Bab 5 5

Aku membayangkan tubuhnya masih bergetar sisa orgasmenya, putingnya menegang, kemaluannya basah dan siap. Seberapa besar dia ingin berada di kursi ini, tersedak oleh kontolku?

Sial.

Biji pelirku mengencang. Nikmat itu menumpuk di pangkal tulang belakangku. Jarang sekali aku semudah ini terpancing sampai rasanya mau meledak dalam hitungan menit, tapi aku belum pernah mengalami yang seperti ini.

“Gila, mulutmu sempurna,” pujiku, tapi yang kuajak bicara Caterina. “Hisap aku. Kuat. Dalam.”

Aku menekan ke wajah Chelsea. Pelirku bertumpu di dagunya, dan aku menahan diri di sana, menikmati perjuangannya mempertahankan kendali. Sesaat kemudian, aku mengalah, mundur sedikit, memberinya kesempatan menarik napas—sementara mataku tetap mengunci Caterina.

Sepasang mata biru yang manis dan kelihatannya polos itu menatap balik. Aku ingin melihatnya berkaca-kaca. Aku ingin melihat pipinya mengempis, bibirnya bengkak melingkari kontolku, sementara liur dan air maniku menetes di dagunya. Putaran pikiran itu saja cukup mendorongku sampai di tepi.

Aku menarik keluar dari mulut Chelsea yang basah dengan bunyi kecup pelan, lalu menggenggam kontolku sendiri, mengocoknya lebih cepat. “Buka mulutmu. Julurkan lidah. Aku bakal keluar di wajahmu.” Bukan pertanyaan—perintah.

Dari sudut mataku, kulihat Caterina—gadis kecil kotor itu—menggigit bibir bawahnya. Itu yang menjungkalkanku. Yang mengirim dorongan terakhir, tekanan terakhir menembus pelirku sampai aku meledak. Otot perutku menegang, dan jari-jari kakiku mencengkeram lantai beton di bawah telapak. Yang kulihat di kepala cuma Caterina. Polos. Manis. Wajah cantiknya dilukis oleh air maniku. Tuhan. Aku akan merusaknya habis-habisan.

“Anji—ng,” aku menggeram, saat semburan demi semburan menyembur dari ujungnya, memercik di wajah perempuan di depanku. Setiap tetesnya seharusnya milik makhluk malaikat di dapur itu, yang tanpa sadar baru saja memperlihatkan tabiat aslinya.

“Mmm…” Erangan di dekat lututku menarik perhatianku menjauh dari Caterina. Aku mungkin sudah lupa pada si pirang di depanku kalau bukan karena suara barusan. Aku baru saja keluar beberapa detik lalu, dan respons rutinku sudah ada di ujung lidah.

Apa pun yang kulakukan, berapa pun banyaknya kencan yang kujalani, aku belum juga menemukan perempuan yang tidak membuatku bosan. Begitu aku menangkap keberadaan Caterina, yang lain seolah berhenti ada. Tapi aku juga tak bisa membiarkan Chelsea begitu saja. Itu keterlaluan.

“Tunggu di sini. Aku ambilkan handuk.”

Aku meraih handuk dari tumpukan di dekat kolam untuk membantu Chelsea membersihkan wajahnya. Saat aku melirik ke arah rumah, Caterina sudah tak terlihat, membuat dadaku gelisah. Chelsea mengenakan kembali gaun katun tipis dan sandal yang tadi dipakainya, dan aku mengantarnya masuk agar ia bisa merapikan diri di kamar mandi.

Aku tidak heran Caterina menghilang dari dapur. Tanpa bisa dicegah, pikiranku terus kembali ke titik tempat dia duduk tadi, bahkan saat aku menuntun Chelsea ke toilet tamu. Sambil menunggu Chelsea selesai, aku mengatur agar sopir menyiapkan mobil.

Pikiranku terus melayang ke Caterina. Kubayangkan dia bersembunyi di kamar Tatiana, menunggu apakah aku akan menegurnya soal apa yang dia lihat. Aku terkekeh. Aku tadinya mengira mereka bakal pulang larut, sempoyongan menjelang subuh—persis seperti yang akan kulakukan waktu umur dua puluh satu.

Kalau aku tahu mereka pulang secepat ini, mungkin aku akan berpikir ulang soal tindakanku di dekat kolam.

Caterina itu bertanggung jawab, manis, dan kelihatannya naif. Aku tak pernah menyangka dia tertarik menonton. Rahasia apa lagi yang dia simpan? Pasangan yang lebih tua, lebih berpengalaman, bisa membuka baginya dunia kemungkinan yang belum pernah ia jelajahi.

Bayangan tentang apa yang bisa kuajarkan padanya—apa yang bisa kulakukan padanya—hampir membuatku kewalahan.

“Ada mobil yang nungguin kamu di luar,” kataku pada Chelsea saat dia keluar dari kamar mandi.

Dia tersenyum, giginya berkilau. “Aku kepikiran, mungkin kita bisa minum satu gelas lagi. Duduk, ngobrol, kenalan lebih jauh.” Wajahnya yang penuh harap itu manis, tapi tidak cukup untuk mengubah keputusan.

Dia cantik, dengan rambut pirang panjang dan tubuh ramping, tapi malam ini bukan soal dia. Dia berusaha menunda yang tak terelakkan, tapi malam ini tidak akan berakhir dengan dia di ranjangku.

“Aku nggak mau terdengar kasar, Chelsea, tapi kamu tahu aturannya,” kataku, berusaha setulus mungkin.

“Aku berharap kali ini beda,” jawabnya pelan.

Aku tidak menanggapi. Untuk apa? Tidak ada yang akan mengubah hasilnya. Sejak lama aku belajar: kaya dan sukses berarti setiap bagian hidupmu bisa dipakai melawanmu—terutama urusan ranjang. Tak ada yang menang saat seorang perempuan berusaha menjebakmu dengan anak.

Chelsea menangkap maksudnya dan pergi tanpa protes lagi. Aku menutup pintu di belakangnya dan melangkah pergi, tapi pikiranku sudah terlanjur berada di tempat lain.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya