Bab 144

Tatapannya menempel padaku, seolah-olah dia sedang memastikan aku benar-benar nyata, bukan sekadar kelanjutan dari mimpinya. Pucat di iris matanya belum sepenuhnya hilang, tapi ada kilat kaget di sana—seakan dia tak menyangka bakal bangun dan mendapati aku ada.

Aku condong ke depan, jemariku mencen...

Masuk dan lanjutkan membaca