Bab [4] Kamu Benar-Benar Membuatku Mual

Perjanjian perceraian ini memang bukan yang dia siapkan. Padahal, dia sudah meninggalkan uang yang lebih dari cukup untuk Anna Lim, yang bisa menjamin hidupnya tanpa perlu khawatir soal materi sampai tua.

Terdengar suara orang berbisik di sekitar. "Anna Lim pergi tanpa harta sepeser pun? Mobil, rumah, saham, semua dia lepas? Bahkan mau ganti biaya pengobatan selama dua tahun? Serius nih? Jangan-jangan ini cuma strategi pura-pura mundur untuk maju lagi?"

"Kelihatan banget lagi main trik licik. Paling beberapa hari lagi juga balik ngejar-ngejar Kak Nathan!"

Dulu, Nathan Farid selalu merasa kehadiran Anna Lim adalah penghalang bagi Melati untuk bisa benar-benar menerimanya. Setiap hari dia memikirkan cara untuk lepas sepenuhnya dari Anna. Selembar surat nikah itu tidak lebih dari belenggu yang mengikatnya. Dan Anna, adalah batu sandungan di jalannya menuju kebahagiaan.

Namun, saat ini menatap surat perjanjian cerai di tangannya, Nathan justru tidak merasakan kelegaan yang dia harapkan.

Tepat pada saat itu, ponselnya berdering. Panggilan dari Melati Kusuma. Nathan melirik layar ponselnya dan langsung tersenyum. Sambil menerima panggilan itu, dia mendorong pintu. "Imut!"

Melati Kusuma yang sedang berdiri di lobi, kebetulan melihat Anna Lim. Dengan sikap tenang, dia maju untuk menyapa, "Kak Lim, soal insiden obat perangsang waktu itu sudah ada titik terang? Seharusnya Kakak lapor polisi."

Anna Lim tersenyum kepadanya. "Terima kasih kamu sudah mau percaya padaku. Aku sudah lapor polisi, kok. Nona Kusuma, aku doakan kamu dan Nathan langgeng sampai tua."

Nathan tidak percaya kepadanya, tetapi Melati percaya. Tak peduli ucapan itu tulus atau tidak.

Melati bertanya dengan sedikit cemas, "Apa Kak Nathan sudah ingat semuanya?"

Anna menggeleng. "Aku tidak tahu. Surat cerainya sudah aku kasih ke dia. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya."

Sebelum Melati sempat menjawab, Nathan tiba-tiba muncul dan langsung menarik Melati ke sisinya.

Nathan tidak ingin mereka berdua bertemu. Dia takut Anna akan mengungkit masalah obat perangsang dan upaya merayunya di ranjang kepada Melati.

Dia merangkul Melati dan membawanya menuju ruang privat. "Imut, kita masuk dulu, yuk!"

Namun, Melati mundur selangkah sambil tersenyum. "Kak Nathan, aku masih ada urusan lain, nggak bisa nemenin kalian. Selamat ulang tahun, ya!"

Nathan maju dan dengan lembut memegang pergelangan tangan Melati. Sambil mengerutkan kening, dia memohon dengan suara rendah, "Imut, sepenting apa pun urusanmu, nggak bisakah ditunda besok saja? Hari ini ulang tahunku, lho. Tolong, temani aku di sini, ya?"

Nadanya terdengar seolah-olah dia sedang sangat bersedih.

Merasa sudah tidak ada urusannya lagi di sana, Anna Lim pun berbalik untuk pergi.

Melati meliriknya sekilas, lalu kembali menatap Nathan . "Maaf, Kak Nathan, aku benar-benar ada urusan penting. Aku tetap pada pendirianku. Nanti, kalau ingatanmu sudah pulih dan perasaanmu padaku masih sama seperti hari ini, aku pasti akan bersamamu sepenuh hati. Aku tidak mau kamu menyesal di kemudian hari dan malah menyalahkanku."

Mendengar itu, amarah Nathan langsung tersulut. Dia mengerutkan kening dan bertanya tajam, "Anna Lim bicara omong kosong apa sama kamu?"

Urat di dahi Nathan menonjol. Tanpa menunggu jawaban Melati, dia melangkah maju, mencengkeram lengan Anna Lim, dan menariknya hingga tubuh perempuan itu terhuyung.

Lalu dia mendorong Anna dengan kasar. "Anna Lim! Kamu ngomong apa saja ke Melati?! Kamu benar-benar bikin aku muak!"

"Kak Lim!" pekik Melati kaget.

Dorongan keras Nathan membuat Anna yang sama sekali tidak siap, terbentur pilar marmer di lobi kelab malam itu.

Anna langsung terduduk lemas di lantai dengan darah segar mengalir dari dahinya.

Pada saat yang sama, Steven Santoso yang baru saja keluar, melihat kejadian itu. Dia segera berlari menghampiri dan mencoba membantu Anna berdiri.

Melihat darah di dahi Anna, Steven menoleh dan berteriak kepada Nathan , "Nathan , kamu gila, ya?!"

Steven membantu Anna untuk bersandar dengan baik, lalu berkata kepadanya, "Anna, aku antar kamu ke rumah sakit!"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya