Bab [2] Pesta Ulang Tahun
“Nathan, kudengar kamu hilang ingatan?” raut wajah Anna Lim tampak begitu terluka. Ia masih tidak percaya, bagaimana mungkin seseorang yang begitu mencintainya bisa begitu saja melupakannya?
“Aku peringatkan kamu! Jangan ikut campur urusan pribadiku! Kamu tidak punya hak!”
Nathan Farid melontarkan kalimat itu dengan dingin, lalu pergi dengan amarah yang tertahan.
Meninggalkan Anna Lim yang hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri.
Steven Santoso menghampirinya, memanggil dengan lembut, “Anna.”
Anna Lim menoleh. Steven Santoso, sahabat Nathan Farid sejak kecil, teman mereka berdua.
“Anna, mau sarapan bareng?” tanya Steven, matanya penuh dengan kekhawatiran.
Ia baru saja mendengar semua ucapan kasar yang dilontarkan Nathan pada Anna.
Anna pasti sangat sedih sekarang.
“Steven, terima kasih. Aku sudah sarapan. Aku mau ke kelas dulu.”
Anna Lim berbalik hendak pergi.
Steven Santoso segera maju selangkah dan menahan lengannya.
“Anna, Sabtu depan aku ulang tahun. Aku sudah pesan ruangan di klub, kamu... mau datang?”
Melihat Anna Lim tidak menjawab, Steven menambahkan, “Ada teman-teman yang lain juga, kok.”
Steven dan Nathan adalah sahabat karib. Ulang tahun Steven, Nathan pasti akan datang.
Maka, Anna Lim pun menjawab, “Aku akan datang.”
Bertahun-tahun setelahnya, setelah mengalami begitu banyak perubahan dan kehilangan orang-orang yang paling ia sayangi satu per satu, Anna Lim tak terhitung berapa kali menyesali keputusannya hari itu. Seandainya saja ia tidak datang, alangkah baiknya.
Tapi, di dunia ini mana ada begitu banyak kata seandainya.
Malam Sabtu itu, Anna Lim berdandan dengan sangat teliti. Ia memoleskan riasan tipis di depan cermin.
Wajahnya memang sudah terlahir sangat cantik, sosok yang mustahil diabaikan di tengah keramaian. Sedikit polesan saja sudah cukup untuk membuatnya tampak memukau.
Dengan sepasang sepatu hak tinggi yang ramping, ia mendorong pintu ruang privat di klub itu dan pandangannya langsung tertuju pada Nathan Farid.
Dan juga pada Melati Kusuma yang duduk di sampingnya.
Ada banyak wajah familier lainnya di sana.
Yoga Yanto, sepupu Melati, begitu melihat Anna Lim masuk, langsung menenggak habis minuman di gelasnya. Ia membanting gelas itu ke meja dengan keras, lalu berjalan menghampiri Anna.
Mata sipitnya menyipit, ia mendekatkan wajahnya pada Anna, dan menyeringai sinis. “Tempat macam apa ini? Kok kucing dan anjing liar bisa dibiarkan masuk?”
Anna Lim sedikit menggeser tubuhnya ke samping. Pria ini terasa seperti ular licin yang membuatnya sangat tidak nyaman.
Steven Santoso meletakkan gelasnya dan segera menyambut Anna. “Anna, kamu datang juga. Terima kasih, ya.”
Ia lalu menarik Yoga Yanto menjauh.
Anna memaksakan seulas senyum. “Steven, selamat ulang tahun!”
Ia masih belum tahu bagaimana harus memulai percakapan dengan Nathan. Semua kalimat yang sudah ia siapkan di perjalanan buyar seketika begitu melihat Melati.
Ruangan itu dipenuhi oleh teman-teman dan sahabat kecil Nathan.
Dulu, mereka juga teman-teman dan sahabat kecilnya.
Karena ia dan Nathan bisa dibilang tumbuh besar bersama.
Namun, dalam dua tahun ketidakhadirannya, Melati perlahan telah menggantikan posisinya, duduk di samping Nathan.
Dan semua teman itu, kini telah menjadi teman Melati.
Tentu saja, di antara mereka, tidak termasuk Yoga Yanto.
Tiba-tiba Anna merasa sesak napas. Ia meraih gelas minuman di dekatnya dan menenggaknya dalam sekali teguk.
Terdengar pekikan pelan dari sudut ruangan.
Anna menatap lekat-lekat ke arah Nathan Farid.
Melati Kusuma bangkit berdiri. “Aku permisi dulu, ya. Besok pagi masih ada urusan.”
Yoga Yanto memanggilnya, “Mbak, tunggu dulu! Yang seharusnya pergi itu bukan kamu!”
Nathan baru saja hendak bangkit untuk mengejar Melati, tapi lengannya ditahan oleh Anna.
Dengan dorongan alkohol yang mulai naik ke kepala, Anna menarik lengan Nathan. “Ikut aku keluar.”
Entah dari mana datangnya kekuatan sebesar itu, ia menyeret Nathan keluar dari ruangan.
Nathan, yang juga sempat menenggak segelas minuman sebelum keluar, kini matanya memerah. Ia menatap tajam pada Anna yang menyudutkannya ke dinding.
“Anna Lim, kamu bikin Melati pergi lagi! Apa kamu sesenang itu melihatku menderita?”
Anna menatap mulut Nathan yang membuka dan menutup, dan tiba-tiba dunia terasa berputar.
Biasanya toleransi alkoholnya tidak serendah ini, tapi sekarang kepalanya terasa pening luar biasa.
Seluruh tubuhnya terasa panas, seolah sangat ingin mencari tempat yang sejuk.
Namun di bagian lain tubuhnya, muncul hasrat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Membuatnya merasa takut sekaligus malu.
Ia berjinjit, melingkarkan lengannya ke bahu Nathan, mengait lehernya, dan menempelkan wajahnya.
Melihat tingkahnya yang seperti itu, Nathan mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka di belakangnya, merengkuh Anna, dan mendorongnya masuk ke dalam.
Di dalam kamar, Nathan menghempaskan Anna ke atas tempat tidur.
Suara Anna bergetar. “Nathan, aku panas.”
Nathan melepas jaketnya dan melemparnya sembarangan. “Anna Lim, ini trik barumu? Memberiku obat lalu meniduriku? Murahan sekali kamu! Karena kamu sudah tidak tahu malu, baiklah, akan kuladeni permainanmu!”
Nathan menarik dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke samping.
Saat napas berat Nathan menerpa wajahnya, Anna sudah kehilangan kemampuan untuk berpikir.
Tenggorokannya kering kerontang, dan api di dalam tubuhnya berkobar hebat, seolah akan menelannya hidup-hidup.
Meskipun otaknya sudah tumpul, ia tahu dengan jelas: ia telah diberi obat.
Jenis obat yang membuat orang kehilangan akal sehat dan rasa malu.
Dan dari reaksi Nathan, sepertinya bukan hanya dirinya yang diberi obat, tapi juga Nathan.
Alkohol saja tidak akan menimbulkan reaksi seperti ini.
Lagi pula, sejak sadar dari kecelakaan, Nathan selalu menghindarinya seperti melihat ular berbisa. Tidak mungkin ia mau menyentuhnya dengan sukarela.
Berbeda sekali dengan sekarang, di mana tubuh Nathan yang besar dan penuh kekuatan menindih tubuh mungil Anna.
Perbedaan kekuatan mereka begitu kentara.
Anna merasakan keputusasaan dan ketidakberdayaan yang mendalam.
Kepalanya serasa mau meledak.
Seluruh tubuhnya pun terasa akan meledak.
Keringat dingin telah membasahi poninya dan meresap ke pakaian dalamnya.
Namun, suhu tubuhnya yang terlalu tinggi segera mengeringkannya kembali.
Tubuhnya terasa panas membara, tapi hatinya sedingin es.
Menghadapi kedekatan dan kekasaran Nathan, ia teringat akan mimpi buruk bernama Desa Rahmanto. Teringat akan ruang bawah tanah yang gelap dan lembap. Teringat noda-noda darah kering yang menghitam di dinding. Suara cambukan yang mengenai kulit. Suara rantai yang diseret di lantai. Suara rintihan. Permohonan ampun. Makian...
Anna menjerit.
Meskipun ia mencintai Nathan, mereka berdua belum pernah melangkah lebih jauh.
Dulu, bahkan saat gairah memuncak, ketika Nathan menciumnya hingga mabuk kepayang dan ingin melangkah lebih jauh, Anna akan selalu mendorongnya menjauh.
Setelah itu, Nathan akan terus-menerus meminta maaf.
“Maaf, Anna, aku tidak akan pernah memaksamu. Aku akan menunggu, sampai kamu melupakan semua masa lalu yang mengerikan itu, sampai suatu hari nanti kamu benar-benar menerimaku seutuhnya. Biarkan aku benar-benar menjadi milikmu.”
Sekarang, napas mereka berdua sama-sama berat, dengan sudut mata yang memerah.
Rasa panas yang membakar di perut bagian bawahnya seolah akan menghanguskannya.
Tubuhnya sangat ingin mencari pelampiasan hasrat.
Karena sentuhan Nathan, dari mulutnya tanpa sadar keluar desahan yang membuatnya sangat malu.
Desahan itu justru semakin memancing gairah di tubuhnya.
Dalam benaknya, ia ingin segera lari dari tempat ini.
Nathan sudah kembali menindihnya.
Matanya dipenuhi nafsu yang tak terbantahkan, dan juga penghinaan.
“Anna Lim, jadi ini yang kamu mau? Bilang saja dari awal, akan kuberikan. Untuk apa berpura-pura jual mahal?”
Tatapannya kejam dan tanpa perasaan. Ia menanggalkan jaket putih Anna.
“Nathan, bukan seperti ini...” Anna menangis sambil menarik lengan bajunya, berusaha menghentikan tindakan selanjutnya.
Nathan menepis tangannya dengan kasar, merobek kancing kemejanya, dan menarik pakaian itu hingga lepas.
Anna memeluk lengannya yang telanjang, menangis memohon padanya.
“Nathan, aku tidak melakukannya, ini bukan mauku, jangan begini...”
“Jangan begini? Begini bagaimana? Setiap hari kamu berpura-pura anggun menemuiku, sengaja membuat Melati marah padaku, tapi ternyata di belakang kamu semesum ini?”
Dengan kasar ia mengangkat salah satu kaki Anna dan merobek roknya.
Padahal dulu mereka adalah dua orang yang begitu saling mencintai, tapi kini Nathan bisa mengucapkan kata-kata sekejam itu.
“Anna Lim, aku tidak tahu kalau kamu semurahan ini! Benar kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Hanya ayahmu yang seorang pemerkosa itu yang bisa melahirkan anak rendahan sepertimu! Kamu bahkan tidak sebanding dengan sehelai rambut Melati! Muka tembok macam apa yang kamu punya sampai berani muncul di hadapanku setiap hari? Hanya membuat Melati tidak nyaman!”
SRAAK! Kain terakhir yang menutupi tubuh bagian atasnya dirobek oleh Nathan.
Anna sudah tidak tahu berapa banyak air mata yang telah ia keluarkan. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong Nathan.
Namun, Nathan justru mengira ia sedang jual mahal tapi mau.
Ia membuka paksa kedua kaki Anna dan menciumnya dengan kasar.
Anna mendorongnya dengan sekuat tenaga.
“Nathan! Jangan sampai kamu menyesal!”
Anna akhirnya berhasil mendorong Nathan hingga jatuh ke lantai.
Kepala Nathan tiba-tiba sakit luar biasa, serpihan-serpihan ingatan seolah mendobrak keluar dari dalam tanah.
Bunga mawar bulan Mei bermekaran, udara dipenuhi aroma manis.
Seorang gadis tersenyum sambil mendorongnya ke dinding, lalu menciumnya dengan lembut.
“Nathan...”
Ia memegangi kepalanya. Siapa yang memanggilnya?
Dorongan Anna tadi telah menguras seluruh tenaganya.
Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia memanggil Nathan, “Lepaskan aku...”
Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu yang keras dari luar.
Yoga Yanto datang bersama beberapa orang.
Ia berteriak dari luar pintu, “Mas Nathan! Kamu di dalam? Mas Nathan! Kamu tidak apa-apa?”
Lalu sekelompok orang mendobrak masuk.
Yoga Yanto, seolah sudah mempersiapkan segalanya, mengangkat ponselnya dan cekrek, cekrek, mengambil beberapa foto Anna.
Steven Santoso adalah yang pertama bereaksi. Ia segera melepas jaketnya dan menutupi tubuh Anna yang kebingungan.
Ia berbalik dan menampar ponsel Yoga Yanto hingga jatuh.
“Yoga! Apa yang kamu lakukan! Hapus!”
Yoga Yanto memungut ponselnya, menatap Anna dengan tatapan licik.
“Teriak-teriak buat apa, sih. Dihapus, ya dihapus.”
Yoga Yanto membantu Nathan yang tergeletak di lantai untuk berdiri, melirik Anna dengan tatapan penuh arti, lalu pergi begitu saja.
