Bab 94

Aku mendorongnya ke pintu, benturannya mengguncang dinding di belakangnya saat aku menciumnya lagi. Marah. Benci. Perasaan tak berdaya yang mencekik leherku seperti jerat.

Selanjutnya, aku membantingnya ke dinding, bukan dengan hasrat, tapi dengan api yang dilepaskan saat kau terpojok, saat kau keh...

Masuk dan lanjutkan membaca