Bab 002
Begitu aku melewati gerbang sekolah, rasa telanjang dan jadi pusat perhatian langsung menempel di kulit. Aku mati-matian ingin mengubur kejadian kemarin, tapi baru beberapa menit menginjak halaman, aku tahu itu tak akan semudah itu.
Orang-orang berdiri berkelompok, berbisik-bisik sambil menatapku atau melempar lirikan cepat. Yang bahkan tak repot menyembunyikan kenyataan kalau mereka sedang membicarakanku, terang-terangan menunjuk ke arahku sambil tertawa pelan. Aku menegakkan punggung, memaksa pandanganku menembus bahu-bahu mereka saat aku berjalan.
Bisikan, telunjuk, tatapan… aku sudah terbiasa. Di sini aku memang kambing hitam, anak si pengkhianat. Aku tahu itu, dan sejujurnya aku tak terlalu peduli selama aku tidak didorong-dorong seperti kemarin. Satu-satunya hal yang benar-benar kupikirkan cuma satu: jangan sampai berpapasan dengan Asher.
Asher.
Nama itu saja sudah seperti menyayat dada, panas, perih, sampai aku refleks mencengkeram tali ranselku erat-erat. Semalam aku tidak tidur sedetik pun. Asher tahu persis cara menghukumku. Dia bersikap mesra dengan gadis lain. Aku tak bisa memastikan itu Julia atau bukan, tapi dia memastikan aku merasakan hukumannya—dia tidur dengan gadis itu sepanjang malam. Rasa sakit yang kurasakan—yang juga dirasakan serigalaku—begitu mengerikan sampai aku menggigil hanya dengan mengingatnya.
Aku hampir sampai di loker ketika tawa mengejek meledak, tawa yang mirip sekali dengan tawa Arlene dan yang lainnya kemarin. Aku tak perlu mencari jauh-jauh. Tiga gadis berdiri membelakangiku, ngobrol ramai seperti sedang menikmati cerita paling lucu sedunia.
“...Dia bohong, jelas,” kata yang paling pendek, dagunya terangkat congkak. “Dia nggak akan pernah bisa jadi pasangannya, bahkan di mimpi paling liarnya. Nggak heran dia pembohong kecil yang kotor. Maksudku, apa yang bisa diharapkan dari anak pengkhianat?”
Gadis kedua tertawa keras, kasar. “Mimpinya pasti liar banget sampai kepikiran bisa jadi apa pun buat Asher. Itu anak bahkan nggak pantas jadi pembantu Asher.”
Gadis ketiga hendak menyahut, tapi matanya melirik melewati bahu temannya dan menangkap sosokku. Sudut bibirnya naik.
“Ah. Itu dia.”
Otot-ototku membeku. Lalu panik menyergap begitu aku sadar merekalah yang membicarakanku. Mulutku ternganga, pikiranku berputar-putar sampai beberapa kenyataan menabrak sekaligus.
Orang-orang tahu Asher adalah pasanganku.
Asher sudah memperingatkanku untuk tidak membiarkan satu jiwa pun tahu soal itu.
Kalau dia tahu, aku habis—dan aku yakin dia sudah tahu.
Ketakutan mencengkeram, dan aku mencoba memikirkan pilihan. Asher pasti mengira aku yang menyebarkan rumor. Dia akan menyakitiku. Dia sekejam itu. Aku yakin. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah kabur dari sekolah sebelum dia menemukanku. Tiga gadis itu masih melontarkan sesuatu kepadaku, tapi aku sudah tak mendengar.
Aku mundur selangkah, berputar—dan menabrak Asher tepat di depanku. Tatapan benci dan amarahnya mengirim dingin dari tengkuk sampai tulang punggung.
“Mau ke mana?” katanya dengan suara serak tertahan.
Tak ada satu pun suara lolos dari bibirku.
“Ikut.”
Pita suaraku baru seperti terbuka cukup untuk memaksakan kata-kata keluar. “Aku sumpah, aku nggak bilang ke siapa-siapa.”
Tapi dia sudah bergerak menjauh, dan aku tak punya pilihan selain mengikuti. Lututku hampir benar-benar saling beradu. Aku takut—takut sekali pada apa yang akan dia lakukan. Tapi ternyata, aku sama sekali belum mengerti seberapa menjijikkannya Asher bisa jadi.
Asher melangkah cepat melewati kantin, keluar gedung, lalu menuju hutan kecil di belakang sekolah. Dia masuk makin dalam. Di sana sepi dan sunyi, dan kepalaku langsung dipenuhi semua hal yang bisa salah. Aku bisa terluka, dan tak ada yang akan mendengar aku berteriak.
“Asher,” ucapku, suaraku tersedak isak. “Tolong, percaya aku. Aku nggak bilang ke siapa-siapa.”
Dia berhenti mendadak. Di antara hijau dan cokelat pepohonan, mataku menangkap kilatan merah yang mencolok—Julia, memakai sweater merah terang yang jelas mahalnya bukan main. Dia menyibakkan rambut pirangnya yang berkilau, meletupkan permen karet, lalu menilai aku dari ujung kepala sampai kaki saat melangkah ke sisi Asher.
Aku bahkan belum sempat mencerna kehadirannya ketika nyeri tajam menyengat pipiku.
“Aku bilang apa soal buka mulut kotor itu!” bentak Asher, jemarinya mengepal lalu meregang, tangan yang barusan menamparku.
“Aku nggak bilang apa-apa!” aku menangis, menutup pipiku. “Aku nggak bilang siapa-siapa kalau kita pasangan. Aku langsung pulang habis sekolah, dan semalam… aku lemah banget sampai nggak ngomong sama siapa pun.”
“PEMBOHONG!” Julia menyambar dengan suara tajam. “Kamu yang nyebarin rumor. Aku punya buktinya.”
“A-apa?”
Julia menyentakkan dagu ke arah deretan pohon, dan seorang gadis muncul dari baliknya, tersenyum menyeringai.
“Ini buktiku.” Julia menunjuk gadis itu. “Bilang ke dia apa yang kamu bilang ke aku.”
Gadis itu mengangkat bahu. “Aku udah bilang semuanya. Kemarin Hannah bilang ke aku kalau dia sama Asher itu pasangan. Katanya Asher bakal nyesel karena nggak nerima dia sebagai pasangannya. Katanya lagi, Asher yang rugi.”
Wajah Asher makin merah setiap kata keluar dari mulut gadis itu, sampai-sampai ia tampak hampir meledak menahan amarah.
“Dia bohong. Dia bohong. Seumur hidup aku nggak pernah ngomong sama dia. Bahkan aku nggak pernah lihat dia sebelumnya.” Aku berteriak, tapi percuma.
“Pelacur tukang bohong,” gumam gadis itu, lalu meludah ke lantai.
“Asher, aku nggak—”
“Diam!” bentaknya menggelegar. Ia menoleh ke gadis itu. “Kamu. Pergi.”
Gadis itu mengangguk dan lari, sempat berhenti sebentar hanya untuk menatapku dengan pandangan jelek. Asher menjentikkan jarinya, dan dua cowok seakan muncul begitu saja dari balik pepohonan. Mereka mencengkeram tanganku begitu kencang sampai aku tak bisa bergerak.
“Perempuan ini nggak bisa jaga mulut,” kata Asher pada mereka. Senyum kejam menyala di wajahnya. “Dia perlu diajarin. Penuhin mulutnya sama kontol kalian. Biar dia belajar nutup mulut.”
Aku sampai kaku karena syok, merasa tadi pasti salah dengar. Dua cowok itu mendengus sambil tertawa.
“Dengan senang hati, Asher,” kata yang badannya lebih besar, menyeringai.
Lalu mereka sempat saling dorong, seperti bercanda, berebut siapa yang duluan. Begitu aku sadar mereka benar-benar bakal melakukannya, aku menjerit dan meronta.
“Diam!” salah satu dari mereka membentak.
Aku berhasil menarik satu tangan lepas. Aku mencoba menggigit tangan cowok satunya, yang berusaha menutup mulutku.
“Tahan dia!” Julia menjerit.
Rambutku dijambak ke belakang. Aku dipaksa jatuh ke tanah, masih menjerit dan meronta. Asher menerjang dan menekan kedua telapak tangannya kasar ke dadaku, menahan tubuhku ke tanah, sementara cowok yang satunya—terbahak seperti orang gila, napasnya memburu karena girang—mulai membuka celananya. Julia mendekat untuk menonton.
Pemandangan mereka yang siap melihatku dipermalukan habis-habisan membuat sesuatu di dalam diriku mendadak putus. Tanganku meraba saku depan dan menemukan sebuah pulpen. Aku menggenggamnya erat, lalu menghantamkan tanganku ke atas dan menusuk bahu Asher. Ia melolong kesakitan ketika ujungnya menancap ke dagingnya dan seketika melepas cengkeramannya. Dalam satu detik aku sudah berdiri, berlari menembus hutan, tak peduli ranting dan semak berduri yang menggores kulitku.
“Kejar dia, dasar bego!” kudengar Asher berteriak saat aku memacu langkah sekuat-kuatnya.
Aku berlari lebih kencang, menuju arah rumahku.
Dengan mata melotot, aku menatap jam di kamarku, persis seperti dua jam terakhir ini. Di sudut kamarku yang paling gelap, aku meringkuk, menggigil. Aku tak bisa berhenti membayangkan apa yang akan terjadi padaku kalau tadi aku tidak berhasil kabur dari hutan.
Begitu sampai rumah, aku langsung memutuskan tidak akan pernah kembali ke sekolah. Sampai Asher melupakanku, aku akan cari kerja jadi pelayan warung makan atau di kafe. Sekolah tidak sepadan dengan apa yang mereka rencanakan untukku.
Ada langkah kaki di luar pintu kamarku. Aku membeku ketika ketukan menyusul.
Sedetik kemudian, suara ibu melayang masuk. “Hannah. Makan siang sudah siap. Ayo turun makan.”
“Iya, Bu,” jawabku, tapi suaranya sudah menjauh.
Aku tidak sarapan, jadi perutku benar-benar perih kelaparan. Aku memaksa diri bangun dan turun ke bawah. Baru saja aku hendak makan, bel rumah berbunyi.
“Biar Ibu yang buka,” panggil ibuku. Ada sesuatu dalam diriku yang langsung bilang ini bukan pertanda baik.
Aku mendengar pintu terbuka. Aku mendengar suara-suara meninggi. Tiga pria bertubuh besar menerobos masuk ke ruang tamu, ibuku ikut terseret di belakang mereka, berteriak menuntut penjelasan. Dari seragam yang mereka pakai, aku tahu mereka orang-orangnya Alpha. Mata mereka langsung jatuh padaku, meski aku sudah berusaha menyatu dengan perabot rumah.
“Kamu Hannah Baker?” salah satu dari mereka bertanya ketus.
Aku ragu sesaat, lalu mengangguk.
“Alpha ingin bertemu kamu. Kamu ikut kami.”
“Tunggu dulu.” Ibuku berhasil menyelinap melewati dua pria itu sampai berdiri di depanku. “Ada apa ini? Kenapa Alpha mau ketemu anak saya?”
Mereka mengabaikannya dan menerjang ke arahku. Tangan-tangan mereka mencengkeram kedua lenganku.
“Jangan berani-berani bawa anak saya!” ibuku menjerit. “Lepaskan!”
Tapi aku diseret keluar rumah sementara ibuku berteriak-teriak meminta penjelasan.
Dan meski aku ketakutan setengah mati, aku masih sempat berkata, “Nggak apa-apa, Bu. Aku bakal baik-baik aja.”
Aku didorong masuk ke mobil yang mereka bawa. Dengan seorang penjaga duduk di tiap sisi kiri-kananku, mobil itu melaju pergi.
