatan itu.
Aroma anggur yang lembut menembus hati, dia gila-gilaan menyerap keindahan yang dimilikinya. Dia mundur dengan bingung, sementara Lucas Fajar maju selangkah demi selangkah menaklukkan wilayah. Di bawah bimbingan pria itu, perlahan Sisi Yunita membalas dengan canggung, berbelit-belit dengan menggoda.
Kecanggungannya membuatnya gila, ini perasaan yang belum pernah ada.
Entah kapan pakaian sudah terlepas, udara yang agak dingin membuat tubuhnya bergetar, dan detik berikutnya tubuh hangat menutupinya.
"Panggil aku apa?"
"Kak Fajar."
"Panggil sekali lagi."
"Kak Fajar." Dia menyimpan kelincahan lidahnya yang biasa, jinak seperti kucing kecil.
Melihat senyum hangatnya, tahu dia sudah benar-benar rileks, tatapannya menjadi dalam.
"Ah, sakit!" Rasa sakit yang datang tiba-tiba membuat tubuh Sisi Yunita menjadi kaku, air mata pun mengalir dari sudut matanya.
Lucas Fajar terdiam sejenak, lalu wajah tampannya tersenyum tipis. Ternyata ini pertama kalinya bagi Sisi Yunita.
Setelah rasa sakit, muncul perasaan aneh. Sensasi terbang ke awan dan tenggelam ke laut dalam membuatnya tidak sadar merangkul lehernya lagi, dan membiarkan Lucas Fajar bekerja dengan tekun.
Di kamar pengantin yang dihias indah, suasana penuh asmara.
Sisi Yunita perlahan membuka mata, yang terlihat di depannya adalah ruangan yang asing.
Di mana ini?
Dia ingat kemarin di pernikahan, ah, pernikahan! Sisi Yunita bangun, bagian bawahnya terasa hangat, lalu dia terkejut ....
Kulit halusnya penuh dengan bekas-bekas, pinggang dan punggungnya terasa sakit. Dia mengerutkan alis, sementara air matanya mengalir deras.
Lucas Fajar, dasar bajingan tidak tahu malu!
"Kenapa?"
Mendengar suara itu, Sisi Yunita mengangkat kepala. Saat ini dia sudah berpakaian rapi, jas hitam yang pas membuatnya terlihat makin sempurna, tinggi kurus langsing dengan tubuh model pria yang standar. Wajah tampan dengan garis tegas itu dipenuhi fitur yang dalam dan tampan, alis seperti pedang yang tajam, mata bunga persik yang penuh perasaan, hidung mancung, dan bibir seksi yang semuanya menarik perhatian orang lain. Dalam keseriusan terpancar kebangsawanan, aura kuat yang dibawa sejak lahir memberikan kesan mulia dan dingin yang tidak bisa diabaikan, membuat orang tidak bisa tidak terpesona kepadanya.
Kalau tidak mengalami kejadian kemarin, Sisi Yunita pasti juga akan terpesona kepadanya, pasti juga akan bergosip dengan rekan kerja tentang penampilan pria itu dari luar hingga dalam. Namun ...
Sisi Yunita justru meraih bantal dan melemparkannya dengan marah. "Lucas Fajar, apa yang kamu lakukan kepadaku kemarin!"
Lucas Fajar mengulurkan tangan menangkap bantal yang dilemparkannya dan berjalan mendekatinya. Melihat bekas-bekas karyanya di tubuh Sisi Yunita, dia tersenyum puas. "Memenuhi kewajiban suami istri, kamu mengerti."
"Siapa yang suami istri denganmu!" Dia erat-erat memegang selimut yang menutupi tubuhnya, marah sampai tujuh lubang mengeluarkan api.
"Kita sudah menikah, masa bukan suami istri. Marah sebesar ini karena tidak puas dengan usaha suamimu semalam, atau kamu mau sekali lagi?" Dia tersenyum mendekatinya, dengan seenaknya memandangi seluruh tubuhnya.
"Kamu, kamu ...." Sisi Yunita begitu marah hingga tak mampu berkata-kata. Air matanya pun jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
