Bab [1] Pahlawan Menyelamatkan Gadis
Pintu kabin terbuka, dan seorang pria bernama Rizky Yanto melangkah turun dari pesawat.
Setelah keluar dari bandara, Rizky Yanto menjinjing kopernya dan memberhentikan sebuah taksi. Ia meminta sopir untuk langsung mengantarnya ke pemakaman tempat ayahnya dikebumikan. Seminggu yang lalu, ia menerima kabar bahwa ayahnya dalam kondisi kritis. Saat itu, ia sedang menjalankan misi pembunuhan seorang gembong narkoba besar di pedalaman hutan Kalimantan. Rizky Yanto, seorang pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal dalam misi sesulit apa pun.
Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah karirnya, ia meninggalkan misi tersebut. Ia bergegas pulang, berharap bisa melihat ayahnya untuk yang terakhir kali. Sayangnya, ia terlambat. Sehari setelah menerima kabar itu, ayahnya meninggal dunia karena luka-lukanya yang terlalu parah dan tidak berhasil diselamatkan.
Setibanya di pemakaman, Rizky Yanto membayar ongkos taksi, lalu membawa kopernya mendaki bukit menuju nisan ayahnya.
Rizky membuka kopernya yang berisi perlengkapan ziarah yang sudah ia siapkan. Setelah membakar semua dupa dan kertas sembahyang di depan makam ayahnya, Rizky meletakkan seikat bunga melati putih di atasnya. Ia kemudian berlutut dan mulai terisak. "Ayah, maafkan aku, aku terlambat!"
Setelah kesedihannya mereda, Rizky merasa ada yang janggal dengan kematian ayahnya. Bagaimana bisa orang sehat seperti ayahnya tiba-tiba jatuh dari gedung? Ia yakin ayahnya tidak mungkin bunuh diri.
"Ayah, tenang saja. Aku pasti akan mengungkap kebenarannya!" janji Rizky sambil menatap foto di nisan ayahnya. Setelah terdiam cukup lama, ia bangkit dengan wajah dingin dan meninggalkan pemakaman.
Rizky mendatangi rumah sakit tempat ayahnya dulu bekerja, berharap bisa mendapatkan informasi dari orang dalam.
Ia pernah ke sini sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, tapi sekarang semuanya sudah berubah total. Saat tiba di meja informasi, seorang perawat muda berseragam merah muda meliriknya beberapa kali. Ganteng banget! batinnya.
"Permisi, mau tanya, ruangan Dokter Dian Kusuma di lantai berapa ya?" tanya Rizky sambil menatap wajah perawat itu. Namun, pandangannya segera tertarik pada dadanya yang tampak penuh di balik seragam. Perawat itu masih sangat muda, mungkin sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun, dengan wajah yang imut. Seragam perawat itu membuatnya terlihat sangat menarik.
"Oh, Mas cari Dokter Dian Kusuma? Kantor beliau ada di lantai delapan. Nanti keluar lift, belok kiri, ruangan paling ujung," jawab perawat muda itu dengan wajah memerah dan jantung berdebar, sadar bahwa Rizky sedang menatap dadanya.
"Baik, terima kasih!"
Setelah berterima kasih, Rizky naik lift ke lantai delapan. Baru setelah sampai ia sadar bahwa lantai ini adalah bangsal rawat inap. Pintu kantor yang dicarinya ternyata terbuka. Di dalam, hanya ada seorang dokter wanita muda berusia sekitar dua puluhan yang sedang menunduk di meja, menulis rekam medis. Melihatnya sesekali berhenti menulis sambil mengerutkan kening, Rizky menduga ia adalah dokter magang.
"Permisi, apakah Dokter Dian Kusuma ada?" tanya Rizky sambil mengetuk pintu.
Dokter magang yang sedang fokus menulis itu terkejut. Ia hampir saja marah, tetapi begitu mengangkat kepala dan melihat seorang pria yang luar biasa tampan, amarahnya langsung lenyap. "Mas ada perlu sama Ibu Kepala Dian? Beliau hari ini sedang libur," jawabnya sambil tersenyum.
Kepala? Rizky ingat dulu Dokter Dian hanyalah seorang dokter spesialis. Tak disangka sekarang sudah naik jabatan menjadi Kepala Departemen.
Rizky terdiam sejenak, lalu berkata lagi, "Kalau begitu, boleh saya minta nomor teleponnya? Saya benar-benar ada urusan mendesak. Tolong ya, Mbak."
Dokter magang itu tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya setuju. Ia bahkan berpesan agar Rizky tidak memberitahu siapa pun bahwa nomor itu didapat darinya. Sambil menepuk dada, Rizky berjanji akan menjaga rahasia. Setelah mendapatkan nomor Dokter Dian, ia pun pergi. Saat hendak turun, tiba-tiba ia mendengar jeritan dari koridor.
Rizky menoleh dan melihat seorang perawat yang sangat seksi sedang disandera oleh seorang pria paruh baya. Sebilah pisau buah menempel di leher perawat itu. Pria itu berteriak dengan panik, "Panggil direktur rumah sakit ke sini! Cepat panggil direktur kalian, atau aku bunuh dia!"
Para perawat lain tampak pucat pasi ketakutan, hanya bisa berdiri mematung. Salah satu perawat yang lebih tua mencoba menenangkan, "Pak, kenapa harus menyakiti perawat? Kalau ada masalah, saya bisa bantu sampaikan ke pimpinan."
"Sampaikan tai kucing! Aku sudah kirim surat laporan berkali-kali, tapi nggak pernah ada tanggapan! Aku mau ketemu pimpinan kalian, tapi masuk gerbangnya saja tidak boleh. Aku tidak mau menyakiti siapa pun, panggil saja pimpinan kalian ke sini, dan aku akan melepaskannya!" balas pria itu dengan nada meremehkan.
Rizky menghela napas dalam hati. Aduh, satu lagi orang malang yang terpaksa berbuat nekat. Tapi menyandera perawat tetap saja salah. Ia diam-diam menyelinap ke belakang pria itu. Para perawat yang melihat Rizky mendekat menahan napas karena tegang.
Pria itu sepertinya merasakan sesuatu dan buru-buru menoleh. Sebelum ia sempat melihat wajah Rizky, sebuah sabetan tangan menghantam lehernya. Pria itu langsung pingsan, dan pisau di tangannya jatuh berdebum ke lantai. Perawat seksi yang disandera itu terkejut dan tubuhnya lemas seketika, jatuh ke arah Rizky. Dengan sigap, Rizky merentangkan lengannya dan menangkapnya dalam pelukan. Tiba-tiba, ia merasakan tangannya mendarat di sesuatu yang sangat lembut dan kenyal. Rasanya begitu pas di genggaman, sampai-sampai jarinya tanpa sadar meremasnya pelan.
