Bab 41

Aku memaksakan diri untuk menemukan suaraku, meskipun nyaris hanya bisikan. "Apakah aku benar-benar lebih dari sekadar mainan untukmu?"

Matanya menggelap. Dia mengangguk. "Kamu tidak pernah hanya itu." Suaranya tegas. Pasti. "Tidak pernah."

Aku menarik napas perlahan, menenangkan diri. Masih merasa ...

Masuk dan lanjutkan membaca