PASAL 209

Thorn terdiam cukup lama. Saat akhirnya bicara, suaranya berat. Seolah membawa beban masa lalu.

“Katakan saja aku punya alasanku sendiri.” Rahangnya mengeras. “Alasan pribadi. Itu saja yang perlu kamu tahu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu satu-satunya yang bakal kamu dapat.” Tatapannya mengunci mataku...

Masuk dan lanjutkan membaca