PASAL 232

Dia tidak langsung menjawab. Hanya menahan tatapanku dengan mata itu—dingin, penuh hitung-hitungan. Meneliti aku seperti teka-teki yang harus dia pecahkan. Lalu dia bicara. Suaranya terukur. Hati-hati. Seakan tiap kata dipilih dengan presisi.

“Justru sebaliknya, High Fang. Aku ingin memuji ketegasa...

Masuk dan lanjutkan membaca