PASAL 3

POV Elsie

Aku berputar cepat, amarah dan rasa dikhianati mendidih di dada.

Niatku bulat untuk menepati ancamanku. Aku sudah tidak peduli lagi soal konsekuensinya.

Kebohongan. Perselingkuhan. Pembunuhan. Aku selesai—selesai melindungi dia.

Aku melangkah menggebrak menyusuri lorong, cepat dan mantap. Di belakang, aku masih mendengar suara Adira yang panik membentak Lucas.

“Apa-apaan kamu! Kamu mau berdiri aja dan biarin dia ngancurin semua yang udah kamu bangun?”

Aku hampir sampai di pintu ketika tiba-tiba kurasakan—cekikan mendadak, keras seperti catok, melingkar di leherku.

Napasku tersentak.

Jari-jari mencengkeram kuat, memutus udara. Kakiku terangkat dari lantai.

Refleks aku mencakar tangan itu, panik menerjang saat aku berusaha menoleh untuk melihat siapa yang berani—

Lucas.

Wajahnya dingin membatu; mata hijaunya yang dulu hangat seperti rimbun hutan, kini beku, kosong, tak berperasaan.

Di belakangnya, Adira berdiri dengan senyum miring yang menjijikkan, tangan menyilang di dada seolah dia sudah menang.

“Lakukan!” bentaknya. “Habisi. Dia sekarang ancaman. Cuma kalau dia mati kamu bisa lanjut jadi Alpha.”

Aku menatap Lucas dengan mata membelalak, jantung menghantam rusukku sekeras-kerasnya.

Rahangnya mengeras. Matanya sempat berkedip—seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang berperang dengan apa yang sedang dia lakukan.

Tapi lalu dia mengatupkan gigi dan menekan lebih kencang.

Aku meronta, kuku menancap di pergelangan tangannya. Paru-paruku menjerit minta udara. Pinggir penglihatanku mulai kabur.

Lucas. Lelaki yang pernah kucintai. Lelaki yang dulu mencium keningku tiap pagi saat udara dingin. Yang menggenggam tanganku melewati setiap kegagalan kami untuk punya anak.

Dan sekarang… ini.

Aku mencoba bicara, mencoba menjerit—mau bilang kalau aku mengandung anak-anaknya. Anak-anak kami.

Mungkin… kalau dia tahu aku tidak mandul, kalau dia sadar dia akhirnya akan punya bukan satu pewaris, tapi dua… mungkin, mungkin saja dia akan kembali jadi Lucas yang kukenal dan kucintai.

Aku memaksa kata-kata itu keluar, tapi tak ada yang bisa lolos.

Semua tersangkut di lidahku, terkunci di balik tekanan yang menghancurkan tenggorokanku.

Aku megap-megap—sekali, dua kali—sunyi, putus asa.

Aku ingin melawan. Aku ingin hidup.

Tapi ruangan terasa miring. Anggotaku makin berat. Tekanan di kepalaku menumpuk sampai tak tertahankan.

Lalu—semuanya jadi gelap.

—--

Setelah terasa seperti waktu yang tak ada ujungnya, kesadaranku kembali pelan-pelan. Kepalaku berdenyut sakit. Tenggorokanku perih, kering, dan bibirku tak bisa bergerak.

Ada sesuatu menutup mulutku.

Lakban.

Dan mataku—gelap. Bukan gelap karena tertutup kelopak, tapi karena sesuatu yang ketat dan kasar menekan di atasnya.

Penutup mata.

Aku menggeser tubuh sedikit dan merasakan dingin logam menggigit pergelangan tangan dan pergelangan kakiku.

Rantai.

Panik menyentak di dada, tajam dan mendadak, tapi aku memaksa diri bernapas. Tarik lewat hidung. Hembuskan pelan. Aku harus berpikir. Aku harus tetap tenang.

Aku di mana?

Aku menajamkan pendengaran—desir daun, panggilan burung dari jauh, bunyi langkah yang menginjak tanah dan ranting.

Seseorang sedang membawaku.

Aku menggeliat, naluri mengambil alih. Tubuhku menendang-nendang, logam beradu berkerincing, jantungku berlari. Aku mencoba berteriak, tapi lakban menelan suaraku, menjadikannya erangan lemah yang menyedihkan.

Sebuah tamparan keras mendarat di punggungku.

“Diam,” desis Adira dekat telingaku, suaranya meneteskan racun. “Atau aku bikin kamu nyesel pernah lahir.”

Aku membeku.

Aku sudah tidak mengenalnya lagi. Dia bukan kakakku lagi. Suaranya terdengar seperti sesuatu yang bengkok.

Busuk.

Tapi aku tidak bisa berhenti melawan. Aku menggeliat lebih keras, tubuhku nyeri tiap bergerak, dan rantai itu mengiris kulitku lebih dalam. Aku mencoba menjerit lagi, lebih kencang, meski yang keluar hanya suara serak yang kacau.

Lalu—

Aku dilempar.

Tubuhku menghantam tanah dengan keras. Tanah kasar dan ranting berserakan menggores kulitku. Daun-daun berderak di bawahku. Udara di sini berbeda—terbuka, lembap, berbau kayu basah dan lumut.

Hutan?

Aku memaksa tubuhku miring, gemetar.

Tiba-tiba penutup mataku disobek lepas dan cahaya menerjang mataku. Aku berkedip-kedip, pening, berusaha menyesuaikan penglihatan pada sinar pucat rembulan yang menyelimuti sebuah lapangan kecil di antara pepohonan.

Malam.

Aku berada di tengah hutan. Tapi bukan hutan yang kukenal. Tidak ada yang terasa akrab di sini.

Napas tersangkut saat aku menatap ke depan.

Adira berdiri beberapa langkah dariku, matanya berkilat dengan sesuatu yang kejam. Dan di sebelahnya, Lucas. Lengannya bersedekap, tubuhnya kaku, wajahnya kosong seperti batu.

Tak berperasaan.

Dadaku seakan kehilangan udara.

“Lucas,” bisikku, suaraku pecah dan sakit, “gimana kamu bisa ngelakuin ini?” Aku mencoba berdiri, tapi rantai di pergelangan kakiku menegang, menarikku jatuh lagi.

Dia bahkan tidak berkedip.

“Aku percaya sama kamu,” suaraku tercekat. “Kamu harusnya jagain aku. A-aku sayang kamu. Gimana kamu bisa ngebiarin dia ngelakuin ini ke aku?”

Matanya bertemu dengan mataku.

Dingin.

Jauh.

Seolah aku orang asing. Seolah aku tak pernah jadi segalanya buat dia.

“Aku rela ngelakuin apa pun buat kamu,” bisikku, air mata perih di pelupuk. “Apa itu sama sekali nggak berarti buat kamu?”

Tetap saja, tak ada apa-apa.

Hatiku pecah, pelan dan senyap, seperti kaca yang remuk diinjak.

Lalu Adira melangkah maju, wajahnya terpilin puas.

“Akhirnya,” katanya, suaranya berlapis kegirangan, “kamu lihat juga kebenarannya.”

Aku menatap dia, linglung. “Kenapa?” tanyaku. “Kenapa kamu ngelakuin ini? Kamu adikku.”

Bibirnya melengkung, mengejek.

“Karena aku adikmu,” semburnya. “Kamu selalu jadi yang paling disayang. Yang paling dijaga. Yang paling cantik. Yang semua orang datangi, dengerin, cintai. Terus aku?” Suaranya retak. “Aku cuma bayangan yang nggak pernah kamu lihat.”

Aku menggeleng, air mata sekarang tumpah tanpa bisa kutahan. “Itu nggak bener, Adira. Aku selalu—”

“Jangan,” bentaknya, suaranya gemetar. “Jangan pura-pura kamu peduli. Kamu hidup dengan hidupmu yang sempurna, nggak sadar aku harus berantem setengah mati cuma supaya dianggap ada.”

Aku ingin meraih dia. Meraih Lucas. Aku ingin percaya ini cuma mimpi buruk yang bengkok—mimpi yang bisa bikin aku bangun.

Adira mendekat, lalu berjongkok di dekat wajahku.

“Kamu mau lari ke dewan,” bisiknya gelap. “Kamu mau ngerusak semuanya.”

“Kamu nggak ninggalin aku pilihan,” bisikku balik.

Adira berdiri lagi, menepuk-nepuk lengan bajunya seolah ada debu tak terlihat.

“Sebenernya, kamu masih bisa dibiarkan hidup. Tapi mulutmu yang gede itu nggak bisa diam.”

Aku menoleh ke Lucas lagi, berharap—memohon—ada sesuatu di wajahnya yang berubah. Ada secuil laki-laki yang kukenal muncul lagi.

Dia cuma memalingkan wajah.

“Jadi sekarang,” kata Adira, tegas tanpa ragu, “kamu mati. Malam ini.”

Seluruh tubuhku gemetar.

Malam memang dingin, tapi rasa takut yang menancap di dalamku jauh lebih dingin. Ia mencakar dadaku, menyebar seperti embun beku.

Adira menatap Lucas, matanya berkilat penuh kemenangan.

“Lakuin,” katanya lembut, nyaris manis. “Akhiri. Sekalian.”

Lucas bergerak.

Aku tersentak saat dia melangkah mendekat. Tangannya mencengkeram lengan atasku, keras dan tak kenal ampun, menarikku berdiri. Aku tersandung, limbung, rantai di tubuhku berderak mengikuti gerakan.

Lalu aku melihatnya.

Kilau baja di tangannya.

Itu... pistol?!

“Tidak…” helaku, hampir tak terdengar. “Lucas, jangan…”

Dia tidak bicara. Dia hanya mengangkatnya dan mengarahkan laras ke dahiku. Moncongnya berkilat disiram cahaya bulan, terlalu dekat. Terlalu nyata.

Aku ingin lari. Tubuhku menjerit menyuruhku berbalik, kabur ke hutan—tapi saat aku mundur satu langkah goyah, aku merasakannya.

Kosong.

Kakiku menginjak udara.

Aku berdiri tepat di tepi jurang.

Angin mengaum dari bawah, pekiknya naik menabrak dadaku. Aku membeku, jantungku menghantam seperti genderang perang. Satu langkah lagi, aku jatuh. Satu detik lagi, aku mati—apa pun pilihannya.

Dan pistol itu tetap tak turun.

Air mata mengalir deras di pipiku. “Lucas,” aku terisak, suaraku pecah, “tolong… ini aku.”

Aku nyaris tak bisa bernapas. Tak pernah, bahkan dalam mimpi terburukku, aku membayangkan dunia di mana dialah yang berdiri di depanku seperti ini.

Suara Adira menyayat momen itu seperti bilah pisau. “Ada kata-kata terakhir, Kak?”

Pikiranku berlari. Aku teringat pagi tadi—saat aku menekan telapak ke perutku di klinik, tersenyum di balik air mata bahagia ketika dokter bicara tentang dua bayi yang tumbuh di dalamku.

Aku menatap Lucas, bibirku bergetar. “Aku mau bilang,” bisikku. “Hari ini. Kamu bakal jadi ayah.”

Mata Lucas membesar, tapi topeng dinginnya kembali menutup, pistolnya masih terarah ke kepalaku.

Adira mendengus. “Menyedihkan. Di ambang mati masih sempat-sempatnya bohong. Nggak punya malu.”

Aku mengembuskan napas, lalu mendongak ke bulan purnama, terang dan luas di atas pucuk-pucuk pohon. Dan pada saat itu, ada sesuatu di dalam diriku mengeras.

Aku mengangkat suara, mantap meski air mata tetap turun.

“Demi Dewi Bulan, dan demi nyawa-nyawa di dalamku, aku bersumpah—ini bukan akhir. Aku bersumpah akan menuntut balas. Buat mereka. Buat aku. Aku akan—”

Dor.

Dunia pecah berkeping.

Rasa sakit meledak di kepalaku—terang, panas membakar.

Tanah lenyap dari bawah kakiku.

Aku jatuh.

Hal terakhir yang kulihat adalah bulan, bersinar begitu indah di atas sana, tak tersentuh oleh semua kekejaman ini.

Dan di helaan napas sebelum gelap mengambilku, aku membisikkan doa:

“Tolong... kasih aku kesempatan kedua.”

Lalu semuanya hitam.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya