Bab [3] Menyukai Gadis Itu?

Soni Wijaya turun begitu saja dari mobil, lalu pergi tanpa ragu sedikit pun. Sikapnya itu membuat Hendra Prasetya cukup terkesan.

"Nona Soni Wijaya ini keren sekali!"

Sudah begitu, cantik pula, decak Hendra Prasetya dalam hati.

"Pak Fauzan, apa yang dikatakan Nona Wijaya tadi itu benar?"

Aryo Fauzan menatap tajam ke arah gadis itu di kejauhan, sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Menurutmu?"

Gadis semenarik ini, baru pertama kali Aryo Fauzan temui. Melihat senyum di wajah atasannya, Hendra Prasetya justru bergidik ngeri.

"Pak Fauzan, jangan-jangan Anda naksir gadis itu?"

Ya ampun, gadis itu baru delapan belas tahun.

Aryo Fauzan sepertinya menangkap maksud tersembunyi dari ucapan Hendra Prasetya, ia pun menatapnya dengan dingin.

"Apa itu pertanyaan yang pantas kamu ajukan?"

Hendra Prasetya terdiam. Jadi, sebenarnya naksir atau tidak?

Keesokan harinya, begitu Soni Wijaya tiba di sekolah, seorang teman sekelasnya memberitahu bahwa wakil kepala sekolah sudah mencarinya beberapa kali dan menyuruhnya untuk segera ke ruangannya.

"Soni, kamu buat masalah apa lagi? Kulihat wajah Pak Wulan masam sekali!"

Meskipun di luar beredar gosip bahwa Soni Wijaya adalah gadis nakal dengan nilai jelek yang suka berkelahi, di dalam kelas ia selalu bersikap tenang. Selain tidur saat pelajaran, ia tidak pernah cari gara-gara dengan siapa pun.

Lagipula, kelas mereka memang kelas terburuk di seluruh sekolah. Tidur di kelas sudah menjadi pemandangan biasa, dan guru-guru pun tidak pernah ambil pusing.

"Bukan apa-apa, aku ke sana dulu biar tahu."

Soni Wijaya meletakkan tasnya di kelas, lalu langsung menuju ruang wakil kepala sekolah.

Di dalam ruangan, Pak Wulan menatap Soni Wijaya dengan wajah serius.

"Soni Wijaya, ada apa lagi denganmu? Bu Dewi, Kepala Bagian Kurikulum, datang mengadu lagi. Kamu tidak bisa begini terus, dia sudah mengajukan surat agar kamu dikeluarkan!"

Pak Wulan menatap Soni Wijaya dengan ekspresi kesal karena kecewa. Kalau tahu akan jadi begini, seharusnya dulu ia tidak berbaik hati menerimanya.

"Saya sudah menghubungi orang tuamu. Masalah ini sudah mengganggu ketertiban sekolah. Tidur di kelas, tidak sopan pada guru, lihat nilaimu! Kalau begini terus, kamu akan memberi pengaruh buruk pada siswa lain. Sekolah kami tidak bisa menampungmu lagi. Minta orang tuamu untuk mengurus surat pindah. SMA Nusantara ini terlalu kecil untuk menampung 'dewi' sepertimu!"

Soni Wijaya hanya menunduk, tidak membantah sepatah kata pun. Memangnya apa lagi yang bisa dibantah? Soni Wijaya mencibir dalam hati.

Tak lama kemudian, seorang wanita dengan sepatu hak tinggi masuk ke ruangan. Dengan cemas ia bertanya, "Pak Wulan, ada apa mendadak memanggil saya? Apa Soni Wijaya berulah lagi?"

Benar-benar ibu kandung. Sebagai seorang ibu, begitu masuk, Ratna Limbong sama sekali tidak peduli dengan keadaan putrinya, melainkan langsung menyimpulkan bahwa Soni Wijaya pasti telah membuat masalah.

Melihat reaksi Ratna Limbong, Soni Wijaya hanya diam membisu dengan ekspresi dingin.

"Siswa atas nama Soni Wijaya ini, kami sudah tidak sanggup mendidiknya. Sebaiknya Ibu segera mengurus kepindahannya! Tidur di kelas, sikap belajar yang buruk, tidak hormat pada guru, dan nilainya sangat jelek. Ini memberikan citra yang sangat buruk bagi sekolah. Tolong segera urus kepindahannya!"

Ekspresi Pak Wulan yang terlihat sangat kecewa dan menyesal membuat Ratna Limbong semakin panik.

"Pak Wulan, Soni masih kecil. Kalau ada yang salah, saya akan minta dia untuk minta maaf. Tolong beri dia satu kesempatan lagi, ya? Sebentar lagi ujian, ke mana saya harus mencarikan sekolah untuknya? Kalau dia keluar dari sini, SMA mana lagi yang mau menerimanya?"

Ratna Limbong panik bukan main. Anak pembangkang ini!

"Ibu Ratna, dalam hal ini kami benar-benar tidak bisa membantu. Kepala Bagian Kurikulum sudah berkali-kali meminta Soni Wijaya untuk pindah. Dia bahkan pernah menghina Bu Dewi. Itu sudah keterlaluan. Siswa seperti ini tidak bisa kami didik. Lebih baik Ibu urus saja kepindahannya!"

Dengan amarah yang membara, Ratna Limbong keluar dari ruangan. Begitu melewati pintu, ia berbalik dan langsung menampar Soni Wijaya yang berada di belakangnya.

"Soni Wijaya, berapa banyak lagi masalah yang mau kamu timbulkan untuk keluarga!"

Lima bekas jari langsung tercetak di pipi Soni Wijaya. Ia mengangkat kepala menatap Ratna Limbong, sorot matanya semakin dingin.

"Nyonya Wijaya, saya sudah lama diusir dari keluarga Wijaya. Hidup dan mati saya, apa urusannya dengan keluarga Wijaya!"

"Kamu!" Ratna Limbong gemetar karena marah, raut wajahnya seolah ingin sekali mencekik Soni Wijaya.

Soni Wijaya tersenyum sinis. Lima tahun yang lalu, keluarga Wijaya telah mengusirnya. Sejak saat mereka lebih memilih untuk percaya pada Sarah Wijaya, Soni Wijaya sudah bukan lagi putri mereka.

"Soni Wijaya, tidakkah kamu merasa bersalah mengatakan itu? Siapa saya? Saya ibumu! Kamu melakukan hal memalukan seperti ini, membuat seisi rumah kacau balau. Kamu tahu tidak, kamu membuat seluruh keluarga Wijaya malu di Jakarta! Dan sampai sekarang kamu bahkan tidak tahu cara bertobat. Kamu benar-benar membuatku kecewa!"

Inilah ibu kandungnya. Bertahun-tahun tidak pernah peduli, dan begitu datang, langsung memberinya tamparan. Dia percaya pada omongan orang lain, tapi tidak pernah sekalipun percaya pada putrinya sendiri.

Mengingat semua itu, Soni Wijaya tersenyum mengejek.

"Kalau saya memang begitu memalukan bagi keluarga Wijaya, kenapa Anda repot-repot mengurusi saya? Apa Nyonya Wijaya lupa kalau saya sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga Wijaya? Mulai sekarang, urusan saya tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Wijaya. Dan tolong, Nyonya Wijaya juga tahu diri, jangan muncul di hadapan saya, dan jangan ikut campur urusan saya dengan mengatasnamakan orang tua!"

Setelah berkata demikian, Soni Wijaya langsung mengambil tasnya dari kelas dan pergi.

Melihat siluet keras kepala itu, Ratna Limbong geram bukan main. "Kakekmu sudah pulang ke Indonesia dan sekarang sakit keras! Dia menyebut namamu dan ingin bertemu denganmu! Kalau tidak, kamu pikir kenapa aku datang ke sini!"

Langkah Soni Wijaya terhenti. Jika masih ada seseorang yang ia pedulikan di keluarga Wijaya, itu hanyalah Kakek Wijaya.

Kakeknya pulang dan sakit parah, Soni Wijaya tidak mungkin tinggal diam.

"Aku akan pulang sendiri, tidak perlu merepotkan Nyonya Wijaya!"


Di sisi lain, Aryo Fauzan juga segera menerima kabar tentang Soni Wijaya.

"Pak Fauzan, Nona Soni Wijaya dikeluarkan dari sekolah."

Hendra Prasetya juga menyampaikan informasi lain yang ia temukan. "Nona Soni Wijaya ini adalah putri bungsu keluarga Wijaya di Jakarta yang diusir dari rumah!"

Jakarta, keluarga Wijaya?

"Adik kandung Rizky Wijaya?"

Di Jakarta, keluarga Wijaya memang cukup dikenal, meskipun belum bisa masuk ke dalam lingkaran elite papan atas. Tapi nama Rizky Wijaya pernah ia dengar.

"Betul, Pak. Adiknya. Kudengar kasus yang menimpa Nona Soni Wijaya waktu itu cukup heboh. Katanya waktu SMP, dia tinggal bersama dengan seorang preman dan sempat aborsi..."

Aryo Fauzan tersenyum dingin. "Katanya? Sejak kapan kabar burung bisa jadi bukti?"

Terlepas dari berapa usia Soni Wijaya saat SMP, membayangkan gadis dengan kepribadian sedingin itu tinggal bersama preman dan melakukan aborsi, itu benar-benar omong kosong.

Tapi omong kosong seperti itu ternyata ada yang percaya. Hendra Prasetya pun hanya bisa mengernyitkan dahi.

"Kabar itu disebarkan oleh kakaknya sendiri, Sarah Wijaya."

"Sarah Wijaya?" Aryo Fauzan semakin asing dengan nama itu. Lagi pula, tidak banyak orang yang namanya bisa ia ingat.

"Pak Fauzan, apa Anda mau ikut campur dalam urusan Nona Wijaya?"

Aryo Fauzan menunduk sejenak, berpikir, lalu berkata, "Gadis kecil ini cukup menarik. Jemput dia, mungkin suatu saat kita akan membutuhkannya."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya