Bab [5] Kunjungan Adat Usai Menikah

Sisi Yunita terkejut dengan gerakan intim yang tiba-tiba itu, wajahnya merona merah tanpa bisa dicegah, dan dia tergesa-gesa mengalihkan pembicaraan. "Ibu Zega bilang kamu pergi menyiapkan barang-barang untuk kunjungan adat setelah menikah?"

"Hmm."

"Terima kasih. Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini."

"Keluarga sendiri ngapain bilang terima kasih. Cuma, tanganmu ini ... takutnya ayah mertua dan ibu mertua bakal marah-marah ke aku."

Sisi Yunita tertawa seperti mendengar lelucon besar, ayah mertua ibu mertua, panggilannya lucu sekali.

"Apa ada yang lucu?" Lucas Fajar mengangkat tangan mengelus hidungnya sambil tersenyum.

Sisi Yunita benar-benar terkejut dalam hati, di televisi saat diberitakan atau ketika mempersiapkan pernikahannya dengan Sari Hartono dulu, wajahnya selalu serius dan tidak pernah tersenyum. Dia tidak pernah menyangka, orang yang begitu serius bisa tersenyum seindah dan sememesona itu. Apalagi, orang itu Lucas Fajar, kalau diceritakan juga tidak akan banyak yang percaya.

"Pak Fajar tidak di rumah?" Vila sebesar ini tidak mungkin dia tinggal sendirian.

"Dia ke kantor mengurus beberapa hal, aku sudah telepon dia sebentar lagi pulang." Lucas Fajar meniup luka di tangan Sisi Yunita dengan lembut, wajahnya penuh kelembutan.

Sisi Yunita tidak nyaman dan menarik tangannya, salep tebal membuat luka terasa dingin dan tidak sakit seperti tadi, malah terasa sejuk dan nyaman.

"Bajunya kotor, aku mau ganti baju."

"Pakai yang merah aja, kan kita baru menikah harus yang meriah. Aku tunggu di luar." Lucas Fajar tidak peduli dengan rasa malunya, setelah berkata begitu dia berbalik keluar.

Sisi Yunita keluar setelah berganti baju dan melihat Lucas Fajar bersandar di pintu dengan elegan sambil merokok. Jari-jari panjangnya yang memegang rokok terlihat sangat memesona. Profil wajahnya yang seperti ukiran begitu tampan, sampai orang tidak tahan untuk tidak melihatnya berulang kali, sayang sekali membuang pemandangan seindah itu.

Menyadari tatapan itu tidak beralih, Lucas Fajar menoleh dan melihat Sisi Yunita terus menatapnya, hanya saja matanya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.

Dia jadi agak kesal, baru pertama kali ada orang yang berani melamun di hadapannya, dan begitu terang-terangan pula.

Apa dia sedang memikirkan pria itu?

"Mikir apa?" Lucas Fajar tidak tahan untuk bertanya.

Sisi Yunita tersadar, matanya kembali menatapnya. "Baru pertama kali tahu pria merokok bisa sekeren ini?"

Lucas Fajar tidak membongkar kebohongannya, dia pun berkata datar, "Ayo, jalan."

Mereka berdua naik mobil, Sisi Yunita langsung tertarik dengan Harian Sore Jakarta yang ada di kursi. Ternyata seperti dugaannya, berita pernikahannya dengan Lucas Fajar menjadi headline tadi malam, dengan judul besar yang mencolok "Cinderella Menikah dengan Konglomerat, Lukas Fajar Tinggalkan Tunangan demi Wanita Perebut".

"Nyonya, bisa dikembalikan?" Sopir Pak Fuad terkejut. Dia ingat sudah membuangnya, tetapi kenapa bisa bisa muncul lagi di sini?

Pasti Anna Fajar, astaga bagaimana ini? Pak Fuad sampai berkeringat dingin.

"Pak Fuad, nyetir."

"Baik." Majikan sudah berbicara, jadi Pak Fuad tidak bisa banyak komentar.

Lucas Fajar mendekatkan tubuhnya dan ikut melihat. Mereka berdua melihat dengan antusias, tetapi membuat Pak Fuad yang menyetir di depan merasa sangat menyeramkan.

"Fotonya bagus." Mata Lucas Fajar menatap lurus ke arah foto headline pasangan tampan dan cantik itu. Namun, tiba-tiba dia teringat, sepertinya mereka belum foto prewedding.

"Kayaknya riasanku agak tebel, rasanya seperti mayat," Sisi Yunita berkata sambil terus menatap.

Lucas Fajar melirik sekilas. "Kata orang, pernikahan itu kuburan cinta, jadi seperti mayat juga tidak apa-apa."

"Tapi tadi kamu bilang bagus." Sisi Yunita melirik kesal.

"Aku bilang yang ini bagus." Jarinya menunjuk ke dadanya, ke lekukan yang dalam itu.

"Gila." Telinga Sisi Yunita memerah lagi tanpa bisa dicegah, wajah merah mudanya membuat dia ingin menggigitnya.

Wanita ini mudah tersipu, teringat semangat seseorang setelah beradaptasi tadi malam, perutnya tiba-tiba bereaksi, kalau tidak ada orang lain mungkin Lucas Fajar akan menginginkannya di sini juga, meskipun kemarin Sisi Yunita terus menyebut nama pria lain.

Lucas Fajar tidak keberatan, sama seperti Sisi Yunita yang tidak bertanya tentang urusannya dengan Sari Hartono. Dia pintar, meskipun dibully Anna Fajar, dia tidak menangis meraung-raung, dan meskipun merasa terhina disebut perebut, Sisi Yunita tetap tersenyum menanggung tekanan itu.

Lucas Fajar suka wanita pintar dan cantik seperti ini, jadi tidak keberatan bermain-main dengannya. Memangnya kenapa kalau Sisi Yunita punya pria lain di hatinya?

Dia adalah pria pertama di tubuhnya, itu fakta yang tidak bisa dibantah, dia mau pernikahan ini, mau orangnya, mau tubuhnya, hanya saja tidak mau hatinya.

Punya orang lain di hati malah lebih baik, setidaknya nanti waktu cerai bisa bersih-bersih.

"Kalau tidak nikah resmi, kamu mau bantu aku?" Sisi Yunita tiba-tiba bertanya.

Lucas Fajar membuka jendela dan membuang koran keluar, lalu meliriknya datar. "Tidak."

Hatinya tiba-tiba agak kesal. Sudah menjadi miliknya masih peduli tentang menikah resmi atau tidak untuk apa. Apa dia naif mengira tidak menikah resmi berarti tidak menikah, lalu kalau tidak menikah resmi pria itu tidak akan menolaknya, atau dia mau menikah resmi dengan pria itu?

Omong kosong!

Seketika, Lucas Fajar jadi penasaran, siapa pria di hatinya itu? Bernama Fajar, orang Jakarta, kira-kira siapa, ya?

"Oh, aku tahu," Sisi Yunita menjawab datar.

Sudahlah, nikah resmi ya nikah resmi, sudah upacara pernikahan, tidak nikah resmi juga tidak mengubah apa-apa!

Namun, sekarang yang membuatnya khawatir adalah bagaimana menjelaskan soal menikah ini ke Ayah dan Ibu. Keluarga Fajar begitu terkenal, bukan hanya Kota Jakarta yang tahu berita ini, tetapi seluruh negara tahu juga tidak aneh, apalagi sekarang media begitu cepat.

"Kalau kamu sudah tahu latar belakangku, kamu juga tahu aku cuma anak angkat Keluarga Yunita, kamu masih mau bantu aku?"

"Kamu anak angkat?" Perihal ini Lucas Fajar memang tidak tahu.

"Kamu tidak tahu?" Dia agak kaget, tetapi namanya memang tertulis di kartu Keluarga Yunita, yang tahu dia anak angkat memang tidak banyak.

"Memang tidak tahu," Lucas Fajar menjawab jujur.

"Sekarang sudah tahu, kamu masih mau bantu aku?"

"Aku butuh istri dan kamu butuh aku keluar uang dan tenaga bantu perusahaan Keluarga Yunita. Kita cuma saling memanfaatkan, aku tidak masalah dengan hal-hal itu." Lucas Fajar menatapnya, nada bicara santai.

"Terima kasih." Sisi Yunita tersenyum percaya diri. "Aku akan membuatmu puas."

Kota Jakarta dan Jakarta tidak jauh, setengah jam perjalanan sudah sampai. Ketika mereka turun, Vincent Fajar sudah menunggu di sana.

"Pak Fajar, merepotkan sekali." Sisi Yunita tampak menyesal, hatinya sedikit tidak mau pergi.

Vincent Fajar menggeleng. "Keluarga Fajar yang merepotkan kamu."

"Kalian tunggu di sini dulu, ayah ibuku pasti sedang tidak mood, aku lihat dulu." Dia sudah paham dengan orang tuanya sendiri, sekarang pasti ingin membunuhnya.

"Baik."

Sebenarnya mobil mereka tidak jauh dari gerbang Keluarga Yunita, jadi apa yang dilakukan Sisi Yunita bisa mereka lihat dengan jelas. Dalam hati, dia merasa sangat malu.

Dia menekan bel beberapa kali, tetapi tidak ada respon. Akhirnya Sisi Yunita terpaksa berteriak. Dan benar saja, tidak lama kemudian orang tuanya keluar, lalu dengan cepat dia mengambil tongkat setebal ibu jari dari sudut dan langsung berlutut, dengan sikap meminta maaf dengan tulus hati.

Ayah anak Grup Fajar sama-sama mengerutkan kening. Dia sedang apa?

"Ayah, Ibu, aku salah, aku salah, kalian pukul aku saja ...."

Gerbang terbuka. Gunawan Yunita dan Mutiara Prabowo keluar dengan pakaian hitam formal. Sisi Yunita mengangkat kepala melihat kedua orang tuanya dengan mata memerah, seolah menua beberapa tahun sekaligus. Air matanya langsung keluar. Rasa bersalah dan kekecewaan terhadap diri sendiri membuat hatinya sakit sekali.

Sisi Yunita menunduk dalam-dalam, dengan air mata terus mengalir.

Dia tahu dia mengecewakan kedua orang tuanya. Dia yang salah tidak membalas budi asuh mereka, tidak membalas Ayah dan Ibu yang selalu memperlakukannya seperti anak kandung.

"Sisi Yunita, lihat, apa yang sudah kamu lakukan?! Kamu sangat mengecewakan kami!" Mutiara Prabowo merebut tongkat di tangannya dan memukul tubuhnya keras-keras, hatinya sakit sampai menangis.

Sakit fisik tidak sebanding dengan rasa bersalah di hati. Air mata Sisi Yunita berjatuhan seperti hujan, membiarkan tongkat itu memukul tubuhnya berulang-ulang.

"Jangan pukul lagi." Tubuh besar tiba-tiba menutupinya, lalu terdengar beberapa suara tumpul.

Sisi Yunita mengangkat kepala, ternyata Lucas Fajar.

Mutiara Prabowo menatapnya dingin, lalu berkata dengan suara dingin, "Minggir!"

"Kalau mau pukul ya, pukul saja aku. Aku yang memaksa Sisi menikah denganku." Lucas Fajar tidak bergerak, memeluk Sisi Yunita dengan erat.

"Kamu juga bukan orang baik, sudah punya tunangan masih cari wanita lain! Kalau tidak minggir, aku akan pukul kamu juga!" Mutiara Prabowo marah besar, seperti ingin membunuhnya.

"Ini salahku bukan urusan Lucas Fajar ...."

"Kamu bilang, perbuatan tidak baik apa yang harus dilakukan sampai menjadi orang ketiga dan merusak rumah tangga orang lain? Memangnya Ibu mengajarimu seperti itu? Kalau mencari pria, kenapa harus pria yang sudah punya pasangan? Sisi Yunita, kamu sangat mengecewakan Ibu. Apa kamu lupa dengan ayah dan ibumu? Kamu ... kamu ...." Mutiara Prabowo makin emosi, air matanya terus mengalir.

"Ibu aku salah, aku tahu salah, jangan marah lagi ...."

"Lebih baik kamu pergi! Kami anggap tidak pernah mengasuh kamu!"

Sisi Yunita makin keras menangis. Dia tahu salah, tetapi dia terpaksa melakukan ini.

"Ibu, maafkan kami, aku pasti akan memperlakukan Sisi dengan baik dan tidak akan membiarkannya susah." Lucas Fajar membantu Sisi Yunita berdiri, ekspresinya sangat tidak bagus.

"Siapa ibu kamu? Aku bisa percaya kamu? Keluarga Yunita memang miskin, tapi tidak sampai jual anak!" Lalu dia melihat Sisi Yunita yang menangis berantakan, hatinya juga sakit minta ampun. Meskipun Sisi Yunita bukan anak kandung, tetapi sudah menganggap Yunita seperti anak kandungnya sendiri. Maka dari itu, dia merasa sakit sampai ke hati.

"Ibu, aku tahu salah, lain kali tidak berani lagi ..."

"Lain kali? Masih ada lain kali? Kamu pikir apa yang kamu lakukan ini benar? Bagaimana nanti kamu menjalani hidupmu? Dan bagaimana anakmu nanti?" Mutiara Prabowo membuang tongkat dan berbalik pergi.

"Sudah begini kami bisa bilang apa? Masuk!" Gunawan Yunita berkata kepada Vincent Fajar, lalu ikut masuk.

Sebenarnya Vincent Fajar dan Gunawan Yunita saling kenal, karena pekerjaan pernah bertemu beberapa kali. Namun sekarang, tiba-tiba hubungan mereka menjadi seperti ini, membuat hati agak tidak nyaman. Dia tidak pernah menyangka akan menjadi begini, apalagi tidak menyangka anak yang selalu penurut dan baik akan melakukan hal seperti ini.

Setelah dipukul dan dimarahi, ayah dan anak Keluarga Fajar akhirnya masuk gerbang Keluarga Yunita. Sisi Yunita melihat leher Lucas Fajar yang tampak memerah besar agak kasihan, lalu bertanya, "Kamu luka?"

"Tidak." Sebenarnya punggungnya memang agak sakit, beberapa pukulan itu sampai dia sakit panas, apalagi Sisi Yunita seorang wanita.

Namun, dia seperti tidak apa-apa, ini membuatnya kagum.

"Di atas ada kotak obat." Mutiara Prabowo menoleh menatapnya galak, marah sekaligus kasihan.

"Oh." Sisi Yunita menunduk, hidungnya terasa panas, dan air matanya keluar lagi.

Hatinya tiba-tiba muncul pikiran, apa dia salah?

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya